Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang selama ini disalurkan di sekolah juga ikut dihentikan hingga kegiatan belajar tatap muka kembali dibuka.
EKSPOSKALTIM, Bontang– Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Bontang dihentikan sementara menyusul kebijakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang diterapkan pemerintah daerah akibat memburuknya kualitas udara karena kabut asap.
Koordinator Badan Gizi Nasional (BGN) Wilayah Bontang, Surya Dwi Saputra, mengatakan penghentian penyaluran MBG dilakukan untuk menyesuaikan kebijakan pembelajaran yang berlaku di sekolah.
“Pada dasarnya penyaluran Program MBG mengikuti edaran dari pemkot setempat,” kata Surya, Kamis (17/9/2026).
Menurutnya, penghentian sementara tersebut tidak berkaitan dengan persoalan anggaran maupun ketersediaan logistik. Program hanya menyesuaikan perubahan metode pembelajaran dari tatap muka menjadi daring.
Ketika siswa tidak lagi hadir di sekolah, distribusi makanan bergizi yang selama ini dilakukan melalui satuan pendidikan otomatis ikut disesuaikan.
Surya mengatakan BGN telah menerima draf surat edaran terkait penerapan PJJ di Kota Bontang.
Kebijakan tersebut diambil pemerintah daerah sebagai langkah mengurangi risiko gangguan kesehatan siswa akibat paparan udara yang memburuk dalam beberapa hari terakhir.
Meski demikian, penyaluran MBG pada Kamis masih tetap berlangsung di sejumlah sekolah.
Hal itu karena sebagian siswa masih mengikuti pembelajaran tatap muka dan makanan telah dipersiapkan sebelum kebijakan PJJ diberlakukan.
“Untuk penyaluran MBG hari ini masih dilakukan, karena sebagian siswa juga masih masuk sekolah dan makanan sudah siap dibagikan,” ujarnya.
Surya menjelaskan setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Bontang terus berkoordinasi dengan pihak sekolah guna menyesuaikan distribusi berdasarkan kondisi masing-masing satuan pendidikan.
Berdasarkan draf surat edaran yang diterima BGN, pembelajaran jarak jauh dijadwalkan berlangsung selama dua hari, yakni 18 hingga 19 September 2026.
Selama periode tersebut, penyaluran MBG di sekolah yang menerapkan PJJ dihentikan sementara.
Setelah masa PJJ berakhir, Pemerintah Kota Bontang akan melakukan evaluasi terhadap perkembangan kualitas udara sebelum memutuskan apakah kegiatan belajar tatap muka dapat kembali dilaksanakan.
Evaluasi tersebut akan mempertimbangkan hasil pemantauan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di wilayah Bontang.
Surya menegaskan penghentian program hanya bersifat sementara dan penyaluran akan kembali dilakukan setelah sekolah kembali dibuka.
“Jadi kami menunggu penetapan dari pemerintah daerah,” katanya.
Dalam beberapa hari terakhir, kabut asap akibat karhutla juga berdampak pada aktivitas pendidikan di sejumlah daerah di Kalimantan. Pemerintah daerah mulai mengambil langkah pembatasan aktivitas luar ruangan dan penyesuaian kegiatan sekolah untuk mengurangi risiko paparan polusi terhadap peserta didik. (ant)


