PORTAL BERITA ONLINE NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE BERANI BEDA..!! MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

El Nino Lebih Kering, BPBD Samarinda Waspadai Karhutla Meluas hingga Krisis Air

Home Berita El Nino Lebih Kering, Bpb ...

El Nino Lebih Kering, BPBD Samarinda Waspadai Karhutla Meluas hingga Krisis Air
Karhutla di Palaran Samarinda. Foto: BPBD Samarinda

EKSPOSKALTIM, Samarinda – Prediksi El Nino yang disebut lebih kering dibanding periode sebelumnya membuat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Samarinda menghadapi ancaman berlapis. Bukan hanya kebakaran hutan dan lahan (karhutla), kekeringan juga berpotensi menekan pasokan air bersih hingga September.

Kepala BPBD Samarinda, Suwarso, mengatakan mitigasi telah dilakukan sejak sebelum periode Juni-September yang diprediksi BMKG menjadi fase kering. Imbauan dipasang di sejumlah kecamatan, disertai sosialisasi, edukasi dan simulasi di sekolah-sekolah yang berada di kawasan dengan risiko kebakaran sedang hingga tinggi.

“Daripada El Nino sebelumnya, ini lebih kering. Itu kita sudah menyampaikan, bahkan kita memasang sepanduk-sepanduk imbuan di perkecamatan,” kata Suwarso (18/8).

BPBD juga mengingatkan masyarakat tidak membakar sampah, membuka hutan dengan cara membakar maupun membuang puntung rokok sembarangan. Pengawasan terhadap kawasan rawan turut diperketat, terutama di lokasi yang berulang kali mengalami kebakaran seperti Betapus.

Namun, ancaman kemarau tidak berhenti pada lahan terbakar. Potensi intrusi air laut ke Sungai Mahakam juga menjadi perhatian karena dapat memengaruhi produksi air bersih.

Suwarso mengatakan pihak PDAM telah menyiapkan antisipasi apabila intrusi terjadi, termasuk kemungkinan pengurangan produksi dan imbauan penghematan air. Masyarakat juga diminta menampung air hujan ketika hujan turun.

“Kalau ada hujan ya silahkan air hujannya itu ditampung, jangan dibuang kemana-mana,” jelasnya.

BPBD bahkan menyiapkan skema suplai air bersih jika penurunan debit menyebabkan jaringan PDAM tidak mampu menjangkau wilayah tertentu. Koordinasi akan dilakukan dengan PDAM, pemadam kebakaran dan pemilik kendaraan tangki.

“Karena di beberapa tahun lalu juga kan sempat kejadian bahwa air laut masuk ke dalam kawasan sungai Mahakam,” ujarnya.

Masalahnya, dalam kondisi kemarau panjang, sumber daya yang sama harus dibagi untuk dua kebutuhan sekaligus, yakni memasok air bagi warga yang kekurangan dan menangani karhutla.

“Nah kalau terjadi keterlambatan harap maklum karena kita juga sedang menangani kebakaran lahan-lahannya. Tapi tetap kita upayakan kolaborasi semaksimal mungkin,” kata Suwarso.

28 Hektare Terbakar di Palaran

Ancaman karhutla sendiri masih menjadi perhatian hingga periode yang diprediksi BMKG berakhir pada September. Suwarso menyebut pada tahun sebelumnya sempat terjadi beberapa titik kebakaran, sementara kewaspadaan tahun ini terus diperpanjang.

“Memang masih banyak di tahun lalu, kemarin itu sekali kejadian, 4 titik. Tapi untuk sampai ini, tapi kalau prediksi BMKG kan sampai September,” ujarnya.

Penanganan dilakukan melalui kolaborasi dengan relawan, BPBD Provinsi, Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), PDAM hingga perusahaan. Menurut Suwarso, dukungan lintas pihak membuat pemadaman lebih cepat, terutama ketika api berada dekat permukiman.

Di Palaran, salah satu kebakaran terjadi di area perusahaan dengan total luasan sekitar 28 hektare dalam dua kali kejadian.

“Kalau di Palaran kemarin kebetulan area perusahaan. Di Palaran itu sekitar totalnya 28 hektare, tapi 2 kali kejadian,” jelasnya.

Luasnya kebakaran disebut tak lepas dari kondisi medan yang sulit. BPBD juga menduga kebakaran tersebut sengaja dilakukan. Namun, faktor manusia tidak selalu berupa kesengajaan. Di Bukit Pinang, misalnya, kebakaran kecil diduga dipicu puntung rokok seseorang yang sedang memancing di dekat danau.

“Ya memang kecil kebakarannya, paling 10 kali 20, tapi kalau nggak kita cepet tangani kan melebar. Tapi sebagian besar karena manusia,” tegasnya.

Lanjutnya, tantangan terbesar petugas di lapangan bukan hanya menemukan sumber api, tetapi juga mendapatkan air dan mencapai titik kebakaran.

“Kita kadang-kadang sumber air itu agak sulit. Bahkan harus menarik serlang itu sampai 25 roll. Satu rollnya kan 60 meter itu,” kata Suwarso.

BPBD memanfaatkan kolam penampung air portable untuk mendekatkan sumber air ke titik api. Namun, kondisi medan yang dipenuhi rumput tinggi membuat akses menuju lokasi kebakaran tidak selalu mudah ditemukan.

“Itu medannya susah, rumput tinggi, kita harus menerobos, kadang-kadang kita menuju titik, itu bisa salah lewat. Karena tidak kelihatan di depan rumput tinggi,” ujarnya.

Akibatnya, panjang selang yang dibutuhkan dapat bertambah dan memperlambat proses pemadaman.

“Itu karena juga akhirnya memperpanjang, menambah untuk sambungan serlangnya,” pungkasnya.


Editor : Maulana

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%0%0%0%
Sebelumnya :
Berikutnya :