PORTAL BERITA ONLINE NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE BERANI BEDA..!! MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

Saat Danau Semayang Surut, Perburuan Emas Ramai, Nisan Kuno Jadi Sorotan

Home Berita Saat Danau Semayang Surut ...

Surutnya Danau Semayang di Kutai Kartanegara membuka perburuan emas dadakan. Ada yang bermodal detektor, ada pula yang cukup membawa sendok dapur dan kuas.


Saat Danau Semayang Surut, Perburuan Emas Ramai, Nisan Kuno Jadi Sorotan
Sejumlah warga dari Desa Pela hingga Desa Semayang, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kaltim, tengah mengerik tanah untuk berburu emas di saat Danau Semayang mengering. Foto: ANTARA

EKSPOSKALTIM, Samarinda - Saat air Danau Semayang di Kecamatan Kota Bangun, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), menyusut akibat kemarau, warga justru menemukan peluang peruntungan. Kawasan pesisir danau yang mengering mendadak ramai didatangi warga untuk berburu butiran emas.

Warga Desa Pela, Rudiansyah, mengatakan perburuan emas secara tradisional itu ramai dalam sepekan terakhir. Informasi mengenai keberadaan butiran emas menyebar dari mulut ke mulut sejak 2 Oktober 2026.

"Memang pencarian emas secara tradisional ini mendadak ramai dalam sepekan terakhir memanfaatkan surutnya debit air Danau Semayang akibat kemarau," kata Rudiansyah, ditulis Jumat (16/10). 

Warga dari Desa Pela, Desa Semayang, Sangkuliman, dan daerah sekitarnya berbondong-bondong mendatangi lokasi untuk mencoba peruntungan.

Menariknya, pencarian emas disebut lebih efektif dilakukan pada malam hari dengan bantuan alat deteksi emas.

"Pencarian emas jauh lebih efektif dilakukan pada malam hari dengan memanfaatkan bantuan alat deteksi emas," ujar Rudiansyah.

Ia berhasil mendapatkan sekitar dua gram emas pada hari kedua pencarian. Dengan patokan harga Rp1,5 juta per gram, temuan tersebut bernilai sekitar Rp3 juta.

Ada yang bermodal detektor, ada yang mengerik tanah

Tidak semua pencari emas menggunakan peralatan modern. Warga yang tidak memiliki alat detektor memilih cara sederhana untuk mencari butiran emas di lapisan tanah.

Warga Desa Pela lainnya, Hidayat, mengatakan alat yang digunakan antara lain sendok dapur, kuas halus, hingga bilah papan kayu untuk mengerik tanah.

"Masyarakat yang tidak memiliki alat detektor modern memilih mencari emas dengan metode pengerikan tanah secara tradisional," kata Hidayat.

Ia mengaku baru pertama kali ikut berburu emas bersama warga lainnya di pesisir Danau Semayang. Menurut dia, setiap hari ada warga yang berhasil membawa pulang butiran emas berukuran kecil.

Jangan sampai merusak situs sejarah

Di tengah ramainya perburuan, muncul pula isu mengenai sejumlah warga yang nekat membongkar nisan kuno di dekat batu besar.

Untuk mengantisipasi gangguan ketertiban, perangkat desa mengimbau warga menjaga kondusivitas kawasan selama aktivitas pencarian emas berlangsung.

Ketua Kelompok Sadar Wisata Desa Pela, Alimin, turut mengingatkan para pencari emas agar tidak merusak kelestarian lingkungan maupun situs sejarah di kawasan ekowisata tersebut.

Surutnya danau memang memberi kesempatan bagi warga untuk mencoba peruntungan. Namun, aktivitas berburu emas tetap perlu memperhatikan lingkungan dan peninggalan sejarah agar peluang ekonomi sesaat tidak berujung pada kerusakan yang merugikan masyarakat. (ant)


Editor : Maulana

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%0%0%0%
Sebelumnya :
Berikutnya :