EKSPOSKALTIM, Samarinda— Persoalan air baku Samarinda belum sepenuhnya lepas dari tekanan kemarau. Intrusi air laut yang telah berlangsung sejak periode kering masih menjadi salah satu kondisi yang terus dipantau Perumda Tirta Kencana Samarinda, bahkan ketika hujan mulai turun di sejumlah kawasan.
Situasi tersebut membuat pengelolaan air baku tidak cukup hanya mengandalkan kondisi cuaca. Perumda Tirta Kencana menyiapkan sejumlah skenario untuk menjaga pasokan kepada masyarakat, mulai dari mempertahankan produksi dalam kondisi normal, mengurangi produksi, hingga membatasi penggunaan air apabila intrusi air laut berada pada tingkat yang tinggi.
Dewan Pengawas Perumda Tirta Kencana Samarinda, Marnabas Patiroy, mengatakan langkah tersebut disiapkan sebagai bentuk antisipasi terhadap dinamika kualitas air baku yang masih dipengaruhi kondisi kemarau dan intrusi air laut.
“Kita ada sejumlah plan. Plan A itu kan normal. Plan B kita mengurangi produksi. Yang ketiga, kita akan jalankan dengan catatan tidak boleh konsumsi untuk minum,” kata Marnabas kepada EksposKaltim, Kamis (8/10).
Marnabas mengatakan kondisi intrusi akan terus dipantau untuk menentukan langkah yang harus diambil. Jika pengaruh air laut kembali mencapai intake tertentu, masyarakat akan mendapatkan informasi mengenai kondisi air dan penggunaannya.
“Kita akan beritahukan kepada masyarakat juga bahwa kondisi sekarang di Bantuas dan Kalhol misalnya, nanti kalau sudah masuk ke intake Cendana lagi kita akan beritahu,” ujarnya.
Bukan Penghentian Total, Penggunaan Bisa Dibatasi
Dalam skenario ketika intrusi air laut tinggi, air yang tetap tersedia tidak serta-merta berarti seluruh kebutuhan masyarakat berhenti. Tirta Kencana menyiapkan kemungkinan agar air tetap dapat digunakan untuk kebutuhan domestik, khususnya mandi, mencuci dan kakus, dengan larangan untuk konsumsi.
Untuk memastikan informasi tersebut sampai ke masyarakat, koordinasi telah dilakukan dengan pemerintah di tingkat kecamatan dan kelurahan. Informasi selanjutnya akan diteruskan hingga tingkat RT.
Menurut Marnabas, kebutuhan air masyarakat tidak hanya untuk minum. Karena itu, apabila kondisi intrusi berada pada tingkat yang tidak memungkinkan air digunakan untuk konsumsi, pemanfaatan untuk kebutuhan MCK (Mandi, Cuci, Kakus) masih menjadi salah satu opsi.
“Tapi jangan dipakai untuk dikonsumsi karena ketika intrusi air lautnya itu tinggi,” katanya.
Tekanan terhadap air baku juga mendorong Tirta Kencana mencari sumber pasokan alternatif. Salah satunya dengan menggandeng perusahaan maupun masyarakat yang memiliki truk dan mobil tangki untuk membantu distribusi air.
Namun, pola distribusi dirancang melalui titik-titik komunal agar pelayanan tidak terfragmentasi dan dapat menjangkau lebih banyak warga.
Fasilitas umum lainnya akan dimanfaatkan sebagai titik distribusi lantaran dinilai memiliki banyak keran. Dengan pola tersebut, masyarakat dapat mengambil air secara langsung dari lokasi yang telah ditentukan.
“Soalnya kalau kami harus melayani satu-satu, itu tidak bakal terselesaikan,” sambung Marnabas.
Hujan yang turun beberapa hari terakhir memberikan dampak positif terhadap kondisi intrusi. Marnabas menyebut masuknya air hujan dapat membantu mengurangi pengaruh air laut terhadap sumber air baku.
“Alhamdulillah beberapa hari yang lalu kan terjadi hujan, sehingga intrusi air laut itu akan berkurang,” ujarnya.
Namun, harapan Tirta Kencana tetap tertuju pada keberlanjutan hujan. Sebab, kondisi yang berlangsung sejak kemarau menunjukkan bahwa perubahan cuaca belum otomatis mengakhiri tekanan terhadap sumber air baku. Pada saat yang sama, Tirta Kencana mengaktifkan kembali sumur-sumur bor masyarakat sebagai sumber air tambahan.
“Nah, kita berharap ke depannya sih ada hujan turun,” katanya.
Upaya menjaga ketersediaan air juga dilakukan di sektor pertanian. Tirta Kencana memanfaatkan sumber air dari void bekas tambang untuk dialirkan menuju kawasan persawahan. Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari antisipasi kebutuhan air petani di tengah periode kering.
“Kami gunakan void-void yang ada. Jadi kita sedot, kita alirkan ke daerah-daerah persawahan,” kata Marnabas.
Hampir 100 unit genset dan pompa air, menurutnya, telah diserahkan kepada kelompok-kelompok petani untuk mendukung pengaliran air. Sumber air yang masih tersedia juga dimanfaatkan, termasuk sungai yang memungkinkan dialirkan ke kawasan pertanian.
“Jadi itu yang kami lakukan itu,” pungkasnya.


