Sebanyak 11 desa di Batu Engau mengalami kekeringan ekstrem setelah hujan tak turun selama 79 hari. Sekitar 20 ribu warga terdampak.
EKSPOSKALTIM, Balikpapan - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatatkan durasi Hari Tanpa Hujan (HTH) terpanjang di wilayah Kalimantan Timur terjadi di Batu Engau, Kabupaten Paser. Hujan tercatat tak turun di wilayah yang berbatasan langsung dengan Kalimantan Selatan ini selama 79 hari atau nyaris tiga bulan.
Kondisi iklim ekstrem tersebut memicu bencana ganda berupa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta krisis air bersih parah yang berdampak pada sekitar 20.000 jiwa warga setempat.
Camat Batu Engau, Agah Yudhistira Putra, mengungkapkan berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Paser, luasan karhutla di Batu Engau merupakan yang terbesar kedua di Kabupaten Paser setelah Kecamatan Tanah Grogot.
"Data BPBD mencatat luasan karhutla di tempat kami mencapai 300-an hektare. Di sisi lain, dari 13 desa di Kecamatan Batu Engau, sebanyak 11 desa mengalami kekeringan ekstrem. Hanya dua desa yang pasokan airnya masih relatif aman, yakni Desa Bai Jaya dan Desa Langgai," ujar Agah, Jumat (16/10).
Agah menjelaskan pihak kecamatan bersama pemerintah desa dan perusahaan swasta di wilayah sekitar telah melakukan langkah mitigasi sejak pertengahan Agustus 2026. Namun, kemarau Panjang membuat embung-embung desa mengering dan debit air baku Sungai Kerang menyusut drastis.
Untuk membantu kebutuhan dasar warga, Pemkab Paser menerjunkan armada tangki pemadam kebakaran (damkar) guna menyuplai air bersih secara bergilir.
"Sejauh ini kami sudah menyuplai 150 tangki air bersih untuk warga di 11 desa terdampak. Karena keterbatasan armada, distribusi gratis ini kami jadwalkan," kata Agah.
Selain mengandalkan pasokan mobil tangki, pihak kecamatan berupaya membuat bendung manual di aliran Sungai Kerang agar air baku PDAM tetap dapat diolah dan disalurkan secara gilir ke rumah warga, meski sering kali air baru mengalir pada malam hari.
Pihak perusahaan swasta setempat juga diminta membuka akses embung dan bak penampungan air milik mereka bagi warga sekitar.
Terkait penanganan titik api karhutla, Agah menyebut tim Satgas Bencana siaga selama 24 jam dalam dua shif. Kendati demikian, proses pemadaman di lapangan kerap terkendala oleh sulitnya akses geografis dan terbatasnya sumber air.
Tantangan terbesar pemadaman, kata Agah adalah lokasi kebakaran yang tidak bisa diakses kendaraan. Petugas harus berjalan kaki antara satu hingga dua jam menuju lokasi.
"Jika prediksi BMKG benar bahwa hingga November hujan baru turun, kondisi warga akan semakin sulit. Kami fokus pada distribusi air bersih sambil berharap hujan segera turun," ujar dia.



