PORTAL BERITA ONLINE NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE BERANI BEDA..!! MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

Dua Orangutan Keluar Hutan di Kaltim Imbas Kemarau, Satu Alami Dehidrasi Berat

Home Berita Dua Orangutan Keluar Huta ...

Dua orang utan jantan ditemukan di jalan hauling dengan kondisi berbeda, satu sehat dan langsung dilepasliarkan, satu lainnya dehidrasi berat.


Dua Orangutan Keluar Hutan di Kaltim Imbas Kemarau, Satu Alami Dehidrasi Berat
Petugas BKSDA Kaltim dan CAN Borneo mengevakuasi orang utan jantan yang ditemukan di jalan hauling, Kalimantan Timur, September 2026. Sejak Juli hingga September, 13 orang utan telah diselamatkan imbas kemarau panjang. Foto: Dok. CAN Borneo

EKSPOSKALTIM, Balikpapan - Kemarau panjang yang melanda Kalimantan Timur (Kaltim) memaksa sejumlah orang utan keluar dari kawasan hutan. Sejak Juli hingga September 2026, sebanyak 13 orang utan telah diselamatkan dengan penanganan berbeda bergantung kondisi masing-masing satwa.

Founder Conservation Action Network (CAN) Borneo, Paulinus Kristanto, mengatakan dua di antaranya merupakan orang utan jantan yang ditemukan dalam peristiwa berbeda.

"Pertama, ada dua orang utan jantan. Yang pertama kita rescue itu belum ada namanya, usianya 25 sampai 30 tahun," ujar Paulinus.

Orang utan pertama ditemukan di Desa Menamang Kanan, Kecamatan Muara Kaman, Kutai Kartanegara (Kukar), pada 14 September. Satwa tersebut sebelumnya sempat viral setelah direkam operator ekskavator.

Dehidrasi Berat dan Malnutrisi

Saat tiba di Pusat Rehabilitasi Satwa (PRS) Long Sam yang dikelola CAN Borneo di Kampung Merasa, Kecamatan Kelay, Berau, orang utan tersebut berada dalam kondisi sangat buruk. Satwa itu sangat kurus dengan body condition score 1 dari 5.

"Saat tiba di PRS Long Sam, satwa ini sangat lemah. Hanya sanggup berjalan beberapa meter. Orang utan ini alami dehidrasi banget karena sumber airnya tidak ada di sekitar situ," jelas Paulinus.

Kondisi tersebut membuat orang utan itu tidak dapat langsung dilepasliarkan. Selain tulang rusuk yang terlihat jelas akibat malnutrisi, satwa tersebut juga tidak mau makan saat pertama kali menjalani perawatan.

"Mengapa harus direhabilitasi dulu? Intinya masih butuh waktu untuk memperbaiki kondisi fisik orang utan tersebut. Karena memang sangat kurus dan dehidrasi, sehingga perbaikan nutrisi menjadi kunci dalam proses rehabilitasi nantinya," katanya.

Paulinus mengatakan orang utan tersebut awalnya hanya mau minum selama menjalani perawatan. Satwa itu baru mulai menerima makanan pada hari keempat setelah berada di PRS Long Sam.

"Saat ditemukan sangat lemas dan tidak mau makan, hanya minum saja. Dan baru pada hari keempat di PRS Long Sam baru mau makan. Itu mengindikasikan dehidrasi berat dan kekurangan sumber pakan," ungkapnya.

Satu Orang Utan Langsung Dilepasliarkan

Sementara orang utan jantan lainnya, yang diberi makan oleh warga di pinggir jalan, ditemukan dalam kondisi sehat dan masih menunjukkan sifat liar. Satwa tersebut akhirnya dapat langsung ditranslokasi ke kawasan hutan setelah menjalani pemeriksaan.

"Ada dua orang utan jantan ya. Kemudian orang utan satunya yang diberi makan di jalan, itu orang utan Guru namanya," ucap Paulinus.

Kepala BKSDA Kaltim, M Ari Wibawanto, membenarkan dua orang utan jantan tersebut dievakuasi pada hari berbeda setelah ditemukan di jalan hauling. Satu individu yang masih sehat dan memiliki sifat liar kemudian langsung dilepasliarkan ke kawasan hutan di Wahau.

"Satu jantan dalam kondisi sehat dan masih menunjukkan sifat liar sehingga kita langsung lepasliarkan di hutan lindung hutan produksi PT Roy di Wahau. Kemudian juga yang satu individu lagi setelah kita lakukan pemeriksaan kondisinya malnutrisi dan dehidrasi berat," kata Ari.

Berbeda dengan orang utan pertama, kondisi individu kedua membuat petugas harus melakukan penanganan selama 24 jam sebelum membawanya ke pusat rehabilitasi. BKSDA kemudian menitipkan orang utan tersebut untuk menjalani pemulihan di fasilitas CAN Borneo di Berau.

"Oleh karena itu langsung kita lakukan upaya perawatan di tempat juga selama satu hari, satu hari 24 jam. Kemudian langsung kita bawa ke tempat rehabilitasi kami yang ada di CAN Borneo di Long Sam Berau," jelasnya.

Krisis Pakan dan Air

Paulinus menduga kemunculan orang utan dari kawasan hutan berkaitan dengan berkurangnya sumber pakan dan air selama kemarau panjang. Kondisi tersebut memaksa satwa mencari sumber makanan lain hingga keluar dari habitatnya.

"Yang pertama adalah kekurangan sumber pakan. Kemudian yang kedua adalah sumber air. Itu jelas ya, dengan kondisi kemarau panjang seperti ini, tidak ada sumber pakan di hutan sehingga orang utan keluar mencoba mencari makan," jelasnya.

Persoalan lain muncul ketika orang utan yang keluar hutan mendapatkan makanan dari manusia. Paulinus menyebut orang utan dapat mengingat lokasi tersebut sebagai tempat untuk memperoleh makanan sehingga berpotensi kembali menunggu di pinggir jalan.

"Apalagi kalau dia pernah terlihat di jalan kemudian ada orang yang memberi makan sekali saja, itu mindset-nya bahwa orang utan itu dia akan mengingat bahwa, 'Oh, ternyata kalau aku tunggu di jalan, aku bisa dapat makanan'," katanya.

Ari mengatakan kemarau panjang diduga mulai memengaruhi kehidupan satwa liar di Kaltim. Dampaknya pun tidak terbatas pada orang utan karena satwa lain juga menghadapi kondisi habitat yang sama.

"Dugaan kita karena kemarau yang cukup panjang ini kemungkinan akan mempengaruhi terhadap kehidupan dari satwa yang ada, tidak hanya orang utan tapi lainnya," pungkasnya.


Editor : Maulana

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%0%0%0%
Sebelumnya :