Lantas, apakah kabut tipis dan memburuknya kualitas udara Jakarta berkaitan dengan karhutla di Kalimantan?
EKSPOSKALTIM, Jakarta - Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dari luar daerah, termasuk Pulau Kalimantan, berpotensi mencapai wilayah DKI Jakarta. Namun, kemungkinan secara meteorologis itu tidak serta-merta membuktikan bahwa polusi udara yang belakangan terpantau di Ibu Kota berasal dari karhutla.
Anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI) Daryono mengatakan pergerakan asap dalam jarak jauh tetap mungkin terjadi di tengah berlangsungnya musim angin timuran. Meski demikian, peluang dan jalur penyebarannya harus dibuktikan menggunakan data angin aktual.
"Bagaimana asap karhutla bisa sampai Jakarta? Secara meteorologis pergerakan tersebut tetap mungkin terjadi, namun peluang serta jalur penyebarannya harus dibuktikan secara valid menggunakan data angin aktual," kata Daryono dalam keterangan yang dikonfirmasi di Jakarta, Jumat malam (17/10).
Menurut Daryono, angin timuran merupakan pola sirkulasi dominan selama musim kemarau di Indonesia. Namun, arah angin tidak selalu sama di setiap wilayah karena dipengaruhi lokasi, ketinggian, waktu, dan kondisi atmosfer.
Karena itu, arah angin di Kalimantan belum tentu sama dengan arah angin di Laut Jawa maupun Jakarta.
Partikel halus PM2.5 dari kebakaran juga dapat terangkat oleh turbulensi dan konveksi hingga ketinggian ratusan atau ribuan meter. Pada lapisan atmosfer yang berbeda, arah angin dapat berbeda dari angin di permukaan sehingga asap berpotensi bergerak melalui jalur yang tidak searah dengan angin permukaan.
Daryono menambahkan gangguan atmosfer, daerah tekanan rendah, sirkulasi siklonik, maupun periode peralihan monsun dapat mengubah pola angin untuk sementara waktu. Kondisi tersebut berpotensi membawa partikel asap melintasi jarak ratusan kilometer apabila terbentuk aliran udara menuju Laut Jawa dan Jakarta.
Selama perjalanan, asap mengalami pengenceran, pencampuran, transformasi kimia, dan pengendapan. Besarnya dampak di Jakarta bergantung pada sejumlah faktor, antara lain besaran emisi, kecepatan angin, curah hujan, serta stabilitas atmosfer.
Belum Dipastikan Berasal dari Karhutla
Daryono menegaskan penjelasan mengenai kemungkinan asap karhutla mencapai Jakarta tidak berarti dirinya menyatakan asap tersebut sudah tiba di Ibu Kota.
"Saya tidak pernah menyatakan asap karhutla sudah sampai Jakarta, saya malah minta cek ini. Jika benar alat kualitas udara di Jakarta mendeteksi PM2.5 dari asap karhutla, maka tulisan saya (di atas) bisa menjadi dasar sains mengapa asap karhutla bisa sampai Jakarta. Saya sendiri belum tahu apakah asap itu sudah sampai Jakarta apa belum," kata Daryono.
Ia menjelaskan partikel PM2.5 dari karhutla dan emisi kendaraan sebenarnya dapat dibedakan melalui analisis ilmiah. Namun, alat pemantau PM2.5 konvensional tidak dapat langsung memastikan sumber polutan secara instan ketika partikel dari berbagai sumber telah bercampur.
Dengan demikian, tingginya konsentrasi PM2.5 di Jakarta belum cukup untuk memastikan bahwa polusi tersebut berasal dari karhutla di Kalimantan.
Kualitas Udara Jakarta Sempat Tidak Sehat
Dalam beberapa hari terakhir, warga merasakan udara Jakarta seperti diselimuti kabut tipis, khususnya pada malam hari setelah pukul 20.00 WIB. Kondisi itu juga disertai kesan bau dan tekstur yang menyerupai kabut asap.
Berdasarkan data pemantauan IQAir pada Jumat, indeks kualitas udara atau Air Quality Index (AQI) Jakarta sempat mencapai 186 pada pagi hari. Angka tersebut masuk kategori tidak sehat, dengan konsentrasi PM2.5 sebesar 107 mikrogram per meter kubik.
Pada pukul 12.00 WIB, AQI tercatat 169 dengan konsentrasi PM2.5 sebesar 81 mikrogram per meter kubik. Konsentrasi tersebut setara 16,2 kali nilai panduan kualitas udara Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), berdasarkan data yang dikutip dalam laporan ini.
Masyarakat pun disarankan mengenakan masker saat beraktivitas di luar ruangan.
Menjelang tengah malam, pemantauan sensor kualitas udara real-time IQAir menunjukkan AQI berada dalam rentang sedang hingga tidak sehat bagi kelompok sensitif, dengan angka sekitar 110–140 atau lebih. Jakarta Selatan dan Jakarta Barat cenderung mencatatkan tingkat polusi lebih tinggi dibandingkan Jakarta Pusat dan Jakarta Utara.
Meski kualitas udara memburuk, data AQI dan konsentrasi PM2.5 tersebut tidak dengan sendirinya mengidentifikasi sumber polusi.
Kepastian apakah kondisi udara Jakarta berkaitan dengan asap karhutla masih membutuhkan keterangan dan analisis lebih lanjut dari instansi berwenang, seperti Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), maupun Kementerian Lingkungan Hidup.



