PORTAL BERITA ONLINE NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE BERANI BEDA..!! MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

Sawah Gunung Binjai Mengering, Petani Balikpapan Terancam Gagal Tanam Dua Kali

Home Berita Sawah Gunung Binjai Menge ...

Satu musim tanam sudah hilang akibat kemarau panjang, petani di Balikpapan kini berharap hujan dan dua sumur dalam menyelamatkan musim berikutnya.


Sawah Gunung Binjai Mengering, Petani Balikpapan Terancam Gagal Tanam Dua Kali
Kondisi lahan sawah seluas 53 hektare milik Kelompok Tani Karya Bina Bersama yang mengering di Gunung Binjai, Kelurahan Teritip, Balikpapan Timur, Rabu (30/9/2026). Dampak fenomena El Nino memicu kekeringan sungai hingga membuat para petani kehilangan satu masa tanam. Foto: Eksposkaltim/Erik

EKSPOSKALTIM, Balikpapan - Hamparan sawah di kawasan Gunung Binjai, Kelurahan Teritip, Kecamatan Balikpapan Timur, Kota Balikpapan, kini tampak kering kerontang. Musim kemarau panjang yang dipicu fenomena El Nino memaksa para petani setempat gigit jari karena harus kehilangan satu masa tanam.

Kondisi tersebut disampaikan oleh Romadhon, Ketua Kelompok Tani Karya Bina Bersama, pada Rabu (30/9/2026). Ia menyebut dampak kemarau tahun ini terasa sangat berat dan memukul perekonomian para petani di wilayahnya.

“El Nino tahun ini memang lebih parah ketimbang tahun sebelumnya. Satu musim tanam kami sudah hilang, ini sangat memukul petani,” kata Romadhon ditemui Rabu.

Romadhon menjelaskan, pihak kelompok tani sebenarnya telah berkoordinasi dengan pemerintah daerah. Pemerintah pun sudah memberikan bantuan berupa pompa air dan perbaikan jaringan irigasi. Namun, upaya tersebut belum membuahkan hasil maksimal lantaran sumber air sungai di batas wilayah Kukar-Balikpapan yang biasa dimanfaatkan kini telah mengering.

"Sungai utama di sini kering, jadi kita tidak bisa berbuat banyak," ujar dia.

Dapat Bantuan Dua Sumur Dalam

Meski begitu, para petani mendapat angin segar setelah menerima kabar bakal dibantu pembangunan sumur bor dalam di kawasan pertanian mereka.

“Kami dapat kabar baik ada bantuan sumur dalam. Ada dua titik, kemarin disampaikan ada anggaran Rp4 miliar untuk pembuatan sumur dalam,” tutur Romadhon.

Untuk mendukung percepatan proyek tersebut, warga bahkan telah menghibahkan dua lokasi lahan milik pribadi sebagai titik pembangunan sumur beserta perangkat pendukungnya.

“Sudah kami siapkan dua lokasi pembangunan sumur dan perangkatnya. Semoga saja bisa segera terealisasi pembangunannya,” imbuhnya.

Berpotensi Dua Kali Gagal Tanam

Dalam kondisi normal, para petani di Gunung Binjai biasanya mulai mengolah tanah pada Oktober. Padi yang ditanam akan dipanen pada Desember, lalu berlanjut ke masa tanam berikutnya hingga panen kembali di bulan Maret. Namun, akibat kemarau panjang, pola tanam tersebut berubah total.

“Sama seperti tahun kemarin, tapi tahun lalu kami baru mulai menanam di bulan November. Kalau cuaca bagus, walau sempat kemarau tapi masih ada hujan, jadi masih bisa menanam padi,” terangnya.

Luas lahan pertanian yang dikelola Kelompok Tani Karya Bina Bersama mencapai 53 hektare. Dalam kondisi normal, setiap hektare lahan mampu menghasilkan sekitar 5 ton gabah dalam sekali panen.

Kini, jika fenomena El Nino terus bertahan hingga Desember mendatang tanpa didukung pasokan air yang memadai, para petani terancam mengalami gagal tanam hingga dua kali berturut-turut.

Sebagai langkah antisipasi, mereka berencana beralih menanam jagung, meskipun opsi ini masih bersifat spekulatif.

“Tapi kalau seperti ini kita mungkin beralih ke jagung. Tapi masih percobaan, dulu pernah kami coba seperti di daerah Sulawesi dua kali tanam padi lalu jagung, tapi gagal,” jelas Romadhon.

Kini, para petani hanya bisa berharap hujan mulai turun pada Oktober ini agar tanah pertanian yang telah disiapkan bisa segera digarap.

“Semoga saja bulan Oktober ini sudah mulai hujan, sehingga kita bisa mulai menanam padi. Kalau El Nino sampai Desember, bisa jadi kami gagal tanam dua kali,” pungkasnya.


Editor : Maulana

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%0%0%0%
Sebelumnya :
Berikutnya :