Kemunculan seekor Penyu Lekang di pesisir Sepinggan menjadi pemandangan langka yang menyita perhatian warga Balikpapan.
EKSPOSKALTIM, Balikpapan - Seekor Penyu Lekang (Lepidochelys olivacea) berjenis kelamin jantan ditemukan terdampar di pesisir Pantai Belakang Bandara SAMS Sepinggan, Balikpapan Selatan, pada Selasa (21/7)sore.
Satwa dilindungi berukuran panjang 99 sentimeter dan lebar 76 sentimeter tersebut diduga terdampar akibat hempasan gelombang besar yang terjadi sejak malam hingga pagi hari, serta terseret fenomena pasang surut air laut yang cukup jauh dari garis pantai.
Mendapati keberadaan penyu tersebut, warga sekitar yang bermukim di kawasan pesisir dengan sigap langsung menghubungi Ditpolairud Polda Kaltim untuk penanganan lebih lanjut.
Perwira Unit 2 Binmasair Ditpolairud Polda Kaltim, Aipda Taufik Ismail, menjelaskan bahwa pihaknya menerima laporan dari warga setempat sekitar pukul 15.00 WITA.
"Warga sekitar menginformasikan ada penyu terdampar di pinggir pantai. Kami langsung berkoordinasi dan memantau kondisi satwa tersebut. Beruntung warga di kawasan ini sudah paham dan sadar akan perlindungan satwa," ujar Aipda Taufik, Selasa (21/7).
Kondisi Sehat Meski Dipenuhi Tiram
Saat ditemukan, kondisi fisik Penyu Lekang jantan tersebut tergolong sehat dan aktif. Meski demikian, terdapat banyak cangkang tiram atau teritip yang menempel di bagian mulut serta tempurungnya.
Penyu tersebut sempat tertahan beberapa saat di area pantai karena kondisi air laut yang surut cukup jauh. Namun, begitu air mulai pasang dan kondisi dinyatakan aman, tim bersama warga langsung melepasliarkan satwa tersebut kembali ke habitat aslinya.
"Informasi masuk jam tiga sore, lalu sekitar pukul 15.30 WITA penyu sudah berhasil dilepas dan berenang kembali ke laut lepas," jelas Taufik.
Habitat Alami Tempat Bertelur
Taufik menambahkan kawasan pesisir Balikpapan, mulai dari Pantai Belakang Bandara SAMS hingga kawasan Lapangan Brimob, memang dikenal sebagai habitat alami sekaligus tempat bertelur (nesting site) bagi penyu. Oleh karena itu, kemunculan atau insiden penyu terdampar cukup sering terjadi di sepanjang garis pantai tersebut.
Pihaknya memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada masyarakat dan nelayan Balikpapan yang kian memiliki kepedulian tinggi terhadap kelestarian ekosistem laut.
"Kami sangat mengapresiasi warga dan para nelayan yang sadar lingkungan. Sering kali nelayan mendapati penyu tersangkut di jaring mereka dan langsung dilepaskan atau dilaporkan ke pihak berwenang," ungkapnya.
Ditpolairud Polda Kaltim juga terus mengimbau masyarakat untuk tak ragu melaporkan temuan satwa terdampar atau dilindungi lainnya agar dapat segera ditangani secara tepat demi menjaga kelestarian hayati laut Kaltim.
Rumah Tiga Spesies Penyu
Berdasarkan data Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) Kota Balikpapan, perairan Balikpapan merupakan rumah bagi tiga dari enam spesies penyu yang ada di Indonesia. Ketiganya meliputi penyu lekang, penyu sisik, dan penyu hijau.
Secara internasional, seluruh spesies tersebut masuk dalam daftar Apendiks I CITES (tidak boleh diperdagangkan). Berdasarkan status kepunahannya, penyu lekang dikategorikan rentan (vulnerable), penyu hijau terancam punah (endangered), dan penyu sisik berstatus kritis (critically endangered).
Pengawas Perikanan DKP3 Balikpapan, Hery Saputro, menjelaskan bahwa kehadiran penyu sangat vital untuk menjaga keseimbangan ekosistem laut, mulai dari mengendalikan populasi ubur-ubur, menjaga pertumbuhan terumbu karang dari dominasi spons, hingga menyuburkan padang lamun. Namun, eksistensi mereka kini terbentur tembok tebal proyek infrastruktur.
"Penyu itu sebenarnya bisa naik dan bertelur di mana pun selama ada pasir yang lembut dan putih. Tetapi kalau sudah ada proyek reklamasi, disemen, dipasang barikade, atau pelindung pantai buatan, penyu tidak akan mau naik lagi. Mereka hanya mau bertelur jika kondisi pantai dibiarkan alami," beber Hery.
Selain hilangnya garis pantai alami akibat semen reklamasi, polusi laut dan aktivitas penangkapan ikan ilegal menjadi rapor merah kelangsungan hidup biota ini. Guna meminimalkan angka kematian penyu akibat tersangkut jaring, pemerintah kini gencar mendorong nelayan tangkap mengaplikasikan alat pelindung penyu atau Turtle Excluder Device (TED).
Sejauh ini, DKP3 Balikpapan mencatat sedikitnya 65 ekor penyu pernah diselamatkan di perairan setempat. Angka tersebut didominasi oleh penyu lekang, disusul 7 hingga 8 ekor penyu hijau, dan 2 ekor penyu sisik. Pantai DEB, Pantai Seraya, Pantai APN - Brimob Polda Kaltim, serta Pantai Manggar menjadi segelintir spot alami yang tersisa bagi penyu untuk mendarat dan bertelur.



