Guyuran hujan belum menjadi tanda berakhirnya karhutla di Samarinda. Di sejumlah titik, api kembali muncul pada hamparan yang sebelumnya terbakar karena sumber panas disebut masih bertahan di bawah permukaan lahan.
EKSPOSKALTIM, Samarinda — Turunnya hujan di sejumlah kawasan Samarinda belum serta-merta mengubah pola penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Persoalannya bukan lagi sekadar seberapa luas lahan yang terbakar, tetapi bagaimana memastikan titik-titik yang telah dipadamkan benar-benar kehilangan bara.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Samarinda, Suwarso, menyebut berdasarkan rekapitulasi hingga Minggu (4/10) sore, tercatat sekitar 246 kejadian kebakaran dengan total luasan mencapai 608,18 hektare.
Namun, ia menegaskan tidak seluruh catatan tersebut menunjukkan lokasi yang benar-benar baru. Sejumlah kejadian terjadi di kawasan yang sebelumnya telah terbakar, meski berada pada titik yang berbeda dalam satu hamparan lahan.
“Ada memang beberapa kejadian kebakaran itu di titik lokasi terdekat yang pernah terbakar, tapi dalam satu area,” ujar Suwarso, Senin (5/10).
Di sejumlah kawasan, sumber panas masih dapat bertahan di bawah permukaan dan kembali memicu kebakaran ketika kondisi lahan kembali panas dan kering. Suwarso mencontohkan kawasan perumahan di Pelita 8 Kecamatan Sambutan.
Berdasarkan pemantauan petugas, ditemukan material seperti batu bara di bawah permukaan lahan. Pada saat bersamaan, rumput-rumput di kawasan tersebut mulai mengering akibat cuaca panas.
Pola serupa, kata dia, juga ditemukan di sejumlah titik pada kawasan Blok B dan Blok D. Wilayahnya masih berada dalam kawasan yang sama, tetapi titik kebakarannya berbeda.
“Memang di sana hasil dari pemantauan anggota di lapangan memang ada batu bara di bawahnya,” katanya.
Hujan Belum Menjadi Jaminan
Hujan yang mulai turun di beberapa bagian Samarinda memang membantu memperlambat potensi kebakaran. Akan tetapi, manfaatnya belum merata karena kawasan yang masih memiliki frekuensi kejadian tinggi tidak seluruhnya mendapatkan hujan.
Suwarso mengatakan hujan deras dapat membantu mencegah kebakaran kembali terjadi pada lokasi yang mendapat guyuran cukup. Sebaliknya, hujan yang hanya turun sebagian kawasan tidak banyak membantu titik lahan yang tetap kering.
“Memang bisa mencegah (percepatan kebakaran). Tapi untuk daerah-daerah yang saat ini secara frekuensi masih sering terjadi kebakaran itu ternyata tidak terkena hujan,” jelasnya.
Ia mencontohkan kawasan Bantuas Kecamatan Palaran. Hujan sempat turun, tetapi hanya di sebagian wilayah. Kebakaran masih terjadi di salah satu RT lantaran kawasan yang diguyur hujan berada cukup jauh dari lokasi tersebut. Sebaliknya, kawasan yang mendapat hujan deras dinilai memiliki kondisi yang lebih baik untuk mencegah munculnya kembali api.
Kesulitan lain berada pada karakter lahan dan akses menuju sumber api. Suwarso mengatakan petugas tidak jarang harus melakukan pemadaman secara berulang karena titik api berada jauh di dalam kawasan dan tidak dapat dijangkau kendaraan.
Kondisi itu salah satunya ditemukan di bagian dalam Perumahan Pelita 8. Kendaraan roda empat tidak dapat masuk, sementara kendaraan roda dua juga tidak mampu menjangkau seluruh titik.
Akibatnya, sumber air dari parit dan drainase harus dimanfaatkan. Air tersebut kemudian dipindahkan secara bertahap menggunakan water tank untuk mendekati lokasi kebakaran.
“Jadi dari parit masuk water tank baru disebar itu untuk mendekati titik api,” ujarnya.
Medan yang sulit dan vegetasi yang tinggi membuat petugas bersama relawan harus membuka jalan secara manual. Relawan membuka jalan setapak, kemudian BPBD, Damkar dan Satpol PP membawa selang menuju titik api.
Persoalan menjadi lebih rumit ketika api masuk ke lapisan gambut. Suwarso memperkirakan lapisan gambut di sejumlah lokasi dapat mencapai sekitar satu meter.
“Kalau gambut penanganannya pasti dengan stick, disemprot ke dalam. Kalau tidak ada stick berarti di lokasi tersebut harus disemprot lebih lama,” katanya.
Kondisi itu pula yang menjadi salah satu penjelasan BPBD terkait kembali munculnya kabut asap di Samarinda. Suwarso menyebut beberapa titik di Pelita 8 belum sepenuhnya padam selama sekitar tiga hari. Bahkan, pemantauan masih menemukan sisa asap hingga dini hari dan informasi mengenai munculnya kembali titik api.
Menurut dia, kondisi tersebut ikut menghasilkan asap yang kemudian berkontribusi terhadap pekatnya kabut asap di Samarinda.
“Karena petugas sudah kelelahan, sampai jam 4 pagi masih ada titik walaupun sisa asap. Itu juga menjadi salah satu penyebab tebalnya kabut asap,” tutup Suwarso.



