BMKG mengeluarkan peringatan dini mengenai potensi dinamika cuaca yang signifikan di sejumlah wilayah Indonesia.
EKSPOSKALTIM, Sangatta – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) mulai memperkuat langkah antisipasi menghadapi musim kemarau dan potensi dampak El Nino yang diperkirakan meningkatkan suhu serta mengganggu ketersediaan air bagi sektor pertanian.
Langkah tersebut dilakukan melalui pemetaan menyeluruh terhadap sumber-sumber air pertanian, mulai dari embung, bendungan, sumur bor, hingga aliran sungai yang selama ini menjadi penopang utama kebutuhan irigasi dan produksi pangan masyarakat.
Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman mengatakan langkah antisipasi tersebut telah dibahas bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) sebagai bagian dari upaya menjaga ketahanan pangan daerah.
“Sebagai antisipasi, Forkopimda sudah membahas langkah strategis dan pemetaan sumber air, terutama menyiapkan kebutuhan air di kawasan hortikultura dan padi sawah,” kata Ardiansyah di Sangatta, Jumat (10/7/2026).
Menurut dia, pemetaan harus dilakukan hingga tingkat desa agar setiap wilayah memiliki strategi yang sesuai dengan kondisi lapangan, terutama kawasan pertanian yang rentan mengalami kekurangan air saat musim kemarau.
Data pemerintah daerah menunjukkan saat ini terdapat 38 embung yang telah beroperasi di berbagai kecamatan sebagai sumber cadangan air pertanian. Infrastruktur tersebut tersebar di sejumlah sentra pertanian seperti Kaliorang, Kaubun, Kongbeng, dan Long Mesangat.
Selain itu, Kutim juga memiliki dukungan bendungan besar di kawasan Kaubun, Kongbeng, dan Long Mesangat serta jaringan irigasi teknis di Kaliorang yang mampu mengairi sekitar 1.300 hektare lahan sawah.
Pemerintah daerah juga mencatat keberadaan lebih dari 50 aliran sungai yang dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhan pertanian, perkebunan, dan konsumsi masyarakat. Dari jumlah tersebut, terdapat 14 sungai utama yang menjadi tulang punggung pasokan air di berbagai wilayah.
Beberapa di antaranya adalah Sungai Kedang Kepala yang membentang dari Kutai Kartanegara hingga Kutai Timur, Sungai Sangatta, Wahau, Kelinjau, Bengalon, Kaubun, Penyarai, Antan, Massabang, Senambah, Telen, Ngayau, hingga Sungai Makanying.
Ardiansyah menegaskan keberadaan sungai, embung, bendungan, serta sistem pompanisasi menjadi faktor penting untuk menjaga stabilitas produksi pangan ketika curah hujan mulai berkurang.
Menurutnya, kawasan karst di Sekerat dan Kaliorang juga memiliki peran strategis karena didukung aliran sungai bawah tanah dan mata air pegunungan yang menjadi sumber air pelengkap bagi aktivitas pertanian masyarakat.
“Sementara pertanian di kawasan karst Sekerat dan Kaliorang, aliran sungai bawah tanah dan mata air pegunungan juga menjadi sumber pelengkap, sehingga kawasan tersebut harus terus dijaga,” ujarnya.
Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan sebagian besar wilayah Kalimantan berada dalam kondisi berawan hingga berawan tebal pada Sabtu (11/7/2026). Meski demikian, BMKG mengingatkan adanya dinamika atmosfer yang berpotensi memengaruhi kondisi cuaca di sejumlah wilayah Indonesia.
BMKG juga meminta masyarakat mewaspadai potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat di Kalimantan Utara. Adapun Tanjung Selor diprakirakan berpotensi mengalami hujan disertai petir.
Di tengah kondisi cuaca yang masih fluktuatif tersebut, Pemkab Kutim memilih menyiapkan langkah jangka panjang melalui penguatan ketahanan air pertanian agar produksi pangan tetap terjaga sepanjang musim kemarau tahun ini.


.jpg)