PORTAL BERITA ONLINE NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE BERANI BEDA..!! MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

Karhutla Betapus Jadi yang Terbesar di Samarinda, 20,5 Hektare Lahan Terbakar

Home Berita Karhutla Betapus Jadi Yan ...

Karhutla Samarinda belum benar-benar reda ketika masa tanggap darurat kekeringan berakhir.


Karhutla Betapus Jadi yang Terbesar di Samarinda, 20,5 Hektare Lahan Terbakar
Pemkot tinjau kawasan Betapus Samarinda pasca karhutla. Ekspos/Sintya

EKSPOSKALTIM, Samarinda — Kebakaran lahan di kawasan Betapus, Kelurahan Lempake, Samarinda Utara, menjadi kejadian karhutla dengan luasan terbesar yang dicatat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Samarinda sepanjang rangkaian kebakaran lahan tahun ini.

Dalam dua hari, Sabtu hingga Minggu (6/9), api membakar sekitar 20,5 hektare lahan. Proses pemadaman berlangsung berjam-jam dan menghadapi kendala medan serta keterbatasan sumber air di lokasi.

Kepala BPBD Samarinda Suwarso mengatakan kebakaran pertama terjadi pada Sabtu sekitar pukul 17.00 WITA dan berlangsung hingga pukul 03.00 dini hari. Namun, penanganan belum sepenuhnya maksimal. Api kemudian kembali muncul pada Minggu sekitar pukul 12.00 WITA hingga akhirnya berhasil dikendalikan sekitar pukul 21.00 WITA.

“Dan akhirnya totalnya dua wilayah ini sekitar 20,5 hektare,” kata Suwarso, Senin (7/9).

Pemadaman dilakukan dengan mengerahkan relawan dan personel Damkar dari sejumlah sisi. Upaya tersebut berhasil menghentikan pergerakan api sekitar pukul 21.00 WITA.
Hingga Senin, BPBD tidak menemukan titik api aktif. Meski demikian, potensi munculnya kembali api masih diantisipasi karena kondisi lahan yang kering.

Suwarso mengatakan kendala utama pemadaman berada pada akses menuju titik api. Lokasi kebakaran cukup jauh dari jalan besar sehingga kendaraan pemadam tidak dapat mendekati area yang terbakar.

“Sehingga harus mengambil selang roll itu mungkin sampai 12-an roll lebih,” sebutnya.

Keterbatasan sumber air di sekitar lokasi membuat petugas harus menerapkan pola suplai air secara bertahap. Pemadaman juga dilakukan dengan mengerahkan personel dari arah Sungai Karang Mumus di kawasan Bengkuring.

Kondisi vegetasi turut mempercepat pergerakan api. Sebagian besar lahan yang terbakar merupakan belukar dengan kondisi bagian bawah yang kering. Angin kencang juga menjadi faktor yang memengaruhi kecepatan penanganan.

Suwarso menyebut terdapat dugaan awal bahwa kebakaran berkaitan dengan aktivitas pembukaan lahan untuk menanam singkong. Namun, informasi tersebut belum dapat dipastikan karena petugas tidak menemukan orang yang diduga melakukan pembakaran.

Petugas kemudian melakukan penyekatan agar api tidak bergerak menuju permukiman. Titik awal kebakaran disebut berada sekitar 50 meter dari rumah warga. Api kemudian bergerak menuju belakang Gang Belimau Asri dengan jarak sekitar 100 meter. Namun, pergerakannya berhasil dihentikan relawan.
Dengan tambahan kejadian di Betapus, BPBD mencatat sekitar 176 kejadian kebakaran lahan di Samarinda.

“Sekitar 176. Dan yang terbesar yang di sini,” kata Suwarso.

Sebelumnya, kebakaran di kawasan Bantuas dengan luasan sekitar 10 hektare menjadi salah satu kejadian terbesar. Namun, luasan di Betapus kini telah melampaui angka tersebut.

Suwarso mengatakan BNPB telah menghubunginya pada Senin sekitar pukul 12.00 WITA untuk menyampaikan bahwa helikopter telah tiba di Bandara APT Pranoto.
BPBD juga telah menyerahkan data kebakaran Samarinda kepada BNPB dalam bentuk grafik dan infografis sebagai bahan penentuan operasi.

Untuk sementara, satu unit helikopter berada di Bandara APT Pranoto. Pelaksanaan waterbombing masih menunggu rapat teknis.
BPBD juga mengusulkan agar operasi waterbombing, jika memungkinkan, tidak hanya diarahkan ke lahan terbakar. Lahan pertanian yang terdampak kekeringan diharapkan turut memperoleh manfaat dari operasi tersebut.

“Itu juga akan mempercepat proses pengembalian fungsi sawah bisa hidup tanah-tanah kembali. Sehingga petani juga bisa ikut merasakan manfaat dari waterbombing,” ujar Suwarso.

Status Tanggap Darurat Berakhir Hari Ini

Persoalan karhutla Betapus muncul tepat pada hari terakhir masa tanggap darurat kekeringan Samarinda. Status tersebut berlaku selama 14 hari, mulai 25 Agustus hingga 7 September 2026.

Pemerintah sebelumnya telah menyatakan evaluasi dilakukan berdasarkan data teknis dan kondisi lapangan. Suwarso mengatakan BPBD masih mengumpulkan data dari sejumlah perangkat daerah sebelum memberikan rekomendasi kepada Wali Kota Samarinda. Data yang dikumpulkan mencakup perkembangan kebakaran, kondisi air bersih, kesehatan masyarakat, pertanian, perdagangan hingga prakiraan cuaca.

“Nanti Pak Wali yang memutuskan,” kata dia.

Kebutuhan air bersih masyarakat juga masih menjadi persoalan. BPBD mencatat distribusi air telah menjangkau 75 titik, terutama di wilayah Sambutan dan Palaran.
Total air yang telah disalurkan mencapai 368.600 liter. Distribusi dilakukan bersama sejumlah pihak, antara lain PDAM, Kementerian PUPR, PMI, BPBD, Damkar dan pemerintah daerah lain.

Kebakaran Betapus juga berdampak terhadap kualitas udara. Suwarso mengatakan hasil analisis DLH menunjukkan kualitas udara pada siang hingga sore hari berada pada kategori tidak sehat di sejumlah wilayah.

Untuk memperkuat pemantauan, pemerintah akan memasang alat ukur kualitas udara portabel di tiga lokasi, yakni Bantuas, Makroman dan Betapus. Peralatan tersebut disiapkan melalui kerja sama dengan Labkes Provinsi, Baristan dan Balai K3.

48 Hektare Sawah di Betapus Juga Terancam Kekeringan

Wakil Wali Kota Samarinda Saefuddin Zuhri yang meninjau lokasi Betapus mengatakan persoalan di kawasan tersebut tidak hanya menyangkut kebakaran lahan. Kekeringan juga telah membuat lahan pertanian mengalami kekurangan air. Ia menyebut terdapat sekitar 48 hektare lahan pertanian yang membutuhkan pasokan air agar tetap dapat dipanen.

Menurutnya, kondisi tanah yang telah lama kering membuat proses pengairan membutuhkan waktu karena air terlebih dahulu meresap ke bagian tanah yang retak.

Terkait dugaan kebakaran yang berawal dari aktivitas pembukaan lahan, Saefuddin meminta masyarakat tidak melakukan pembakaran selama kondisi cuaca masih kering dan angin cukup kuat. Ia pun meminta imbauan tersebut diteruskan hingga tingkat RT, kelurahan dan kecamatan.

“Saat ini jangan untuk membakar-bakar lahan, walaupun lahannya sendiri. Akibatnya kan masyarakat yang lain yang berdampak bermasalah,” imbaunya.


Editor : Maulana

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%0%0%0%
Sebelumnya :
Berikutnya :