PORTAL BERITA ONLINE NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE BERANI BEDA..!! MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

Kisah Remi, Pesut Mahakam Viral yang Terjebak dan Hidup Sendiri di Mahulu

Home Berita Kisah Remi, Pesut Mahakam ...

Video kemunculan seekor pesut Mahakam di Sungai Ratah, Mahakam Ulu, belakangan viral di media sosial. Namun mamalia air tawar langka itu bukan penghuni baru.


Kisah Remi, Pesut Mahakam Viral yang Terjebak dan Hidup Sendiri di Mahulu
Tangkapan layar kemunculan Pesut Mahakam di Sungai Ratah. Pesut bernama Remi ini rupanya sudah menghuni lokasi tersebut sekitar 10 tahun. Instagram Info Mahakam Ulu

EKSPOSKALTIM, Mahakam Ulu – Video seekor pesut Mahakam (Orcaella brevirostris) yang berenang di Sungai Ratah, Kecamatan Laham, Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu), viral di media sosial. Mamalia air tawar langka itu ternyata bukan penghuni baru di kawasan tersebut.

Pesut yang diberi nama Remi diketahui telah hidup sendirian di Sungai Ratah sejak 2016, setelah dua pesut lain yang sempat menemaninya mati. Keberadaan Remi menjadi perhatian karena lokasinya berada jauh dari habitat utama pesut Mahakam.

Peneliti pesut Mahakam dari Yayasan Konservasi RASI (Rare Aquatic Species of Indonesia), Danielle Kreb, menjelaskan kelompok pesut di Sungai Ratah pertama kali terdeteksi saat banjir besar melanda Kalimantan Timur pada 1998.

Saat itu, sekitar tujuh ekor pesut bermigrasi sejauh sekitar 20 kilometer dari muara Sungai Ratah. Tiga ekor di antaranya berenang lebih jauh hingga terjebak di kawasan yang diapit jeram besar di bagian hulu dan riam di bagian hilir.

Seiring waktu, populasi kecil tersebut terus berkurang hingga hanya menyisakan Remi.

"Tinggal satu ekor (Remi) sejak tahun 2016 karena dua kawan lainnya sudah mati. Jadi kasihan, sekarang dia sendirian di sana," kata Danielle , Jumat (24/7/2026).

Terisolasi oleh Jeram

Danielle menegaskan Remi tidak terisolasi akibat surutnya Sungai Mahakam. Kolam tempat pesut tersebut hidup memiliki kedalaman yang cukup sehingga tetap menyimpan air sepanjang waktu.

Menurut dia, hambatan utama bagi Remi untuk kembali bergabung dengan populasi pesut di Kutai Barat maupun Kutai Kartanegara adalah kondisi geografis perairan yang dipenuhi jeram dan batu besar.

"Kemungkinan besar sulit untuk dia turun (milir). Sebab kalau nekat turun menembus riam, gerakan tubuhnya kurang bisa dikontrol dan badannya berisiko tinggi menghantam batu-batu besar karena arusnya sangat deras. Jadi dia memilih tetap berada di situ," ujarnya.

Akibat kondisi tersebut, ruang gerak Remi hanya terbatas di sebuah kolam alami berukuran sekitar 40 x 50 meter yang dikelilingi riam.

Warga Diminta Tidak Mengganggu

Danielle mengatakan opsi penyelamatan atau pemindahan Remi pernah dipertimbangkan. Namun, kondisi medan yang sulit dan tingginya risiko terhadap keselamatan satwa membuat rencana tersebut belum memungkinkan dilakukan.

Karena itu, masyarakat di sekitar Sungai Ratah diminta menjaga habitat Remi, terutama dengan tidak melakukan aktivitas penangkapan ikan menggunakan setrum maupun racun.

"Imbauan penting untuk warga sekitar agar tidak mengganggu keberadaan Remi. Kami meminta dengan sangat agar tidak ada kegiatan penangkapan ikan menggunakan strum (listrik) maupun racun kimia di sekitar lokasi habitatnya," kata Danielle.


Editor : Maulana

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%0%0%0%
Sebelumnya :
Berikutnya :