PORTAL BERITA ONLINE NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE BERANI BEDA..!! MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

ISPA akibat Karhutla Tembus 333.470 Kasus, Udara Berbahaya Mengintai Kalimantan

Home Berita Ispa Akibat Karhutla Temb ...

Kementerian Kesehatan mencatat akumulasi 333.470 kasus ISPA akibat dampak karhutla di berbagai wilayah terdampak, dengan 4.522 kasus harian.


ISPA akibat Karhutla Tembus 333.470 Kasus, Udara Berbahaya Mengintai Kalimantan
Petugas BPBD Kalbar melakukan pemadaman pada lahan yang terbakar yang terjadi di Kabupaten Kubu Raya belum lama ini. Foto: ANTARA

EKSPOSKALTIM, Jakarta – Kementerian Kesehatan mencatat akumulasi kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di berbagai wilayah terdampak telah mencapai 333.470 kasus. Dari jumlah tersebut, penderita harian masih tercatat sebanyak 4.522 kasus.

Direktur Kesehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan, Dr dr Ten Suyanti  mengatakan perhatian khusus perlu diberikan kepada kelompok rentan yang berisiko mengalami dampak kesehatan akibat paparan asap karhutla.

"Perhatian khusus juga difokuskan pada kelompok rentan yang meliputi anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita asma atau PPOK, serta para pekerja di luar ruangan," kata dia.

Menurut Ten Suyanti, pemantauan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) terkini menunjukkan kualitas udara di sejumlah wilayah berada pada kategori berbahaya. Kondisi tersebut terutama ditemukan di enam provinsi prioritas penanganan karhutla, yakni Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Tengah.

Di Kalimantan Tengah, Kemenkes mengonfirmasi terdapat tujuh kabupaten/kota yang masuk kategori berbahaya. Sementara di Sumatera Selatan, kondisi serupa tercatat di tiga wilayah, yakni Kota Palembang, Kota Prabumulih, dan Ogan Komering Ilir. Adapun Ogan Ilir berada pada kategori sangat tidak sehat.

Kualitas udara berbahaya juga terdeteksi di Muaro Jambi dan Tebo, Provinsi Jambi. Sementara itu, Tanjung Jabung Timur masuk kategori sangat tidak sehat.

Di Kalimantan Selatan, kategori berbahaya tercatat di Kota Banjarmasin dan Tabalong, sedangkan Barito Kuala berada pada kategori sangat tidak sehat.

Ancaman serupa ditemukan di wilayah lain. Kutai Barat di Kalimantan Timur dan Kota Pontianak di Kalimantan Barat tercatat mengalami kualitas udara kategori berbahaya. Sementara itu, Provinsi Riau mencatat empat wilayah dengan kategori sangat tidak sehat.

Paparan Asap Berisiko Picu Gangguan Pernapasan

Ten Suyanti menjelaskan, asap karhutla mengandung partikel halus seperti PM2.5, karbon monoksida, nitrogen dioksida, serta senyawa organik lainnya. Paparan polutan tersebut berisiko memicu berbagai gangguan kesehatan, mulai dari ISPA hingga penyakit pernapasan kronis.

Dampaknya juga dapat berupa asma, Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK), iritasi mata dan kulit, hingga gangguan sistemik.

Risiko tersebut membuat kelompok rentan memerlukan perhatian khusus, terutama ketika kualitas udara berada pada kategori berbahaya. Anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita asma atau PPOK, serta orang yang bekerja di luar ruangan menjadi kelompok yang disoroti Kemenkes.

Dari sisi perkembangan kasus, perbandingan dengan tahun sebelumnya menunjukkan tren peningkatan ISPA di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan. Peningkatan juga tercatat di Sumatera Selatan dan Riau, dengan jumlah kasus lebih tinggi dibandingkan tahun lalu.

Sebaliknya, tren kasus di Kalimantan Barat menunjukkan penurunan. Kalimantan Timur relatif sama dengan tahun sebelumnya, sedangkan Jambi menunjukkan kondisi yang setara dengan periode yang sama tahun lalu.

Kemenkes Gencarkan Pencegahan

Untuk mengantisipasi dan menanggulangi dampak kesehatan akibat karhutla, Kemenkes terus menggencarkan strategi promotif dan preventif. Upaya tersebut meliputi pembagian masker, edukasi kepada masyarakat mengenai pengurangan risiko krisis kesehatan, serta pelaksanaan surveilans kualitas udara dalam ruangan dan dampak kesehatan permukiman.

Kemenkes juga memantau perkembangan penyakit yang berpotensi muncul akibat paparan asap, sekaligus memastikan kesiapan layanan kesehatan di wilayah terdampak.

"Pemerintah aktif memantau tren penyakit akibat karhutla seperti ISPA, pneumonia, asma, serta iritasi mata dan kulit, sekaligus memastikan ketersediaan obat, bahan medis habis pakai (BMHP), dan alat kesehatan yang memadai di daerah terdampak," kata dia menegaskan. (ant)


Editor : Maulana

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%0%0%0%
Sebelumnya :
Berikutnya :