PORTAL BERITA ONLINE NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE BERANI BEDA..!! MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

Keluarga Tak Harus Punya Solusi, Kehadiran Bisa Bantu Pulihkan Mental

Home Berita Keluarga Tak Harus Punya ...

Keluarga Tak Harus Punya Solusi, Kehadiran Bisa Bantu Pulihkan Mental
ILUSTRASI: Pexels.com

EKSPOSKALTIM - Dukungan keluarga dalam pemulihan kesehatan mental tidak selalu berupa nasihat atau solusi. Kehadiran yang menenangkan dan sikap tidak menghakimi justru dapat membantu seseorang merasa aman saat menghadapi tekanan emosional.

Orang yang mengalami tekanan psikologis berkepanjangan dapat mengalami peningkatan aktivitas sistem respons stres di otak dan tubuh. Kondisi ini dapat memengaruhi kemampuan mengelola emosi, berpikir jernih, mengambil keputusan, hingga menjalankan aktivitas sehari-hari.

"Penting dipahami bahwa dukungan keluarga bukan berarti harus selalu memberikan solusi. Terkadang, kehadiran yang menenangkan justru jauh lebih bermakna daripada nasihat yang datang terlalu cepat," kata Psikolog anak, remaja, dan keluarga Efnie Indrianie, Sabtu (10/10. 

Dosen Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha itu menjelaskan keluarga yang suportif dapat membantu seseorang memperoleh rasa aman secara psikologis. Perasaan diterima, dimengerti, dan tidak dihakimi dapat membantu orang menghadapi tekanan emosional dengan lebih baik.

Efnie mengatakan, keluarga idealnya menjadi lingkungan tempat seseorang merasa aman menjadi dirinya sendiri, termasuk ketika kondisi mentalnya sedang tidak baik.

"Pada dasarnya manusia bukan hanya makhluk biologis, tetapi juga makhluk psikologis dan sosial yang membutuhkan hubungan emosional yang aman," katanya.

Ia menegaskan keluarga tidak harus mengambil peran sebagai terapis. Namun, keluarga dapat menjadi tempat pertama bagi seseorang untuk mengakui bahwa dirinya sedang menghadapi masalah.

"Keluarga tidak harus menjadi terapis bagi anggota keluarganya. Namun, keluarga dapat menjadi tempat pertama di mana seseorang merasa aman untuk mengatakan 'saya sedang tidak baik-baik saja'," ia menambahkan.

Jangan Paksa Anggota Keluarga Bercerita

Ketika mendapati anggota keluarga menarik diri atau menutup diri, Efnie menyarankan agar orang-orang terdekat tidak memaksanya untuk bercerita.

Seseorang mungkin belum merasa cukup aman untuk mengungkapkan pengalaman dan perasaannya. Sikap menutup diri juga bisa dipengaruhi rasa takut dihakimi, keengganan menjadi beban bagi orang lain, rasa malu, atau kesulitan memahami emosi sendiri.

Psikolog yang tergabung dalam Asosiasi Neuropsikologi Indonesia–Himpunan Psikologi Indonesia itu mengatakan, keterbukaan emosional membutuhkan rasa aman dan kepercayaan.

Keluarga dapat membangun keduanya melalui aktivitas sederhana, seperti menemani anggota keluarga melakukan kegiatan ringan, mengajak bicara tanpa menginterogasi, menawarkan bantuan praktis, atau memberikan perhatian tanpa menuntut respons.

Efnie mencontohkan kalimat yang bisa digunakan untuk menunjukkan kepedulian tanpa menekan seseorang agar segera bercerita.

"Keluarga dapat mengatakan 'aku melihat belakangan ini kamu tampak lebih banyak diam. Aku tidak tahu apa yang sedang kamu hadapi, tetapi kalau suatu saat kamu ingin bercerita, aku siap mendengarkan'," kata Efnie.

Menurut dia, kalimat tersebut menyampaikan tiga pesan psikologis penting: seseorang diperhatikan, dipedulikan, dan tidak sendirian menghadapi masalahnya.

Efnie mengingatkan bahwa keterbukaan tidak boleh menjadi tuntutan. Sebab, tidak semua orang mampu mengungkapkan pengalaman emosional melalui komunikasi verbal secara langsung. Bagi sebagian orang, kebersamaan, perhatian kecil, dan hubungan yang konsisten justru dapat menghadirkan kenyamanan.

"Prinsipnya, jangan memaksa seseorang membuka pintu emosinya. Bangunlah rasa aman sehingga ia merasa cukup percaya untuk membukanya sendiri," kata Efnie.

Meski demikian, ia menekankan bahwa keluarga tetap perlu mengambil tindakan perlindungan apabila terdapat risiko terhadap keselamatan seseorang, meskipun orang tersebut belum siap menceritakan masalah yang dihadapinya. (ant)


Editor : Maulana

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%0%0%0%
Sebelumnya :