Rupiah dibuka melemah ke Rp17.939 per dolar AS saat eskalasi konflik di Timur Tengah kembali mengerek harga minyak mentah dunia.
EKSPOSKALTIM, Jakarta - Rupiah kian tertekan di tengah eskalasi konflik Timur Tengah. Pada pembukaan perdagangan Selasa (13/10), nilai tukar rupiah melemah 26 poin atau 0,15 persen menjadi Rp17.939 per dolar AS, dibanding penutupan sebelumnya di level Rp17.913 per dolar AS.
Pelemahan ini terjadi ketika harga minyak mentah dunia kembali naik seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Rupiah pun menghadapi tekanan dari luar negeri, sementara arus modal keluar dari pasar saham domestik turut membebani pergerakannya.
Analis Doo Financial, Lukman Leong, mengatakan eskalasi konflik di kawasan tersebut menjadi salah satu faktor yang menekan rupiah karena memicu kenaikan harga minyak mentah dunia.
“Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS di tengah eskalasi geopolitik di Timteng yang memicu harga minyak mentah dunia kembali naik,” ucapnya kepada ANTARA di Jakarta, Selasa (13/10).
Konflik Memanas, Harga Minyak Naik
Ketegangan di Timur Tengah kembali menjadi perhatian pasar setelah Ansarullah Yaman atau kelompok Houthi menyatakan telah meluncurkan serangan rudal balistik baru yang menyasar Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, ibu kota Arab Saudi.
Mengutip Xinhua, Juru Bicara Militer Ansarullah, Yahya Sarea, juga menyebut kelompoknya melancarkan serangan pesawat nirawak atau drone terhadap Pangkalan Udara King Khalid di Khamis Mushait, wilayah barat daya Arab Saudi. Ia mengklaim serangan tersebut mengenai sasaran secara langsung.
Di sisi lain, pihak Ansarullah melaporkan Arab Saudi telah melancarkan 119 serangan terhadap sejumlah wilayah yang dikuasai kelompok tersebut. Serangan itu disebut mencakup Bandara Internasional Sanaa di ibu kota Yaman dan Selat Bab al-Mandab.
Ketegangan tersebut berlangsung di tengah kenaikan harga minyak mentah dunia. Kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) ditutup naik 2,06 persen menjadi US$93,74 per barel. Sementara itu, minyak mentah Brent naik 1,84 persen menjadi US$106,65 per barel.
Kenaikan harga minyak menjadi salah satu sentimen yang dicermati pasar karena terjadi bersamaan dengan eskalasi geopolitik. Kondisi tersebut turut membayangi pergerakan rupiah terhadap dolar AS.
Arus Modal Keluar Ikut Membebani Rupiah
Selain faktor eksternal, tekanan terhadap rupiah juga datang dari pasar keuangan domestik. Lukman menyebut arus modal keluar (outflow) dari pasar ekuitas Indonesia masih berlanjut.
Pada saat bersamaan, mata uang negara-negara Asia secara umum juga terpantau melemah pada perdagangan pagi itu.
Kombinasi sentimen tersebut membuat pergerakan rupiah masih dibayangi tekanan. Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp17.850 hingga Rp18.000 per dolar AS.
Dengan posisi pembukaan di Rp17.939 per dolar AS, rupiah berada dekat dengan batas atas rentang proyeksi tersebut. Perkembangan konflik Timur Tengah, pergerakan harga minyak mentah, dan arus modal di pasar domestik menjadi sejumlah faktor yang dicermati dalam pergerakan rupiah selanjutnya. (ant)


