Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah Indonesia sepanjang 2026 kembali menghadirkan kabut asap. Selama ini, dampaknya lebih banyak dikaitkan dengan gangguan kesehatan, menurunnya jarak pandang, dan terganggunya transportasi. Padahal, ada persoalan lain yang jarang mendapat perhatian, yaitu perubahan cahaya matahari yang diperlukan tanaman untuk berfotosintesis.
Oleh Prof. Dr. Ir. Dian Fiantis, M.Sc.
TANAMAN tidak dapat menghindari kabut asap. Ketika partikel hasil pembakaran memenuhi atmosfer, sebagian cahaya matahari diserap dan sebagian lainnya dihamburkan. Akibatnya, jumlah dan karakteristik cahaya yang mencapai permukaan daun berubah.
Perubahan tersebut dapat memengaruhi pertumbuhan tanaman pangan, hortikultura, dan perkebunan, termasuk tanaman yang berada jauh dari lokasi kebakaran.
Menariknya, penelitian ilmiah menunjukkan bahwa kabut asap tidak selalu menurunkan fotosintesis. Pada kondisi tertentu, aerosol justru dapat meningkatkan efisiensi penggunaan cahaya oleh tanaman. Bagaimana fenomena ini dapat terjadi?
Cahaya untuk fotosintesis
Tanaman memanfaatkan energi cahaya matahari untuk mengubah karbon dioksida dan air menjadi senyawa organik melalui fotosintesis. Bagian spektrum cahaya yang digunakan tanaman dikenal sebagai photosynthetically active radiation (PAR) dengan panjang gelombang sekitar 400–700 nanometer.
Radiasi tersebut menjadi sumber energi pembentukan karbohidrat untuk pertumbuhan akar, batang, daun, bunga, buah, dan biji.
Ketika kabut asap menyelimuti atmosfer, partikel aerosol menghamburkan dan menyerap sebagian radiasi matahari. Aerosol merupakan partikel padat atau cair berukuran sangat kecil yang melayang di udara. Dalam peristiwa karhutla, aerosol berasal antara lain dari pembakaran vegetasi dan bahan organik tanah.
Partikel tersebut dapat terbawa angin hingga ratusan kilometer sehingga pengaruhnya melampaui wilayah kebakaran.
Penelitian Davies dan Unam dalam Forest Ecology and Management pada 1999 menunjukkan bahwa kabut asap kebakaran Indonesia pada 1997 mengubah kondisi atmosfer dan menurunkan fotosintesis pada spesies pohon yang diteliti.
Penelitian dalam Geophysical Research Letters pada 2005 memperkirakan bahwa berkurangnya radiasi aktif fotosintesis akibat kabut asap kebakaran 1997 menurunkan produktivitas primer bersih vegetasi Sumatra dan Kalimantan sekitar 6,8 persen.
Asap dan fotosintesis
Cahaya matahari yang diterima tanaman terdiri atas radiasi langsung dan radiasi difus. Radiasi langsung datang dari arah matahari, sedangkan radiasi difus merupakan cahaya yang telah dihamburkan oleh molekul udara, awan, dan aerosol.
Dalam kondisi langit cerah, daun bagian atas tajuk menerima radiasi langsung yang tinggi, sedangkan daun bagian bawah sering berada dalam bayangan.
Ketika aerosol meningkatkan proporsi radiasi difus, cahaya tersebar lebih merata ke dalam tajuk. Daun yang sebelumnya kekurangan cahaya dapat memperoleh tambahan energi untuk fotosintesis.
Penelitian dalam Journal of Geophysical Research: Biogeosciences pada 2020 menunjukkan bahwa aerosol asap kebakaran di California dapat meningkatkan efisiensi penggunaan cahaya pada beberapa ekosistem pertanian, termasuk jagung dan alfalfa.
Fenomena ini dikenal sebagai diffuse radiation fertilization effect, yaitu peningkatan efisiensi pemanfaatan cahaya oleh tajuk tanaman, bukan penambahan unsur hara ke tanah.
Namun, manfaat tersebut memiliki batas. Apabila kabut asap semakin pekat, pengurangan radiasi matahari total dapat melampaui keuntungan peningkatan radiasi difus.
Selain itu, polutan seperti ozon yang terbentuk melalui reaksi kimia di atmosfer dapat merusak jaringan daun dan menghambat fotosintesis.
Penelitian Yue dan Unger dalam Nature Communications pada 2018 menunjukkan bahwa secara global, dampak bersih pencemaran udara akibat kebakaran terhadap produktivitas vegetasi tetap negatif. Dengan demikian, peningkatan radiasi difus tidak berarti kabut asap menguntungkan pertanian.
Risiko produksi pangan
Tanaman pangan seperti padi, jagung, dan kedelai memerlukan cahaya cukup untuk menghasilkan biomassa dan membentuk biji. Pada padi, ketersediaan radiasi matahari sangat penting selama pembentukan malai, pembungaan, dan pengisian gabah.
Apabila kabut asap pekat berlangsung pada fase tersebut, berkurangnya fotosintesis dapat membatasi ketersediaan karbohidrat untuk pengisian biji. Akibatnya, bobot gabah dan hasil panen berpotensi menurun.
Jagung merupakan tanaman C4 dengan kapasitas fotosintesis tinggi pada kondisi cahaya kuat. Pengurangan radiasi berkepanjangan dapat membatasi pertumbuhan dan akumulasi biomassa.
Besarnya dampak ditentukan oleh kepekatan asap, lama paparan, dan fase pertumbuhan. Kabut asap selama beberapa jam tentu berbeda pengaruhnya dibandingkan paparan selama berminggu-minggu.
Penelitian di China pada 2016 menunjukkan bahwa perubahan radiasi akibat pencemaran aerosol dapat menurunkan produksi padi dan gandum. Walaupun tidak khusus membahas karhutla, mekanismenya relevan untuk memahami risiko terhadap tanaman pangan Indonesia.
Mutu hasil hortikultura
Tanaman hortikultura menghadapi persoalan berbeda. Cabai, tomat, mentimun, dan sayuran daun umumnya memiliki siklus pertumbuhan relatif pendek, sedangkan nilai jual produknya dipengaruhi ukuran, warna, dan penampilan.
Pada cabai dan tomat, kekurangan cahaya berkepanjangan dapat menghambat pembentukan biomassa, perkembangan bunga, dan pertumbuhan buah. Pada sayuran daun seperti sawi dan selada, keterbatasan cahaya dapat memperlambat pertumbuhan dan mengurangi bobot segar.
Gangguan pertumbuhan juga berpotensi menurunkan mutu produk yang dipasarkan. Perubahan ukuran, warna, dan kualitas buah maupun sayuran dapat mengurangi nilai jual serta pendapatan petani.
Dampak terhadap tanaman perkebunan
Tanaman perkebunan seperti kelapa sawit, karet, kopi, dan kakao juga berpotensi terdampak perubahan radiasi akibat kabut asap.
Penelitian mengenai karhutla di perkebunan kelapa sawit di Jambi pada 2015 menunjukkan perubahan radiasi matahari, produktivitas primer bruto, dan evapotranspirasi selama periode pencemaran asap.
Pada tanaman tahunan, gangguan fotosintesis tidak selalu langsung terlihat sebagai penurunan hasil panen. Kelapa sawit memiliki proses pembentukan dan perkembangan tandan buah yang panjang, sehingga gangguan lingkungan dapat menimbulkan dampak tertunda.
Tanaman tahunan juga mempunyai cadangan karbon untuk membantu mempertahankan pertumbuhan. Namun, paparan kabut asap berkepanjangan atau berulang tetap berpotensi memengaruhi akumulasi biomassa dan produksi.
Ancaman karhutla 2026
Karhutla di Indonesia telah tercatat sejak awal 2026 dan masih menjadi perhatian hingga Oktober. Data Kementerian Kehutanan menunjukkan luas areal terbakar secara nasional mencapai sekitar 202.000 hektare selama Januari–Juli 2026.
Kabut asap pekat menyebabkan jarak pandang memendek karena aerosol menghamburkan dan menyerap cahaya. Namun, berkurangnya jarak pandang tidak langsung menunjukkan besarnya penurunan fotosintesis karena sebagian cahaya yang dihamburkan masih mencapai daun sebagai radiasi difus.
Untuk mengetahui dampak sebenarnya, diperlukan pengukuran radiasi fotosintetik, konsentrasi polutan, lama paparan, serta pertumbuhan dan hasil tanaman.
Pemantauan aerosol melalui satelit juga dapat membantu mengidentifikasi kawasan pertanian yang berpotensi mengalami paparan tinggi.
Melindungi fotosintesis
Pengendalian karhutla selama ini lebih banyak dikaitkan dengan perlindungan kesehatan masyarakat, hutan, permukiman, dan transportasi. Padahal, keberlanjutan produksi pertanian juga perlu mendapat perhatian.
Kabut asap dapat menjangkau sentra pertanian jauh dari lokasi kebakaran dan mengubah kondisi atmosfer tempat tanaman tumbuh.
Hingga kini, belum tersedia bukti cukup untuk menyatakan bahwa karhutla 2026 telah menyebabkan penurunan produksi pangan nasional dengan persentase tertentu. Namun, berbagai penelitian menunjukkan bahwa perubahan radiasi dan pencemaran udara akibat kebakaran dapat memengaruhi fotosintesis serta produktivitas vegetasi.
Karena itu, pemantauan karhutla perlu mempertimbangkan perubahan radiasi matahari di kawasan pertanian, bukan hanya jumlah titik panas dan luas lahan terbakar.
Perlindungan pertanian
Upaya mengurangi dampak kabut asap perlu dimulai dari pencegahan dan pengendalian karhutla secara berkelanjutan. Pemerintah perlu memperkuat peringatan dini melalui pemantauan titik panas, kualitas udara, dan aerosol satelit, terutama di sentra produksi pertanian.
Di tingkat usaha tani, langkah perlindungan perlu disesuaikan dengan jenis tanaman, fase pertumbuhan, dan lama paparan. Petani dapat menjaga kecukupan air melalui irigasi sesuai kebutuhan, menggunakan mulsa untuk mempertahankan kelembapan tanah, serta memastikan ketersediaan unsur hara tanpa pemupukan berlebihan.
Pada hortikultura, endapan abu pada daun dapat dibersihkan secara hati-hati menggunakan air bersih apabila diperlukan. Penyemprotan pestisida tanpa indikasi serangan hama atau penyakit perlu dihindari karena tidak mengatasi berkurangnya cahaya akibat asap.
Pemerintah bersama perguruan tinggi dan lembaga penelitian perlu mengkaji hubungan aerosol, radiasi matahari, fotosintesis, dan hasil panen. Pemantauan satelit yang dipadukan dengan pengamatan lapangan dapat membantu menentukan wilayah berisiko dan langkah perlindungan yang tepat.
Melindungi hutan dan lahan dari kebakaran berarti bukan hanya menjaga kualitas udara bagi manusia, tetapi juga menjaga cahaya matahari yang diperlukan tanaman untuk menghasilkan pangan.
*) Penulis berasal dari Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, dan Sekolah Pascasarjana Universitas Andalas, Padang, pengurus dan anggota Himpunan Ilmu Tanah Indonesia (HITI)


