Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 4,31 persen ke level 4.961 pada pembukaan perdagangan Senin (19/10/2026). Pelemahan dipicu dampak lanjutan pengumuman MSCI yang membuka konsultasi perubahan klasifikasi pasar modal Indonesia dari Emerging Market ke Standalone Market.
EKSPOSKALTIM, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) anjlok pada pembukaan perdagangan Senin (19/10/2026) buntut pengumuman MSCI.
IHSG dibuka melemah 223,23 poin atau 4,31 persen ke posisi 4.961,88. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 turun 28,06 poin atau 5,52 persen ke posisi 480,50.
Pelemahan disebabkan dampak lanjutan dari penyedia indeks pasar saham global Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang membuka konsultasi terkait peluang perubahan klasifikasi pasar modal Indonesia.
Pada Jumat (16/10) pagi waktu Indonesia, MSCI mengumumkan konsultasi dengan pelaku pasar global mengenai usulan perubahan klasifikasi MSCI Indeks Indonesia dari Emerging Market ke Standalone Market.
MSCI menerima masukan hingga 30 April 2027 dan akan mengumumkan keputusan pada atau sebelum 30 Juni 2027.
MSCI menyatakan kekhawatiran pelaku pasar meningkat signifikan mengenai kemampuan investasi di pasar modal Indonesia, termasuk ketidakjelasan struktur kepemilikan saham dan dugaan perilaku perdagangan yang terkoordinasi.
"Meskipun otoritas pasar modal Indonesia telah mengumumkan aksi reformasi, namun MSCI menilai perlunya implementasi yang konsisten dan bukti dampak material yang berkelanjutan," tulis pengumuman MSCI.
Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata mengatakan, selama mampu kembali menembus area 5.326–5.332, IHSG berpeluang rebound menuju resistance 5.631.
"Namun, jika tekanan jual berlanjut dan IHSG menembus support 4.999, indeks berpotensi melanjutkan pelemahan menuju area 4.471," ujar Liza dalam kajiannya di Jakarta, Senin.
Dari dalam negeri, peluang kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI-Rate) pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Oktober 2026 masih terbuka, berpotensi naik 25-50 basis poin hingga akhir tahun jika tekanan terhadap rupiah meningkat.
Liza mengatakan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed, tingginya harga minyak dunia, serta risiko pelemahan nilai tukar perlu dicermati karena berpotensi meningkatkan inflasi impor.
"Kondisi tersebut menempatkan BI pada tantangan untuk menjaga stabilitas rupiah sekaligus mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi nasional," ujar Liza.
Sementara itu, Gubernur BI Destry Damayanti mendorong penguatan kerja sama internasional melalui perluasan Local Currency Transaction (LCT) untuk mengurangi ketergantungan mata uang negara ketiga.
Hal tersebut disampaikan dalam pertemuan IMF-World Bank dan G20 Finance Ministers and Central Bank Governors pada 12–18 Oktober 2026 di Bangkok, Thailand.
Dari mancanegara, data ekonomi AS menunjukkan tekanan inflasi masih kuat, dengan CPI dan PPI di atas perkiraan.
Pelaku pasar memperkirakan 85 persen The Fed akan mempertahankan suku bunga pada Oktober, sementara peluang kenaikan 25 basis poin pada Desember mencapai 77 persen.
Di sisi energi, risiko gangguan pasokan meningkat akibat eskalasi di Timur Tengah. Serangan Iran terhadap kapal tanker di Selat Hormuz mengurangi arus minyak harian menjadi 11,62 juta barel pada pekan hingga 13 Oktober, dari tingkat dasar 17,15 juta barel.
"Kombinasi gangguan distribusi di Timur Tengah dan Rusia memperbesar risiko kelangkaan pasokan energi," ujar Liza.
Bursa regional Asia pagi ini bergerak melemah, indeks Nikkei turun 1,12 persen, Shanghai melemah 0,49 persen, Kospi melemah 0,22 persen, dan Straits Times melemah 0,10 persen. (ant)

