Keluarga menduga asap karhutla berkaitan dengan kematian balita di Palaran, Dinkes Samarinda mengungkap hasil diagnosis terakhir dokter.
EKSPOSKALTIM, Samarinda – Seorang balita berusia satu tahun di Palaran, Samarinda, meninggal dunia setelah mengalami sesak napas di tengah kondisi udara yang sempat masuk kategori tidak sehat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Keluarga menduga asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyelimuti permukiman pada malam sebelum kejadian berkaitan dengan kondisi korban. Namun, Dinas Kesehatan (Dinkes) Samarinda menegaskan kematian balita tersebut bukan akibat asap karhutla berdasarkan diagnosis terakhir dokter yang merawatnya.
Kematian balita berinisial YS itu terjadi di Rumah Sakit Mulya Medika Samarinda, Kamis (15/10). Sebelum meninggal, YS sempat dibawa ke puskesmas dan kemudian dirujuk ke rumah sakit untuk mendapat penanganan lebih lanjut hingga menjalani perawatan intensif di Pediatric Intensive Care Unit (PICU).
Dugaan keluarga mengenai paparan asap muncul setelah mereka merasakan asap kebakaran lahan begitu pekat di sekitar tempat tinggalnya di kawasan Bukuan, pada malam sebelum YS meninggal dunia.
Sebelumnya kakek korban, Sarno (62), mengatakan sesak napas yang dialami cucunya muncul secara mendadak. Keluarga kemudian berupaya mencari pertolongan medis dengan membawa YS ke puskesmas terdekat pada Rabu (14/10) pagi.
“Sesaknya mendadak. Dibawa ke puskesmas dapat rujukan ke RS Mulya Medika. Semalam saja di rumah sakit, paginya meninggal,” ujar Sarno.
Sarno menduga asap kebakaran lahan yang mencapai permukiman mungkin berkaitan dengan gangguan pernapasan cucunya. Meski begitu, ia mengakui keluarga tidak mengetahui penyebab pasti sesak napas maupun kematian YS.
“Kalau kemungkinan karena asap, iya. Memang kabut asapnya tinggi sekali kalau sedang terjadi kebakaran,” katanya.
Kekhawatiran keluarga itu muncul ketika kualitas udara Samarinda memang tercatat memburuk. Berdasarkan pemantauan Stasiun Laboratorium Kesehatan Daerah Provinsi Kalimantan Timur pada Jumat (16/10) pukul 07.00 WITA, Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) berada di angka 131 dengan parameter kritis PM2.5.
Angka tersebut masuk kategori tidak sehat, yang berpotensi berdampak pada kesehatan masyarakat, terutama kelompok sensitif.
Bahkan, grafik pemantauan selama 24 jam sebelumnya menunjukkan ISPU Samarinda sempat melonjak hingga 259 pada Kamis (15/10) pukul 09.00 WITA. Setelah berangsur turun menjelang tengah malam hingga kisaran 115, kualitas udara kembali berfluktuasi pada dini hari 16 Oktober, dengan angka berkisar 133 hingga 153.
Dinkes: Bukan karena Asap Karhutla
Kepala Dinkes Samarinda, Ismed Kusasih, mengatakan pihaknya telah melakukan penelusuran dan surveilans terhadap kasus tersebut. Dinkes menelusuri informasi ke rumah sakit tempat YS menjalani perawatan terakhir sebelum meninggal dunia.
“Penyebab kematian balita tersebut bukan karena (asap) karhutla,” kata Ismed kepada EksposKaltim, Jumat (16/10).
Menurut Ismed, penetapan penyebab kematian mengacu pada diagnosis terakhir dokter yang merawat pasien. Berdasarkan penelusuran Dinkes, diagnosis tersebut tidak menyebut paparan asap karhutla sebagai penyebab kematian YS.
Meski tak menyebutkan diagnosis yang dialami YS, Ismed kembali menegaskan bahwa YS meninggal bukan karena akibat asap karhutla.
Sebelumnya, Dinkes Samarinda juga menyebut YS memiliki penyakit bawaan berdasarkan informasi dari pihak rumah sakit. Namun, jenis penyakit tersebut tidak dirinci dalam keterangan yang disampaikan.
“Tidak disebutkan bahwa yang bersangkutan meninggal karena (asap) karhutla,” pungkasnya.



