PORTAL BERITA ONLINE NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE BERANI BEDA..!! MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

19 Orang Jadi Tersangka Karhutla di Kaltim, Dua Korporasi Naik Penyidikan

Home Berita 19 Orang Jadi Tersangka K ...

Hujan mulai mengurangi intensitas kebakaran di sejumlah wilayah Kalimantan Timur, tetapi ancaman karhutla belum berakhir


19 Orang Jadi Tersangka Karhutla di Kaltim, Dua Korporasi Naik Penyidikan
Simulasi penggunaan Surface Active Agent (SAA) atau cairan surfaktan untuk pemadaman karhutla buatan Fapertan Unmul di halaman Mapolda Kaltim, Rabu (28/10/2026). Foto: Eksposkaltim/Erik

EKSPOSKALTIM, Balikpapan — Kepolisian Daerah (Polda) Kalimantan Timur menindak tegas pelaku pembakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kaltim. Hingga akhir Oktober, polisi telah menetapkan 19 orang sebagai tersangka perorangan serta menaikkan status hukum dua korporasi ke tahap penyidikan.

Kapolda Kaltim Irjen Pol Endar Priantoro menegaskan langkah hukum ini diambil untuk memberikan efek jera agar tidak ada lagi pihak yang membuka lahan dengan cara membakar.

"Perorangan ada 19 yang sudah kami tetapkan tersangka. Selain itu, ada juga dua korporasi yang sudah naik ke penyidikan," tegas Endar di Balikpapan.

Endar menjelaskan meski intensitas titik api (hotspot) dan luasan lahan yang terbakar mulai berkurang seiring turunnya hujan di sejumlah wilayah, masyarakat dan pelaku usaha diminta tetap waspada.

"Saya tetap minta agar waspada. El Nino masih panjang. Korporasi juga saya ingatkan agar tidak membakar dan segera melakukan upaya pemadaman jika menemukan api di kawasannya," ujarnya.

Luas Karhutla Tembus 10.195 Hektare

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kaltim, Buyung Dodi Gunawan, memaparkan data pemantauan karhutla hingga 27 Oktober. Total luasan lahan terbakar di Kaltim mencapai 10.195 hektar, yang terdiri dari 7.990 hektar lahan bukan hutan, 2.100 hektar area hutan, serta sebagian kecil area perkebunan.

Menurut Buyung, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) menjadi wilayah dengan luasan kebakaran terbesar. Sementara itu, Kabupaten Paser mencatatkan jumlah kemunculan titik api (fire spot) terbanyak.

"Sebagian wilayah Kaltim bagian utara sudah diguyur hujan, sehingga intensitas kebakaran harian berkurang atau bahkan tidak ada. Berdasarkan data BMKG, Kabupaten Paser diprakirakan menjadi wilayah terakhir yang menerima curah hujan," jelas Buyung.

Saat ini, fokus utama pemadaman terkonsentrasi di Kabupaten Paser, Penajam Paser Utara (PPU), dan Samarinda. Operasi pemadaman udara (water bombing) masih berlangsung di kawasan delineasi Ibu Kota Nusantara (IKN) dan sekitarnya, sedangkan di Samarinda telah diselesaikan setelah beroperasi sekitar 40 hari.

Adapun status siaga darurat karhutla Kaltim ditetapkan hingga 30 November dan berpeluang disesuaikan dengan perkembangan kondisi di lapangan.

Uji Inovasi Pemadam Cairan SAA Buatan Unmul

Sebagai langkah penanganan yang lebih efektif, Polda Kaltim bersama Ikatan Alumni (IKA) Fakultas Pertanian Universitas Mulawarman (Unmul) menggelar simulasi penggunaan Surface Active Agent (SAA) atau cairan surfaktan untuk pemadaman karhutla.

Kapolda Kaltim menilai inovasi lokal berbasis riset tersebut sangat ekonomis, efektif, dan efisien dalam memadamkan api dibanding produk impor. Polda Kaltim berencana menyalurkan 1.500 liter cairan SAA ke lokasi-lokasi terdampak karhutla di Kaltim.

"Ini produk lokal yang efektif dan efisien. Kami dari jajaran Forkopimda memiliki komitmen yang sama untuk menanggulangi karhutla secara efektif. Dari hasil simulasi ini, kami akan ajukan ke pimpinan agar produk lokal ini dapat diberdayakan," kata Endar.

SAA Buatan Faperta Unmul Diklaim Lebih Efektif

Sementara itu, Ketua IKA Fakultas Pertanian Unmul, Fahrizal, menjelaskan bahwa SAA menggunakan bahan dominan berbasis nabati, yakni minyak kelapa sawit. Berdasarkan pengujian di laboratorium, cairan ini memiliki tingkat keasaman (pH) netral antara 6–7, sehingga aman bagi tingkat kesuburan tanah setelah pemadaman.

Fahrizal mengklaim rasio penggunaan SAA jauh lebih hemat dibanding produk pemadam asal Brasil yang memiliki rasio 1:4.

"Untuk lahan gambut, rasio penggunaan produk kami 1:300 liter dengan biaya sekitar Rp250 per liter. Untuk lahan biasa rasionya 1:500, sedangkan untuk lahan padam yang masih mengeluarkan asap rasionya mencapai 1:800 hingga 1:1.000," papar Fahrizal.

Ia berharap kolaborasi bersama Polda Kaltim dan jajaran pemerintah daerah dapat mempercepat proses pengurusan paten serta legalitas SAA agar bisa segera diproduksi dan digunakan secara luas dalam pemadaman karhutla.


Editor : Maulana

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%0%0%0%
Sebelumnya :
Berikutnya :