Ribuan ikan barakuda berputar membentuk tornado di bawah laut, penyu berenang bebas di perairan dangkal, sementara ribuan ubur-ubur tak menyengat hidup di sebuah danau purba.
EKSPOSKALTIM, Berau – Di ujung utara Kalimantan Timur, tepat di garis terluar Indonesia yang menghadap Laut Sulawesi, terbentang Pulau Maratua. Pulau yang menjadi bagian dari gugusan Kepulauan Derawan itu bukan hanya berfungsi sebagai beranda terdepan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), tetapi juga menyimpan kekayaan bahari yang menjadikannya salah satu destinasi wisata kelas dunia.
Pulau seluas sekitar 384 kilometer persegi itu dihuni sekitar empat ribu jiwa dan dikelilingi perairan seluas 3.735 kilometer persegi. Bentuknya yang menyerupai huruf U menciptakan laguna luas berair tenang di bagian dalam, sementara sisi luar pulau langsung berhadapan dengan laut dalam yang kaya biota.
Kepala Dinas Pariwisata Kalimantan Timur Muhammad Faisal menyebut perpaduan bentang karst dan ekosistem bawah laut menjadikan Maratua sebagai destinasi wisata bahari yang memiliki daya tarik unik.
“Perpaduan ekosistem karst darat dan terumbu karang bawah laut menjadikan Maratua sebagai salah satu destinasi wisata bahari berkelas dunia,” ujarnya.
Goa Karst
Pesona Maratua tidak hanya tersimpan di bawah laut. Di daratan, pulau ini memiliki sejumlah goa karst yang menjadi tujuan wisata alam favorit.
Salah satunya Goa Gumantung yang berada di kawasan Teluk Alulu. Goa ini menawarkan laguna air payau yang tersembunyi di balik tebing-tebing karst tinggi. Wisatawan dapat menyusuri lorong goa menggunakan kano atau kayak sambil menikmati pantulan cahaya yang menembus celah batu kapur.
Permukaan air yang tenang berpadu dengan suasana sunyi menjadikan Goa Gumantung sebagai lokasi yang kerap disebut wisatawan sebagai ruang perenungan di tengah alam.
Tak jauh berbeda, Goa Halo Tabung di Kampung Payung-Payung juga menawarkan pengalaman unik. Goa terbuka ini terbentuk dari proses pelarutan batu kapur selama ribuan tahun hingga menciptakan cekungan sedalam sekitar 25 meter yang terisi air payau sebening kristal.
“Nama Halo Tabung berasal dari bahasa Suku Bajau. Halo berarti goa atau laguna tepi pantai, sedangkan Tabung merupakan nama ikan yang dulu banyak ditemukan di kawasan tersebut,” kata Camat Maratua Ashari.
Selain berenang dan menyelam, pengunjung juga dapat melompat dari tebing karst setinggi sekitar lima meter ke kolam alami berwarna biru toska yang menjadi ikon lokasi tersebut.
Tornado Barakuda
Bagi penyelam, Maratua dikenal sebagai salah satu lokasi terbaik di dunia untuk menyaksikan fenomena Tornado Barakuda.
Fenomena langka itu terjadi ketika ribuan ikan barakuda berenang membentuk pusaran raksasa menyerupai tornado di bawah laut. Di dunia, fenomena tersebut populer hanya di beberapa lokasi, salah satunya Pulau Sipadan di Malaysia dan perairan Maratua di Indonesia.
Titik penyelaman yang dikenal dengan nama Big Fish Country atau The Channel menjadi lokasi favorit para penyelam untuk menyaksikan langsung dinding perak yang terbentuk dari ribuan barakuda yang bergerak serempak mengikuti arus.
Tak heran jika banyak penyelam mancanegara rela menempuh perjalanan panjang demi menikmati atraksi alam yang sulit ditemukan di tempat lain tersebut.
Habitat Penyu
Maratua juga menjadi salah satu kawasan peneluran alami penyu terbesar di Asia Tenggara.
Perairan dangkal yang dipenuhi padang lamun serta terumbu karang menjadikan pulau ini habitat ideal bagi penyu hijau (Chelonia mydas) dan penyu sisik (Eretmochelys imbricata).
Di sejumlah dermaga kayu dan kawasan pantai, wisatawan dapat dengan mudah melihat penyu berenang bebas. Bahkan tanpa harus menyelam terlalu dalam, pengunjung cukup menggunakan snorkel untuk menikmati pengalaman berenang bersama reptil laut tersebut.
Pada malam hari, wisatawan yang didampingi pemandu dan petugas konservasi juga dapat menyaksikan penyu mendarat untuk bertelur di pantai.
Danau Ubur-Ubur
Perjalanan ke Maratua belum lengkap tanpa mengunjungi Pulau Kakaban yang berada dalam satu kawasan wisata Kepulauan Derawan.
Di tengah pulau atol tersebut terdapat danau air asin seluas sekitar 400 hektare yang menjadi habitat empat spesies ubur-ubur unik.
Dua di antaranya adalah ubur-ubur emas (Mastigias papua) dan ubur-ubur terbalik (Cassiopea ornata). Selama ribuan tahun berevolusi dalam lingkungan yang terisolasi, ubur-ubur tersebut kehilangan kemampuan menyengat.
Keunikan itu membuat wisatawan dapat berenang di antara ribuan ubur-ubur tanpa khawatir terkena sengatan, menciptakan pengalaman yang jarang ditemukan di tempat lain di dunia.
Menjaga Kelestarian
![]() | BACA JUGA Rahasia Danau 2 Rasa di Jantung Karst Berau: Merawat Permata yang Terbentuk Sebelum Manusia Ada |
Seiring meningkatnya kunjungan wisatawan, pemerintah terus membenahi infrastruktur penunjang di Maratua, mulai dari dermaga, akses wisata, hingga pengembangan Bandara Maratua yang kini melayani penerbangan ke pulau tersebut.
Pilihan akomodasi juga semakin beragam, mulai dari homestay milik warga hingga resor di atas laut.
Namun, pengembangan pariwisata tetap diarahkan agar berjalan beriringan dengan konservasi lingkungan.
“Pengembangan pariwisata di Maratua mengusung prinsip ekonomi biru dan konservasi berkelanjutan,” kata Faisal.
Melalui pelibatan masyarakat dalam kelompok sadar wisata serta perlindungan kawasan konservasi, Maratua berupaya menjaga keseimbangan antara pariwisata dan kelestarian alam.
Dari goa karst yang tersembunyi, pusaran Tornado Barakuda, habitat penyu, hingga danau ubur-ubur yang langka, Maratua menunjukkan bahwa wilayah terluar Indonesia tidak hanya menyimpan keindahan alam, tetapi juga menjadi etalase kekayaan bahari Nusantara yang mendunia.



