PORTAL BERITA ONLINE NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE BERANI BEDA..!! MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

14.503 Warga Sudah Diskrining, Penemuan Kasus TBC Samarinda Masih 42 Persen

Home Berita 14.503 Warga Sudah Diskri ...

Perburuan kasus Tuberkulosis (TBC) di Samarinda masih jauh dari kata selesai.


14.503 Warga Sudah Diskrining, Penemuan Kasus TBC Samarinda Masih 42 Persen
ILUSTRASI— Warga mengantre untuk mendapatkan pelayanan kesehatan di salah satu puskesmas di Samarinda. Ekspos/Sintya

EKSPOSKALTIM, Samarinda— Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda memperluas perburuan kasus Tuberkulosis (TBC) hingga ke lingkungan masyarakat. Sejak Agustus 2026, Dinas Kesehatan (Dinkes) Samarinda menggelar tracing TBC terintegrasi dengan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) dan telah menjangkau 118 lokus hingga September 2026.

Langkah ini bukan tanpa alasan. Di balik masifnya skrining, capaian penemuan kasus TBC di Samarinda sepanjang Januari-September 2026 baru mencapai 2.456 kasus atau 42 persen dari target 5.855 kasus.
Artinya, masih ada pekerjaan besar untuk menemukan kasus yang belum teridentifikasi.

Persoalannya pun tidak berhenti pada penemuan. Data Dinkes Samarinda menunjukkan capaian investigasi kontak baru 37 persen dari jumlah pasien TBC yang diobati. Sementara terapi pencegahan TBC (TPT) baru diberikan kepada 183 orang atau sekitar 3 persen.

Pada sisi pengobatan, tingkat kesembuhan TBC sensitif obat dari cohort 2025 tercatat 66,65 persen, masih di bawah target 90 persen karena sebagian pasien masih menjalani pengobatan.

Kepala Dinkes Samarinda, Ismed Kusasih, mengatakan TBC menjadi salah satu penyakit yang wajib ditangani pemerintah daerah melalui Standar Pelayanan Minimal (SPM) kesehatan.

“Karena TBC itu kan satu dari 12 Standar Pelayanan Minimal (SPM) yang harus dijalankan. Maka itu harus dijalankan,” kata Ismed (2/10).

Ia menegaskan, indikator SPM tersebut tidak dapat diterjemahkan sebagai jumlah penderita TBC. Ukurannya adalah jumlah orang yang diduga menderita TBC dan berhasil mendapatkan pemeriksaan.

“Kalau di Kota Samarinda, kita di atas target, capaian kita di atas target rata-rata nasional. Jadi tahun lalu SPM kita 93 persen,” ujarnya.

Ismed menjelaskan, kebijakan tracing TBC tahun ini merupakan bentuk percepatan karena capaian penemuan kasus secara nasional masih dinilai rendah. Menurut Ismed, beban TBC Indonesia menjadi salah satu alasan penyakit tersebut mendapat perhatian lebih besar dalam program kesehatan nasional.

“Makanya TBC itu sekarang menjadi fokus perhatian daripada Kementerian Kesehatan,” jelasnya.

Dari sana, tracing diarahkan untuk mempercepat pemeriksaan terhadap masyarakat yang diduga terpapar atau mengalami gejala TBC. Program tracing tersebut baru berjalan tahun ini dan dimulai pada Agustus. Hingga akhir September, sebanyak 118 lokus telah ditangani.

Ismed menyebut kegiatan tersebut akan terus diperluas hingga mencapai sekitar 239 lokus. Pelaksanaannya terintegrasi dengan CKG melalui dua metode, yakni skrining berdasarkan gejala serta skrining gejala yang dilanjutkan pemeriksaan X-ray.

Untuk satu lokus dengan pemeriksaan X-ray, sebanyak 12 petugas dilibatkan. Mereka terdiri dari satu narasumber, dua petugas radiografer, lima tenaga kesehatan puskesmas, dua kader dan dua orang pendamping dari Dinkes. Samarinda sendiri memiliki satu unit mobile X-ray untuk pemeriksaan TBC yang berasal dari RS IA Moeis.

“Kemudian ada lima nakes Puskesmas yang turun setiap lokus. Ada lima kader dan dua orang pendampingan dari Dinas,” ungkapnya. 

Skrining 14.503 Orang, Tapi Tindak Lanjut Masih Jadi Pekerjaan

Sepanjang Januari-September 2026, Dinkes mencatat skrining TBC telah mencapai 14.503 orang. Capaian SPM berada pada angka 66 persen atau 13.131 dari target 19.909 orang.
Namun, tingginya aktivitas skrining belum otomatis berbanding lurus dengan capaian seluruh indikator penanggulangan TBC.

Investigasi kontak masih berada di angka 37 persen. Padahal, pemeriksaan terhadap orang-orang yang memiliki kontak erat dengan pasien TBC menjadi bagian penting untuk menemukan kemungkinan kasus lain sekaligus mencegah penularan lebih luas.
Begitu pula TPT yang baru mencapai 183 orang atau 3 persen.

Di sisi pengobatan, capaian kesembuhan TBC sensitif obat cohort 2025 baru 66,65 persen dari target 90 persen karena sebagian pasien masih berada dalam masa pengobatan.
Dengan kondisi tersebut, tracing menjadi pintu masuk, bukan garis akhir penanganan.
Ismed menegaskan masyarakat tidak perlu khawatir mengikuti kegiatan tersebut karena seluruh proses pemeriksaan diberikan secara gratis.

Ia meminta masyarakat mengikuti pemeriksaan ketika mendapat informasi dari kader maupun petugas puskesmas.

“Makanya kami mengharapkan kepada masyarakat mengikuti program ini. Dan kalaupun nanti hasil pemeriksaannya positif, juga nanti akan diberikan obat secara cuma-cuma,” tegasnya.

Pelaksanaan tracing sejauh ini disebut berjalan baik. Tidak ada kendala berarti dalam mengajak masyarakat mengikuti pemeriksaan. Namun, Dinkes menghadapi persoalan keterbatasan tenaga kesehatan pada periode akhir tahun ketika sejumlah program berjalan bersamaan.

Meski demikian, ia memastikan pelaksanaan tracing tetap berjalan simultan. Dukungan pemerintah pusat melalui anggaran juga membantu pelaksanaan kegiatan di lapangan, termasuk dukungan transportasi bagi peserta pemeriksaan.

“Bahkan ada anggaran juga untuk transportasi peserta yang mau diperiksa. Dia dapat anggaran, dapat bantuan,” sambung Ismed.

Bagi sebagian warga, program tersebut juga menjadi akses pemeriksaan yang relatif mudah karena informasi disampaikan langsung melalui kader di lingkungan tempat tinggal.

Salah satu peserta, Erna, mengaku mengetahui adanya skrining TBC dari kader Posyandu Teri di Kelurahan Mesjid, Kecamatan Samarinda Seberang. Lokasi pemeriksaan yang berada dekat dengan rumahnya membuat ia dapat mengikuti kegiatan tersebut.

“Kebetulan dekat rumah. Diinfokan ada skrining TB dan cek kesehatan juga. Alhamdulillah aman,” ujar Erna.


Editor : Maulana

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%0%0%0%
Sebelumnya :
Berikutnya :