Saat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi perhatian di Kalimantan, BMKG mengingatkan potensi banjir rob di pesisir dua provinsi wilayah Borneo.
EKSPOSKALTIM, Jakarta - Ancaman di wilayah Kalimantan belum berhenti pada kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) turut mengingatkan masyarakat pesisir Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah agar mewaspadai potensi banjir rob pada Sabtu (17/10).
Peringatan tersebut muncul ketika kondisi kering masih meningkatkan kerentanan sejumlah wilayah terhadap karhutla. Dalam prakiraan cuaca nasional periode 16–22 Oktober 2026, BMKG menyebut titik panas dan sebaran asap masih terpantau di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Kalimantan.
BMKG mengimbau masyarakat pesisir menyesuaikan aktivitas dengan kondisi pasang air laut. Potensi banjir rob juga mencakup pesisir Kepulauan Riau, Jakarta, Jawa Barat, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Maluku.
Gelombang Tinggi hingga 4 Meter
Selain peringatan banjir rob, BMKG meminta nelayan dan pengguna transportasi laut mewaspadai gelombang setinggi 2,5–4 meter di Samudra Hindia barat Lampung serta Samudra Hindia selatan Banten hingga Jawa Barat.
Prakirawan BMKG Sufia menjelaskan dinamika atmosfer saat ini dipengaruhi pembentukan sirkulasi siklonik di Samudra Hindia barat Aceh dan Laut China Selatan bagian selatan Vietnam. Kondisi itu membentuk daerah perlambatan dan pertemuan angin di sejumlah wilayah.
Daerah perlambatan angin terpantau memanjang di pesisir barat Aceh, Laut Natuna utara, pesisir selatan Vietnam, serta sekitar pusat sirkulasi tersebut.
BMKG juga mengingatkan pengguna transportasi udara untuk mewaspadai pertumbuhan awan kumulonimbus di sejumlah wilayah, antara lain Aceh, Sumatera Utara, Kalimantan Barat, Papua, Papua Barat Daya, dan Papua Pegunungan.
Asap dan Kabut Masih Terpantau
Dalam prakiraan cuaca untuk Sabtu, kondisi di sejumlah kota di Kalimantan bervariasi. Pontianak berpotensi mengalami hujan disertai petir, sedangkan hujan ringan diprakirakan terjadi di Palangkaraya, Tanjung Selor, dan Samarinda.
Sementara itu, kondisi asap atau kabut diprakirakan terjadi di Banjarmasin. Situasi ini menjadi perhatian di tengah kondisi kering dan risiko karhutla yang masih berlangsung di sejumlah wilayah.
BMKG sebelumnya mencatat 1.297 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi di Indonesia berdasarkan pemantauan pada 14 Oktober 2026. Sebanyak 346 titik terdeteksi di Kalimantan.
Citra satelit Himawari pada 15 Oktober juga menunjukkan sebaran asap di sebagian besar Kalimantan, selain sejumlah wilayah lain di Indonesia.
Kondisi tersebut memperlihatkan karhutla masih menjadi persoalan yang perlu diwaspadai, meskipun potensi cuaca dan ancaman di tiap daerah berbeda.
BMKG mengimbau masyarakat terus memantau informasi cuaca dan peringatan dini melalui kanal resmi lembaga tersebut. Warga pesisir, nelayan, serta pengguna transportasi laut juga diminta menyesuaikan aktivitas dengan kondisi perairan dan pasang air laut. (ant)



