El Nino kategori sangat kuat membuat sejumlah wilayah di Kalimantan Timur mengalami periode tanpa hujan berkepanjangan.
EKSPOSKALTIM, Samarinda – Kekeringan di Kalimantan Timur (Kaltim) kian perlu diwaspadai seiring menguatnya fenomena El Nino yang memengaruhi pola curah hujan. Lima wilayah di Kabupaten Paser tercatat tidak mengalami hujan selama lebih dari 60 hari berturut-turut. Kondisi serupa juga terpantau di sejumlah wilayah Samarinda, Kutai Kartanegara, dan Kutai Barat.
Forecaster BMKG Samarinda, Bai’at Alhadid, mengatakan kondisi atmosfer saat ini menunjukkan fenomena El Nino berada pada kategori sangat kuat. Situasi tersebut berpengaruh terhadap penurunan curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia, termasuk Kaltim, yang pada 2026 mengalami musim kemarau lebih kering dibandingkan kondisi normal.
Berdasarkan pemantauan BMKG, anomali suhu muka laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur pada September 2026 mencapai +3,07 derajat. Sementara itu, rata-rata selama tiga bulan, yakni Juli, Agustus, dan September, tercatat mencapai +2,70 derajat.
“Hal ini menandakan bahwa pada saat ini, kita sedang mengalami El Nino dalam kategori yang sangat kuat,” kata Bai’at.
Dampaknya mulai terlihat dari pola curah hujan di Kaltim. Bai’at menjelaskan, penurunan curah hujan telah terjadi sejak Juli 2026 dan berlanjut pada Agustus hingga September. Agustus bahkan menjadi bulan terkering, ketika hampir seluruh wilayah Kaltim tidak mengalami hujan atau hanya menerima curah hujan dalam kategori rendah.
Kondisi kering tersebut masih berlanjut pada September. Menurut Bai’at, curah hujan di Kaltim secara umum tetap berada dalam kategori rendah, sehingga sejumlah daerah mengalami periode tanpa hujan yang panjang.
Data monitoring Hari Tanpa Hujan (HTH) BMKG hingga 30 September 2026 menunjukkan, meskipun sebagian besar wilayah Kaltim masuk kategori HTH sangat pendek, terdapat sejumlah lokasi yang mengalami kekeringan ekstrem.
Di Kabupaten Paser, lima lokasi yang tercatat tidak mengalami hujan selama lebih dari 60 hari berturut-turut adalah Batu Engau, Batu Sopang, Tanah Grogot, Kuaro, dan Muara Samu.
“Artinya sudah dua bulan tidak hujan di sana,” ujar Bai’at.
Kondisi serupa juga ditemukan di Samarinda. BMKG mencatat dua lokasi, yakni Sambutan dan Palaran, mengalami periode tanpa hujan selama sekitar dua bulan. Selain itu, sejumlah wilayah di Kutai Kartanegara dan Kutai Barat juga tercatat tidak mengalami hujan lebih dari 60 hari dan masuk kategori kekeringan ekstrem.
Selain itu Bai’at menjelaskan kondisi kering di Kaltim tidak terlepas dari dinamika atmosfer yang saat ini masih didominasi angin monsun Australia atau angin timuran. Angin tersebut membawa karakteristik udara kering dengan kandungan uap air yang relatif sedikit, sehingga mendukung berlanjutnya musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia.
“Hal ini menyebabkan sebagian besar wilayah Indonesia hingga saat ini, termasuk Kaltim, itu masih mengalami periode musim kemarau,” jelasnya.
Persoalannya, kondisi tersebut diprakirakan belum segera berakhir. Bai’at menyebut BMKG memprakirakan fenomena El Nino atau ENSO masih bertahan hingga awal 2027.
“Yang mana artinya bahwa El Nino ini dapat memberikan dampak terhadap kondisi musim hujan yang akan kita alami di tahun 2026 ini,” tutupnya.


