Samarinda dan sekitarnya mulai sering diguyur hujan, benarkah musim kemarau sudah resmi berakhir?
EKSPOSKALTIM, Samarinda – Hujan yang mulai turun di sejumlah wilayah Kalimantan Timur (Kaltim), termasuk Samarinda, menandai berlangsungnya peralihan dari musim kemarau menuju musim hujan. Namun, peningkatan curah hujan tersebut tidak semata-mata dipengaruhi pergantian musim.
Aktifnya fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO) turut mendorong pertumbuhan awan yang berpotensi menghasilkan hujan di wilayah Kalimantan.
Forecaster BMKG Kota Samarinda, Fiona Alya Hanifah, mengatakan kondisi hujan dalam beberapa waktu terakhir berkaitan dengan aktivitas MJO yang memengaruhi pertumbuhan awan. Ketika fenomena tersebut aktif, peluang terbentuknya awan hujan di Kalimantan, termasuk Kalimantan Timur, cenderung meningkat.
“Jadi untuk kejadian hujan akhir-akhir ini dipengaruhi oleh adanya aktifnya MJO, semacam salah satu variabilitas iklim juga,” kata Fiona, Kamis (5/11).
Selain MJO, kondisi atmosfer di wilayah Indonesia juga mulai dipengaruhi pergerakan angin dari Asia. Meski demikian, angin dari Australia masih turut berpengaruh sehingga wilayah Kaltim berada dalam fase peralihan musim.
“Jadi kalau MJO-nya lagi aktif cenderung untuk meningkatnya pertumbuhan awan yang berpotensi hujan di Kalimantan. Masih peralihan dari musim kemarau ke musim hujan,” jelasnya.
Meski hujan mulai turun, BMKG belum memprakirakan curah hujan tinggi secara merata di seluruh wilayah Kaltim pada awal November. Untuk dasarian pertama November, curah hujan di Samarinda diperkirakan masih berada pada kategori menengah, dengan kisaran 50–75 milimeter.
Sementara itu, sejumlah wilayah lain di Kaltim diprediksi berpotensi menerima curah hujan lebih tinggi. Kutai Barat dan Mahakam Ulu, misalnya, masuk kategori menengah dengan kisaran curah hujan 100–150 milimeter.
“Kalau untuk Samarinda masih kategori yang 50 sampai 75,” sebut Fiona.
BMKG memperkirakan peralihan musim di Samarinda masih berlangsung sesuai prakiraan sebelumnya. Awal November menjadi periode transisi, sedangkan musim hujan diperkirakan mulai memasuki wilayah ini pada pertengahan November.
“Kurang lebih masih sesuai dengan prakiraan sebelumnya yaitu pertengahan November musim hujannya. Jadi peralihan musimnya mungkin awal November-nya,” ujarnya.
Hujan Bantu Bersihkan Partikulat, tetapi Api Harus Dipadamkan Lebih Dulu
Di tengah hujan yang mulai turun, persoalan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi perhatian. Fiona menjelaskan, hujan memang dapat membantu memperbaiki kualitas udara melalui proses pencucian atmosfer atau atmospheric washout. Namun, proses tersebut tidak serta-merta menghilangkan asap selama sumber kebakaran masih ada.
Menurutnya, hujan perlu terlebih dahulu memiliki intensitas yang cukup untuk membantu memadamkan api. Setelah sumber asap berkurang, air hujan dapat membantu menurunkan konsentrasi partikulat yang berada di atmosfer.
“Sebenarnya kan asap itu ada karena ada sumbernya. Jadi misalkan ada hujan itu bantu menurunkan konsentrasi partikulat yang ada di atmosfer. Sehingga tidak jadi asap,” terangnya.
Kendati demikian, BMKG belum dapat memastikan seberapa banyak curah hujan yang dibutuhkan untuk memperbaiki kualitas udara. Fiona menyebut, dengan mulai masuknya masa peralihan musim dan hujan yang turun di beberapa wilayah Kaltim, kualitas udara diperkirakan dapat berangsur membaik.
Fiona juga menyampaikan jumlah titik panas yang terpantau melalui satelit telah berkurang dibandingkan bulan-bulan sebelumnya.
Ia menegaskan, terkait titik panas atau hotspot tidak dapat disamakan langsung dengan titik api. Pengamatan satelit mendeteksi anomali suhu pada suatu wilayah, yakni area yang memiliki suhu lebih tinggi dibandingkan lingkungan sekitarnya. Khusus Samarinda, Fiona menyebut tidak ada lagi titik merah yang terpantau dalam pemantauan tersebut.
Lebih lanjut, mulainya musim hujan di sejumlah wilayah Indonesia tidak serta-merta berarti pengaruh El Nino telah berakhir. Fiona menjelaskan, puncak El Nino tidak selalu bertepatan dengan puncak musim kemarau. Bahkan, meskipun El Nino kuat diperkirakan masih berlangsung hingga awal 2027, sejumlah wilayah dengan pola hujan monsunal tetap mulai memasuki musim hujan pada November.
Untuk puncak musim hujan, Fiona menyebut perkiraannya masih berada di sekitar periode normal, yakni Januari hingga Februari atau awal tahun mendatang. Dalam kondisi tersebut, pengaruh angin monsun dinilai lebih kuat dibandingkan pengaruh El Nino.
Meski demikian, keberadaan El Nino masih berpotensi memengaruhi intensitas curah hujan. Fiona menyebut hujan yang turun bisa saja tidak seintens kondisi normal, meskipun prakiraan sebelumnya masih menunjukkan curah hujan berada dalam kategori normal.
“Kemarin prediksinya masih normal kalau curah hujannya. Tapi nanti kami akan update lagi prakiraannya,” pungkasnya.



