Setelah belasan siswa SMP Vidatra dirawat akibat gangguan kesehatan usai menyantap MBG, Pemkot Bontang menguliti dapur penyedia makanan. Hasilnya, sejumlah catatan ditemukan.
EKSPOSKALTIM, Bontang – Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bontang Selatan 5 dihentikan sementara setelah sejumlah siswa SMP Vidatra mengalami gangguan kesehatan usai mengonsumsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG).
Pemerintah Kota Bontang langsung melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke dapur tersebut pada Selasa (11/8) untuk mengevaluasi proses penyediaan makanan.
Sidak dilakukan menyusul laporan puluhan siswa mengalami mual, muntah, hingga sesak napas setelah menyantap menu MBG. Sebagian siswa bahkan harus menjalani perawatan di RS LNG Badak.
Wakil Wali Kota Bontang Agus Haris mengatakan hasil peninjauan menemukan sejumlah aspek yang perlu dibenahi, terutama pada tahap penerimaan dan penyimpanan bahan baku.
Menurutnya, ruang penerimaan bahan baku yang digunakan saat ini masih terlalu sempit untuk melayani kebutuhan sekitar 2.000 penerima manfaat setiap hari.
“Kalau melayani 2.000 dengan ruang yang kecil, saya anggap masih belum ideal,” ujarnya.
Selain itu, Agus juga menyoroti penggunaan papan berbahan plywood sebagai alas penyimpanan bahan makanan. Material tersebut dinilai berpotensi menyimpan debu dan kotoran karena memiliki pori-pori yang sulit dibersihkan secara maksimal.
“Plywood itu belum terlalu bersih. Saya minta ditutup plastik. Jadi dia bersih terus. Walaupun kena debu, sekali dikasih kain basah dan kain kering, insyaallah bersih,” katanya.
Soroti Pemeriksaan Bahan
Agus menegaskan titik paling krusial berada pada proses pemeriksaan bahan baku saat pertama kali diterima.
Menurutnya, setiap bahan pangan harus diperiksa satu per satu sebelum masuk ke dapur dan tidak boleh langsung diterima dalam jumlah besar tanpa seleksi.
“Dari ratusan itu jeruk enggak boleh langsung kita angkut semua. Harus dipilih satu-satu. Termasuk ayam juga,” tegasnya.
Meski menemukan sejumlah catatan pada tahap awal, Agus memastikan proses pengolahan makanan di dalam dapur, mulai dari memasak hingga pengeringan, secara umum telah memenuhi standar yang berlaku.
“Semua prosesnya dari tempat masak, pengeringan, sudah sesuai standar. Kehati-hatian kepala dapur pada saat menerima bahan awal itu yang menjadi catatan kami setelah melihat langsung lokasi,” jelasnya.
Ia juga meminta kepala SPPG tidak hanya mengawasi melalui kamera pengawas atau CCTV.
Menurut Agus, pengawasan harus dilakukan secara langsung sejak bahan diterima, diolah, hingga didistribusikan kepada penerima manfaat.
“Kepala itu tidak boleh memantau dari CCTV saja, tapi harus sudah melihat bahan masuk sampai proses pendistribusian,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala SPPG Bontang Selatan 5 menyatakan seluruh proses penyediaan MBG selama ini telah mengikuti standar operasional prosedur (SOP) yang berlaku.
Namun, ia mengakui kemungkinan masih terdapat kelalaian pada beberapa tahapan dan menyampaikan permintaan maaf kepada siswa maupun pihak sekolah yang terdampak.
“Mungkin ada lalai dalam beberapa tahap, maka kami meminta maaf kepada para siswa dan sekolah yang terdampak,” tandasnya.



