PORTAL BERITA ONLINE NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE BERANI BEDA..!! MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

Opini Kereta Trans Kalimantan: Peluang Sesungguhnya bagi Kalimantan Timur

Home Berita Opini Kereta Trans Kalima ...


Opini Kereta Trans Kalimantan: Peluang Sesungguhnya bagi Kalimantan Timur
Ilustrasi. (AI)

Instruksi Presiden Prabowo Subianto kepada PT KAI dan Kementerian Perhubungan untuk mulai menyiapkan proyek Trans Kalimantan, sebagaimana diberitakan EKSPOSKALTIM (31/7), memang layak disambut dengan optimisme yang berhati-hati.

Kalimat "habis Trans Sumatra, nanti Trans Kalimantan" masih berupa sinyal politik, belum berupa dokumen trase, studi kelayakan, atau skema pendanaan. Namun karena wacana ini bukan hal baru— Kalimantan Timur sudah dua kali menjadi lokasi proyek strategis nasional perkeretaapian yang kandas di tengah jalan — ada baiknya instruksi ini dibaca dengan mempertimbangkan realitas ekonomi, persoalan logistik, dan kemampuan pembiayaan di lapangan.

Potensi ekonomi yang menjustifikasi rel

Kalimantan Timur bukan provinsi sembarangan dalam peta ekonomi Kalimantan. PDRB provinsi ini mencapai sekitar Rp218 triliun pada triwulan III 2025, dan secara konsisten menyumbang hampir separuh — sekitar 46-47 persen — dari total perekonomian seluruh Pulau Kalimantan. Struktur ekonominya masih ditopang sektor pertambangan dan penggalian yang menyumbang sekitar 38 persen PDRB, dengan batu bara sebagai andalan ekspor. Di sisi lain, industri pengolahan (kilang migas, feronikel, petrokimia, CPO turunan) tumbuh double digit dan neraca perdagangan Kaltim rutin mencatat surplus besar, didorong ekspor batu bara yang berkontribusi lebih dari tiga perempat nilai ekspor provinsi.

Ditambah status Kaltim sebagai provinsi penyangga utama Ibu Kota Nusantara (IKN) dan proyeksi peran sebagai "superhub ekonomi" Kalimantan, tekanan terhadap infrastruktur konektivitas — jalan, pelabuhan, dan idealnya rel — akan terus meningkat. Pemerintah provinsi sendiri menargetkan pertumbuhan ekonomi hingga 7 persen pada 2026 sembari berusaha mengurangi ketergantungan pada batu bara. Di titik inilah kereta logistik punya argumen kuat: bukan sekadar proyek prestise, melainkan instrumen untuk menekan biaya distribusi dan mendukung hilirisasi industri yang ingin didorong pemerintah daerah.

Angkutan barang dan persoalan yang sudah lama menumpuk

Selama ini distribusi komoditas utama Kaltim — batu bara, CPO, kayu, hasil tambang lain — nyaris seluruhnya bertumpu pada truk angkutan berat dan tongkang sungai. Pola ini menimbulkan setidaknya tiga persoalan struktural. Pertama, kerusakan jalan akibat tonase kendaraan yang jauh melebihi kapasitas desain jalan umum, sesuatu yang berulang kali memicu konflik antara warga dan perusahaan tambang atau perkebunan di berbagai kabupaten Kaltim. Kedua, biaya logistik yang tinggi dan waktu tempuh yang tidak efisien, terutama saat musim hujan ketika jalan tambang dan jalan umum sama-sama terganggu. Ketiga, ketergantungan pada moda sungai yang rentan terhadap fluktuasi debit air dan pendangkalan, sementara pelabuhan-pelabuhan ekspor Kaltim menghadapi keterbatasan kapasitas.

Sebetulnya proyek kereta api logistik Kaltim bukan ide baru. Sejak lebih dari satu dekade lalu, proyek rel sepanjang 203 kilometer yang menghubungkan Kutai Barat, Paser, Penajam Paser Utara, hingga Balikpapan sudah dirancang khusus untuk mengangkut batu bara ke pelabuhan, lengkap dengan rencana jetty batu bara dan pembangkit listrik pendukung. Proyek ini sempat berstatus Proyek Strategis Nasional, tetapi mandek setelah investor asal Rusia mundur, dan sejak itu statusnya turun dari daftar PSN. Kini, dalam revisi terbaru daftar proyek strategis nasional (Permenko Perekonomian No. 16/2025), "Infrastruktur Kereta Api Logistik di Kalimantan Timur" kembali dicantumkan sebagai satu-satunya proyek kereta di Kalimantan yang berstatus PSN — sinyal bahwa pemerintah pusat memang tengah menghidupkan kembali rencana lama, bukan memulai dari nol.

Seberapa besar permintaan riilnya?

Untuk angkutan barang, potensi permintaan relatif jelas: volume ekspor batu bara Kaltim yang mencapai puluhan juta ton per tahun, ditambah kebutuhan distribusi CPO, kayu, dan produk industri pengolahan, secara teoretis cukup untuk menopang kelayakan komersial jalur logistik — asalkan trase dirancang menghubungkan kawasan tambang dan perkebunan langsung ke pelabuhan ekspor, sebagaimana konsep awal proyek 203 km tadi. Ini yang membedakan kereta logistik Kaltim dari kereta penumpang murni: permintaannya sudah ada dan terukur, tinggal soal kelayakan finansial jalur dan skema pembiayaannya.

Untuk angkutan penumpang, gambarannya lebih kabur. Pola permukiman di Kalimantan Timur menyebar dan sebagian besar kota justru terhubung baik lewat jalan raya dan penerbangan perintis, sementara kepadatan penduduk di sepanjang rute potensial jauh lebih rendah dibanding Jawa atau Sumatra. Permintaan penumpang kemungkinan besar akan menjadi produk sampingan dari jalur logistik yang sudah ada, bukan pendorong utama pembangunan rel — kecuali untuk koridor yang terkait langsung dengan mobilitas Samarinda-Balikpapan-IKN, yang punya basis penumpang lebih realistis karena posisinya sebagai pusat kegiatan pemerintahan dan bisnis baru.

 

Prediksi kebutuhan biaya: angka yang terus membengkak dari waktu ke waktu

Salah satu cara paling jujur untuk menilai keseriusan sebuah wacana infrastruktur adalah melihat bagaimana angka kebutuhan dananya berubah dari satu periode perencanaan ke periode berikutnya. Untuk Trans Kalimantan, jejak angkanya cukup panjang dan menunjukkan tren yang jelas: makin lama proyek ini "diwacanakan ulang", makin besar pula estimasi biayanya, sebagian karena cakupan jaringan yang terus diperluas dan sebagian karena tergerusnya nilai waktu uang serta inflasi biaya konstruksi.

  • 2015–2017 (rencana awal era Kemenhub, jaringan 2.428 km dari Kalimantan Utara memutar ke Kalimantan Barat): anggaran tahap awal yang dialokasikan dalam APBN-P hanya sekitar Rp22,9 triliun untuk periode 2015-2019, sementara estimasi total kebutuhan               jaringan      (konstruksi, desain/perizinan, dan sarana/rolling stock) yang dihitung Ditjen Perkeretaapian saat itu mencapai sekitar Rp88,5 triliun untuk beberapa ruas prioritas di Kaltim, Kalsel, dan Kalteng.
  • 2020 (proyek kereta batu bara Kaltim, 203 km single track Kutai Barat-Paser-PPU-Balikpapan): kebutuhan dana ditaksir Rp53,3 triliun, seluruhnya dirancang dari skema business-to-business karena keterbatasan APBN — proyek yang justru kandas setelah investor asal Rusia mundur.
  • 2025 (proyek perintis Kalimantan Utara sebagai "embrio" Trans Kalimantan menuju IKN): nilai investasi disebut sekitar Rp25 triliun untuk segmen awal.
  • 2025 (estimasi APINDO Kaltim khusus untuk jaringan rel di Kalimantan Timur): kalangan pengusaha memperkirakan kebutuhan dana mencapai Rp300-400 triliun, jauh lebih besar dari estimasi resmi periode sebelumnya, dengan penekanan bahwa dana sebesar ini mustahil ditopang APBN dan harus mengandalkan investasi swasta.

  • 2026 (rencana terbaru pemerintah pusat, jaringan 2.772 km dari Singkawang hingga Tanjungselor): Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono menyebut kebutuhan investasi perkeretaapian di luar Jawa (Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi) hingga 2045 mencapai sekitar Rp1.200 triliun untuk total 14.000 km jaringan baru dan reaktivasi; sejumlah media daerah bahkan melekatkan angka Rp1.200 triliun ini secara spesifik pada proyek Trans Kalimantan sepanjang 2.772 km saja — indikasi bahwa cakupan dan sumber angka ini masih simpang siur dan perlu diklarifikasi lebih lanjut oleh pemerintah.
  • Sebagai pembanding skala berbeda: proposal Kereta Cepat Trans Borneo yang diajukan investor Brunei (melintasi Indonesia, Malaysia, dan Brunei sepanjang 1.620 km) ditaksir membutuhkan sekitar 70 miliar dolar AS atau setara Rp1.113 triliun — mengindikasikan bahwa proyek kereta lintas-negara berkecepatan tinggi berada di kelas anggaran yang sama besarnya dengan rencana Trans Kalimantan versi domestik, meski keduanya adalah proyek yang berbeda.

 Rentang estimasi yang begitu lebar — dari puluhan triliun untuk satu ruas prioritas hingga lebih dari seribu triliun untuk jaringan penuh se-Kalimantan — menunjukkan bahwa "kebutuhan biaya Trans Kalimantan" sesungguhnya sangat bergantung pada definisi cakupan proyek: apakah yang dimaksud satu koridor logistik prioritas di Kaltim, jaringan penuh keliling pulau, atau bagian dari program nasional

14.000 km hingga 2045. Sejauh ini pemerintah pusat belum merilis dokumen resmi yang memisahkan angka-angka tersebut secara spesifik per ruas dan per tahap, sehingga publik hanya bisa merujuk pada estimasi yang berserakan di berbagai sumber.

Kemampuan pembiayaan: titik paling rawan

Terlepas dari besaran pastinya, satu hal jelas: kebutuhan dana Trans Kalimantan, dalam skenario mana pun, jauh melampaui kapasitas APBN untuk dibiayai sendirian. Proyek kereta batu bara Kaltim generasi sebelumnya yang bernilai Rp53,3 triliun saja sudah dirancang seluruhnya dari skema swasta murni karena keterbatasan APBN — dan proyek itu justru gagal berjalan karena investor asing mundur. Jika Trans Kalimantan yang dibayangkan sekarang benar mencakup jaringan sepanjang 2.772 kilometer di seluruh Pulau Kalimantan dengan kebutuhan dana di kisaran ratusan hingga lebih dari seribu triliun rupiah, kapasitas fiskal APBN — yang juga tengah dialokasikan besar-besaran untuk Trans Sumatra dan pembangunan IKN — jelas tidak akan mencukupi tanpa kombinasi skema KPBU, pinjaman lembaga multilateral, atau investasi B2B berskala besar.

Realitas ini membuat keberhasilan proyek sangat bergantung pada tiga hal: kejelasan skema pembiayaan (business-to-business, KPBU, atau kombinasi keduanya), kepastian trase yang menjamin volume angkutan minimum bagi investor, dan konsistensi kebijakan lintas periode pemerintahan — mengingat proyek serupa sebelumnya justru terhenti bukan karena tidak ada rencana, melainkan karena investor kehilangan kepercayaan di tengah jalan. Instruksi presiden yang bersifat simbolis di acara peresmian stasiun bersejarah adalah langkah awal yang baik, tetapi publik Kaltim — yang sudah mendengar janji kereta batu bara sejak lebih dari satu dekade lalu — punya alasan untuk menunggu dokumen konkret: trase resmi, hasil studi kelayakan terbaru, dan yang terpenting, siapa yang benar-benar bersedia membiayainya.

Rekomendasi agar Trans Kalimantan tidak bernasib sama dengan proyek-proyek sebelumnya

Belajar dari dua dekade wacana yang berulang kali kandas, ada sejumlah langkah konkret yang idealnya diambil pemerintah pusat maupun daerah agar instruksi Presiden Prabowo kali ini benar-benar berujung pada rel yang terbangun, bukan sekadar pernyataan seremonial lainnya.

Untuk pemerintah pusat:

  1. Satukan  angka  dan  dokumen resmi. Selama kebutuhan biaya masih simpang siur antara puluhan hingga lebih dari seribu triliun rupiah tergantung sumber yang dikutip, sulit bagi investor maupun DPR untuk menilai kelayakan proyek. Pemerintah —           melalui Kemenko Infrastruktur, Kemenhub, dan Bappenas — perlu merilis satu dokumen induk (masterplan) resmi yang memecah proyek per ruas, per tahap, dan per skema pembiayaan, lengkap dengan studi kelayakan yang terbuka untuk publik.

2.       Prioritaskan ruas dengan kepastian kargo, bukan jaringan penuh sekaligus. Mengingat keterbatasan fiskal, akan lebih realistis memulai dari koridor yang sudah punya volume angkutan terukur— misalnya ruas tambang-ke-pelabuhan di Kaltim yang sempat dirancang KPPIP — dibanding langsung menjanjikan jaringan 2.772 km se-Kalimantan. Keberhasilan satu ruas percontohan akan menjadi bukti kelayakan (proof of concept) yang menarik investor untuk ruas berikutnya.

  1. Perbaiki tata kelola skema B2B dan KPBU agar tidak berulang gagal seperti 2020. Kegagalan investor Rusia mundur dari proyek kereta batu bara Kaltim menunjukkan perlunya jaminan pemerintah (government guarantee), kepastian regulasi lahan, dan skema mitigasi risiko yang lebih kuat sebelum menawarkan proyek ke investor swasta atau asing berikutnya.
  2. Jamin konsistensi kebijakan lintas periode pemerintahan. Karena horizon proyek serupa ini bisa mencapai puluhan tahun (hingga 2045 dalam rencana AHY), status Proyek Strategis Nasional saja tidak cukup; diperlukan payung hukum yang lebih permanen — misalnya melalui Peraturan Presiden khusus atau bahkan undang-undang—    agar proyek tidak mudah dicabut atau diturunkan statusnya seperti yang terjadi pada proyek 2020.

  1. Buka opsi pendanaan campuran, bukan bergantung pada satu skema. Kombinasi APBN untuk porsi yang secara komersial tidak layak (non-feasible), pinjaman lembaga multilateral atau bilateral, KPBU untuk segmen dengan trafik terjamin, serta B2B murni untuk jalur tambang privat, akan lebih realistis dibanding menunggu satu investor tunggal menanggung seluruh proyek seperti pola lama.

 Untuk pemerintah daerah (Kaltim dan provinsi Kalimantan lainnya): 

  1. Siapkan kepastian lahan dan perizinan lebih awal. Salah satu faktor yang membuat investor ragu pada proyek-proyek infrastruktur di Kalimantan adalah tumpang tindih lahan antara kawasan tambang, hutan, dan adat. Pemda perlu memetakan dan mengamankan status lahan di sepanjang trase yang diusulkan sebelum proyek ditawarkan ke investor, agar tidak terulang pola mangkraknya proyek karena sengketa lahan.

    1. Dorong keterlibatan sektor swasta lokal, bukan hanya menunggu investor asing. Sinyal dari APINDO Kaltim yang sudah menghitung potensi penurunan biaya logistik hingga 20-30 persen menunjukkan ada insentif komersial bagi pelaku usaha tambang dan perkebunan lokal untuk turut serta membiayai atau menjadi off-taker jalur kereta, bukan sekadar menjadi pengguna pasif.

    2. Integrasikan rencana rel dengan tata ruang dan rencana pembangunan daerah (RTRW/RPJMD). Agar jalur kereta benar-benar mendukung diversifikasi ekonomi yang sedang diupayakan Kaltim (bukan sekadar memperpanjang umur ekonomi batu bara), trase idealnya juga menjangkau kawasan industri pengolahan dan kawasan penyangga IKN, bukan hanya jalur tambang eksisting.

    3. Bangun basis data permintaan angkutan penumpang yang kredibel. Karena potensi penumpang KA di Kaltim masih spekulatif dibanding potensi barang, pemda dan Bappeda perlu melakukan studi mobilitas menyeluruh — terutama untuk koridor Samarinda-Balikpapan-IKN — sebelum ikut mendorong pembangunan segmen penumpang yang berisiko rendah okupansi jika dipaksakan terlalu dini.

    4. Kawal proyek secara aktif lewat forum multi-pihak antarprovinsi. Karena Trans Kalimantan melintasi banyak provinsi dengan kepentingan yang bisa berbeda, gubernur-gubernur se-Kalimantan perlu forum koordinasi permanen agar rencana trase, pembagian manfaat ekonomi, dan tekanan kepada pemerintah pusat berjalan satu suara — sesuatu yang selama ini belum terlihat kuat dan membuat wacana lintas provinsi ini mudah kehilangan momentum.

 

Pada akhirnya, keberhasilan Trans Kalimantan tidak ditentukan oleh seberapa besar instruksi presiden digaungkan di panggung seremonial, melainkan oleh seberapa cepat pemerintah pusat dan daerah menerjemahkannya menjadi dokumen, anggaran, dan komitmen yang bisa dipegang investor — hal yang justru paling sering hilang di setiap babak wacana kereta Kalimantan sebelumnya.


Editor : Maulana
Tags : Opini

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%0%0%0%
Sebelumnya :
Berikutnya :