PORTAL BERITA ONLINE NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE BERANI BEDA..!! MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

Samarinda Andalkan Insinerator, tapi Sampah Tak Terpilah Bisa Bikin Asap Keluar

Home Berita Samarinda Andalkan Insine ...

Insinerator Samarinda disebut mampu mengurangi sampah ke TPA, tetapi pengoperasiannya masih bergantung pada pemilahan sejak TPS.


Samarinda Andalkan Insinerator, tapi Sampah Tak Terpilah Bisa Bikin Asap Keluar
Salah satu TPS di Samarinda. Ilustrasi: Pemilahan sampah di TPS menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung kinerja insinerator di Samarinda. Ekspos/Sintya

EKSPOSKALTIM, Samarinda – Insinerator yang diandalkan Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda untuk mengurangi timbulan sampah masih menghadapi persoalan teknis dalam pengoperasiannya. Selain belum dilengkapi sensor untuk memantau jumlah sampah yang dimasukkan ke mesin, proses pembakaran juga berpotensi menghasilkan asap apabila sampah yang diolah tidak sesuai dengan karakteristik insinerator.

Terlebih insinerator yang disiapkan memang dirancang sebagai upaya Pemkot Samarinda mengurangi beban tempat pemrosesan akhir (TPA) Sambutan. Sebab, keberadaan insinerator tidak serta-merta menyelesaikan persoalan sampah jika jenis material yang masuk tidak terkendali dan pengoperasiannya masih memiliki keterbatasan.

Asisten II Pemkot Samarinda, Marnabas Patiroy, mengakui pemilahan sampah menjadi salah satu faktor yang menentukan kinerja insinerator. Ia meminta sampah dipilah sejak dari tempat penampungan sementara (TPS), karena tidak semua jenis sampah dapat langsung dimasukkan ke mesin tersebut.

“Jangan semua barang itu masukkan di insinerator, karena insinerator itu punya dua kelemahan: barang-barang yang anorganik dan yang kimia, khususnya barang-barang seperti kaca beling, besi, itu tidak bisa dioperasikan situ,” ujarnya.

Menurut Marnabas, sampah yang tidak sesuai dengan kebutuhan pengolahan dapat mengganggu proses kerja mesin sekaligus memengaruhi hasil operasional. Pemkot, kata dia, telah memiliki TPS terpilah di kawasan Loa Janan yang dinilai dapat membantu memastikan sampah masuk ke insinerator dalam kondisi lebih sesuai.

“TPS terpilah. Karena akhirnya produksinya bisa maksimal dan tidak mengganggu konsentrasi di insinerator itu,” katanya.

Namun persoalannya tidak berhenti pada pemilahan. Marnabas juga mengakui sampah yang tidak terpilah dapat menimbulkan asap ketika diolah. Padahal, insinerator yang digunakan telah dilengkapi teknologi pengendalian asap dengan mengalirkan bagian corong ke dalam air.

“Kita kan pakai teknologi corongnya itu kita masukkan di air supaya asapnya tidak keluar. Tapi kalau barang atau sampah yang masuk itu tidak terpilah, bisa menimbulkan asap juga,” jelasnya.

Di sisi lain, Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 (PSLB3) DLH Samarinda, Muhammad Taufiq Fajar, sebelumnya juga mengakui pemantauan mesin masih dilakukan secara manual. Belum tersedia sensor yang dapat memberi peringatan ketika jumlah sampah yang dimasukkan melampaui atau berada di bawah batas yang sesuai.

Taufiq juga menjelaskan, asap terkadang terlihat keluar selama beberapa detik saat sampah dimasukkan ke mesin. Kondisi itu dapat terekam kamera dan menimbulkan kesan seolah-olah asap keluar dari perangkat insinerator. Ia menyebut pihaknya masih membutuhkan sistem peringatan dini agar operator mengetahui kapan penambahan sampah harus dihentikan.

Keterbatasan tersebut menjadi pekerjaan rumah dalam pengoperasian insinerator, terutama ketika kualitas udara memburuk akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Bahkan DLH sebelumnya sempat menghentikan sementara seluruh operasional insinerator ketika kondisi udara berada di atas ambang normal atau masuk kategori tidak sehat.

Langkah itu diambil untuk mengurangi paparan terhadap pekerja sekaligus menghindari kesalahpahaman masyarakat mengenai sumber asap.

Target 10 Ton per Hari

Di tengah keterbatasan tersebut, Pemkot Samarinda tetap menargetkan setiap unit insinerator mampu mengolah 10 ton sampah per hari. Marnabas menyatakan fasilitas yang relatif baru beroperasi itu sudah memberikan dampak terhadap pengurangan sampah yang dibuang ke TPA Sambutan.

“Namanya baru, ya. Yang jelas sudah mengurangi. Kita target satu insinerator itu 10 ton per hari,” ujarnya.

Pemkot juga berencana meningkatkan kapasitas pengolahan melalui penambahan jam operasional jika diperlukan. Selain itu, pemerintah merencanakan pembangunan insinerator berukuran lebih besar di kawasan TPA, dengan sasaran mengolah sampah yang tidak dapat ditangani melalui proses pengelolaan lainnya.

“Jadi yang kita buang ke TPA itu nanti adalah barang-barang yang memang tidak bisa dikelola. Insya Allah,” katanya.

Untuk mendukung rencana tersebut, Marnabas mengatakan Pemkot akan memperluas edukasi pemilahan sampah melalui camat, lurah, ketua RT, hingga sekolah. Masyarakat akan didorong memisahkan sampah organik dan anorganik sejak dari rumah, termasuk menempatkan material seperti kaca dan beling secara terpisah.

“Secara masif juga saya akan memanggil lurah, camat, RT nanti. RT juga kami nanti supaya ke masyarakat, supaya ada pemilahan,” pungkasnya.


Editor : Maulana

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%0%0%0%
Sebelumnya :