PORTAL BERITA ONLINE NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE BERANI BEDA..!! MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

Dinamika Atmosfer MJO Bayangi Kalimantan: BMKG Ingatkan Potensi Hujan Lebat Usai Bencana di Jawa

Home Berita Dinamika Atmosfer Mjo Bay ...

Aktivitas dinamika atmosfer secara spasial mengintai sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Pulau Kalimantan.


Dinamika Atmosfer MJO Bayangi Kalimantan: BMKG Ingatkan Potensi Hujan Lebat Usai Bencana di Jawa
Ilustrasi mendung sebagai penanda perubahan musim. BMKG memprakirakan awal musim hujan 2026/2027 di sebagian besar wilayah Kalimantan Timur mundur hingga satu bulan akibat pengaruh El Nino kategori sangat kuat. Foto: Istimewa

EKSPOSKALTIM, Jakarta - Aktivitas dinamika atmosfer secara spasial mengintai sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Pulau Kalimantan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau warga di regional Borneo mewaspadai potensi hujan lebat akibat dampak belokan angin dan fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO), setelah curah hujan ekstrem hingga 349 milimeter terbukti memicu banjir bandang dan longsor di Pulau Jawa.

Ketua Tim Kerja Pelayanan Data dan Diseminasi Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap, Teguh Wardoyo, menjelaskan bahwa curah hujan dengan intensitas lebat hingga ekstrem melanda sejumlah wilayah sejak Jumat (30/10/2026) malam hingga Sabtu (31/10/2026) pagi.

"Berdasarkan data curah hujan pada Sabtu pagi, di Bandara Tunggul Wulung Cilacap tercatat 241 milimeter, Rawalo Banyumas 117 milimeter, Dam Piasa Kulon Somagede Banyumas 141 milimeter, dan DPU Banyumas 138 milimeter," kata Teguh di Cilacap, Sabtu.

Selain itu, curah hujan di Pos Pengamatan Dayeuhluhur tercatat 79 milimeter, Jeruklegi/Jambusari 349 milimeter, Rembang Purbalingga 158 milimeter, Maos 196 milimeter, serta Jeruklegi 107 milimeter.

Sebagai acuan teknis BMKG, kategori hujan ringan memiliki intensitas 5–20 milimeter, hujan sedang 20–50 milimeter, hujan lebat 50–100 milimeter, hujan sangat lebat 100–150 milimeter, dan dikategorikan hujan ekstrem jika melebihi 150 milimeter per hari.

“Tingginya curah hujan tersebut kemungkinan dipicu oleh aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) yang turut memengaruhi dinamika atmosfer di wilayah Indonesia,” terang Teguh.

Berdasarkan analisis dinamika atmosfer BMKG per 31 Oktober 2026, indeks Southern Oscillation Index (SOI) tercatat minus 14,5, indeks ENSO di Nino 3.4 sebesar plus 2,88, dan Dipole Mode Index (DMI) plus 0,69. Ketiga indikator ini dinyatakan tidak berpengaruh langsung terhadap peningkatan pola konvektif di wilayah Indonesia.

Sementara itu, MJO saat ini berada pada Fase 2 di Samudra Hindia yang secara umum kurang berkontribusi terhadap pembentukan awan hujan nasional. Kendati demikian, dampak pergerakannya secara spasial tetap wajib diwaspadai di daerah lain, termasuk wilayah Kalimantan.

“Namun secara spasial, aktivitasnya diprakirakan terjadi di sejumlah wilayah, termasuk Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, sebagian Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua,” jelasnya.

Teguh menambahkan, dinamika atmosfer lainnya seperti belokan angin dan daerah konvergensi juga berpotensi mendukung pertumbuhan awan hujan secara intensif. Kondisi ini meningkatkan potensi cuaca buruk yang perlu diantisipasi secara dini oleh masyarakat.

“Kami mengimbau masyarakat, khususnya yang tinggal di wilayah rawan banjir dan tanah longsor, untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak hujan lebat serta memantau perkembangan informasi cuaca dari BMKG,” pungkas Teguh.


Editor : Maulana

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%0%0%0%
Sebelumnya :
Berikutnya :