Titik panas karhutla Kaltim turun drastis, tapi ancaman baru banjir genangan dan bahaya DBD mengintai warga.
EKSPOSKALTIM, Balikpapan - Hujan dengan intensitas sedang hingga lebat mulai mengguyur sebagian besar wilayah Kalimantan Timur (Kaltim) seiring masuknya November yang secara klimatologis merupakan periode awal musim hujan.
Ketua Tim Kerja Data dan Informasi Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan BMKG Balikpapan, Huda Abshor Mukhsinin, mengatakan perubahan pola angin menjadi salah satu penanda masuknya periode musim hujan di Kaltim.
"Memang untuk sebagian besar wilayah Kalimantan Timur ini akhirnya sudah sering terjadi hujan, dengan intensitas yang cukup lebat, dari sedang ke lebat," kata Huda di Balikpapan, Kamis (5/11/2026).
Menurut dia, kondisi tersebut merupakan fenomena yang normal terjadi pada November karena secara klimatologis Kaltim mulai memasuki musim hujan.
Perubahan itu ditandai dengan bergesernya pola angin. Sebelumnya, angin dominan bertiup dari tenggara menuju barat laut yang dipengaruhi monsun Australia dan cenderung membawa kondisi kering.
Kini, pola angin mulai berubah dari timur laut menuju barat daya. Kondisi tersebut menjadi tanda mulai aktifnya monsun Asia di wilayah Kaltim.
"Biasanya memang di Indonesia ini membawa uap air yang cukup masif yang bisa membuat pertumbuhan awan konvektif tumbuh di sekitar Kaltim yang menghasilkan hujan dengan intensitas yang cukup signifikan," ujarnya.
Namun, Huda mengatakan awal musim hujan tahun ini mengalami keterlambatan akibat fenomena El Nino yang cukup kuat.
Sebagian Besar Kaltim Mulai Diguyur Hujan
Huda menyebut hujan kini telah turun di hampir sebagian besar wilayah Kaltim.
Berdasarkan pembaruan hari tanpa hujan hingga 31 Oktober 2026, masih terdapat wilayah yang mengalami hari tanpa hujan lebih dari 40 hari, salah satunya di Kecamatan Kenohan, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar).
"Namun untuk sebagian besar, kalau saya lihat itu di atas 80 persen sudah masuk atau sudah mulai hujan," kata Huda.
Masuknya musim hujan juga berdampak terhadap jumlah titik panas atau hotspot yang terpantau di Kaltim.
Menurut Huda, jumlah hotspot pada November turun signifikan dibandingkan Oktober.
Penurunan itu antara lain dipengaruhi hujan yang membasahi permukaan sehingga titik panas tidak terdeteksi, serta tutupan awan yang cukup tebal yang dapat menghalangi sensor satelit.
Selain itu, kondisi sebaran asap dan jarak pandang di sejumlah wilayah Kaltim juga mulai membaik dibandingkan Oktober.
Meski demikian, potensi munculnya hotspot masih ada, terutama di wilayah selatan Kaltim seperti Kabupaten Paser dan Penajam Paser Utara (PPU), serta sebagian wilayah Kutai Barat.
Potensi Hujan Lebat hingga Puncak Musim Hujan
Untuk beberapa hari ke depan, Huda memperkirakan pertumbuhan awan konvektif masih cukup signifikan sehingga hujan berpotensi kembali terjadi dengan intensitas sedang hingga lebat.
Namun, kondisi cuaca masih dapat berfluktuasi karena dinamika atmosfer berubah cukup cepat.
"Untuk beberapa hari ke depan, sepertinya potensi terhadap pertumbuhan awan konvektif itu cukup signifikan seperti hari ini. Namun memang fluktuasi masih mungkin terjadi karena dinamika cuaca akan berubah cukup cepat," katanya.
Secara klimatologis, wilayah pesisir Kaltim cenderung mengalami hujan pada dini hari hingga pagi. Sementara wilayah tengah dan barat lebih sering mengalami hujan pada siang, sore, hingga malam hari.
Huda menyebut puncak musim hujan Kaltim diperkirakan terjadi pada Desember hingga Januari.
Meski periode puncaknya tidak bergeser, durasi periode tersebut diperkirakan lebih pendek. Kondisi itu membuat peluang terjadinya cuaca ekstrem, seperti hujan lebat yang disertai angin kencang, menjadi lebih tinggi.
"Karena seperti yang disingkat itu, dia akumulasi curah hujannya dalam dua bulan itu," ujarnya.
Menurut Huda, hujan pada periode puncak musim hujan diperkirakan berada pada kategori sedang hingga lebat. Bahkan, beberapa hari berpotensi mengalami hujan dengan intensitas sangat lebat.
Waspada Banjir, Longsor, hingga DBD
Peningkatan curah hujan juga perlu diwaspadai karena dapat meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi.
Huda mengingatkan masyarakat di wilayah perkotaan yang memiliki sistem drainase yang belum memadai, seperti Samarinda dan Balikpapan, untuk mewaspadai potensi banjir.
Hujan dengan intensitas tinggi yang turun secara tiba-tiba dapat menyebabkan genangan hingga banjir, terutama apabila kapasitas drainase tidak mampu menampung limpasan air.
Kewaspadaan juga diperlukan di wilayah dengan topografi curam karena peningkatan curah hujan dapat meningkatkan potensi longsor.
Selain banjir dan longsor, peningkatan curah hujan juga dapat berdampak terhadap kesehatan masyarakat.
Genangan air yang muncul setelah hujan dapat menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk, termasuk nyamuk penyebab demam berdarah dengue (DBD).
"Genangan air yang banyak itu akan membuat siklus hidup dari, contohnya, nyamuk demam berdarah juga meningkat," kata Huda.




.jpg)