Benteng "paru-paru kota" Balikpapan berada dalam ancaman serius. Mirisnya, amukan api yang merusak ekosistem vital ini tak hanya dipicu kemarau panjang.
EKSPOSKALTIM, Balikpapan - Dua kawasan konservasi krusial "paru-paru kota", yakni Hutan Lindung Sungai Wain (HLSW) dan Hutan Lindung Sungai Manggar (HLSM) di Balikpapan, tak luput dari amukan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Tercatat seluas 63,12 hektare kawasan hutan lindung tersebut hangus terbakar di tengah musim kemarau panjang.
Kepala UPTD Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung (KPHL) Balikpapan, Rini Handajani, mengungkapkan aparat kepolisian kini tengah memproses hukum oknum yang sengaja membakar kawasan hutan lindung.
"Dari total 13 kejadian yang kami tangani, ada tiga kejadian di dalam kawasan hutan lindung, tepatnya di area izin Hutan Kemasyarakatan (HKM), yang saat ini sudah diproses di Polresta Balikpapan. Berdasarkan informasi, pembakaran dilakukan untuk mengubah tanaman salak menjadi buah naga," beber Rini, Rabu (14/10).
Pemegang izin HKM, kata dia, memiliki kewajiban mutlak menjaga dan mengamankan kawasan. Menyusul kejadian ini, KPHL Balikpapan memberikan peringatan keras serta mewajibkan seluruh pemegang izin membuat surat pernyataan siap diproses hukum apabila insiden serupa terulang di wilayah konsesi mereka.
Akumulasi Luas Kebakaran di Hutan Lindung
Berdasarkan data KPHL Balikpapan, gelombang karhutla yang melanda kawasan HLSW dan HLSM serta wilayah penyangganya terjadi secara masif dalam tiga bulan terakhir:
Agustus 2026: Tercatat 7 kejadian dengan total luasan 13,87 hektare (8,36 hektare di dalam kawasan hutan lindung dan 5,51 hektare di Area Penggunaan Lain/APL).
September 2026: Terjadi 4 kejadian dengan dampak paling luas mencapai 55,50 hektare (48,32 hektare di dalam kawasan hutan lindung dan 7,89 hektare di APL).
Oktober 2026 (per 10–11 Oktober): Tercatat 2 kejadian baru yang menghanguskan sekitar 10,70 hektare di dalam kawasan hutan lindung.
Secara keseluruhan, akumulasi karhutla di wilayah kerja KPHL Balikpapan telah melahap 77,7 hektare lahan, dengan 63,12 hektare di antaranya murni menggerogoti jantung kawasan hutan lindung.
Selain itu, terdapat 14,58 hektare kebakaran di APL luar kawasan yang turut dipadamkan tim karena berdekatan langsung dengan batas hutan lindung.
Tantangan Posko Siaga dan Api Batu Bara
Sebagai upaya melindungi HLSW dan HLSM dari ancaman kerusakan yang lebih luas, KPHL Balikpapan bersama mitra strategis Yayasan ProNatura telah mengaktifkan 10 posko penanggulangan karhutla. Sebanyak 9 pos siaga ditempatkan di dalam HLSW dan 1 pos di HLSM (dekat kawasan KWPLH).
"Kami menyiagakan 36 personel yang berpatroli 24 jam dengan sistem piket bergantian, yakni tiga minggu bertugas di dalam hutan dan satu minggu off," ujar Rini.
Salah satu tantangan terberat dalam pemadaman di HLSW maupun HLSM adalah medan ekstrem yang diwarnai oleh titik api batu bara bawah tanah. Deposit batu bara yang tersulut panas di kawasan utara berbatasan dengan Inhutani sangat sulit dipadamkan dan menuntut kesiagaan ekstra dari para petugas di lapangan.


