EKSPOSKALTIM, Balikpapan - Waduk Manggar seharusnya menjadi sumber air baku dan destinasi wisata. Kini, sebagian permukaannya justru ditumbuhi gulma. Kemarau yang menurunkan debit air memicu pertumbuhan tanaman liar itu hingga mengganggu kawasan wisata di sekitarnya.
Pantauan di lapangan, tumbuhan gulma menutupi sebagian permukaan air Waduk Manggar. Kondisi ini khususnya menyasar objek wisata Tanjung Gading, Bamboe Wanadesa, hingga wisata Meranti.
Kepala UPB Wilayah 1 BWS Kalimantan IV, Fatturrahman, menjelaskan kemunculan gulma turut dipengaruhi kondisi air waduk yang kian menyusut. Kondisi ini khususnya terjadi selama musim kemarau.
"Kemunculan gulma ini akibat penurunan debit air Waduk Manggar akibat kemarau. Ini juga berdampak ke objek wisata di sekitarnya," ujarnya.
Anggaran Pembersihan Terbatas
Fatturrahman menyebut pihaknya kerap melakukan pembersihan tanaman gulma saat muncul pada musim kemarau. Namun, anggaran untuk penanganan tanaman tersebut masih terbatas.
"Kami setiap tahun ada melakukan pembersihan gulma, khususnya di Waduk Manggar. Hanya saja tahun ini anggarannya terbatas," ungkapnya.
BWS Kalimantan IV mengusulkan anggaran sebesar Rp3 miliar kepada pemerintah pusat. Anggaran tersebut akan difokuskan untuk penanganan gulma dan pengerukan sedimentasi di Waduk Manggar.
"Kami mengusulkan tahun depan itu sekitar Rp3 miliar ke pusat untuk penanganan gulma dan pengerukan sedimentasi. Tapi biasanya menyesuaikan dengan anggaran yang diberikan oleh pusat," kata Fatturrahman.
Penanganan gulma saat ini ditujukan pada titik-titik prioritas di Waduk Manggar. Upaya ini dilakukan untuk memulihkan kondisi waduk kembali normal sehingga tidak memengaruhi pola produksi air Waduk Manggar.
Areal yang dibersihkan, kata Fatturahman juga tidak terlalu luas. BWS akan membagi area paling prioritas untuk dibersihkan lebih dahulu.
"Mudah-mudahan usulan anggaran untuk tahun depan disetujui untuk Waduk Manggar," ujar dia.


