BPS menyatakan jumlah penduduk miskin di Kalimantan Timur berkurang sekitar 1.400 orang dalam enam bulan terakhir.
EKSPOSKALTIM, Samarinda - Pertumbuhan ekonomi dan penurunan pengangguran ikut mendorong turunnya angka kemiskinan di Kalimantan Timur pada Maret 2026. Namun di balik tren positif itu, jumlah penduduk miskin di wilayah perdesaan justru meningkat, menunjukkan manfaat pertumbuhan ekonomi belum dirasakan merata.
Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Timur mencatat angka kemiskinan di provinsi ini kembali menurun pada Maret 2026. Persentase penduduk miskin tercatat sebesar 5,14 persen atau turun dibanding September 2025 yang berada di angka 5,19 persen.
Kepala BPS Kaltim Mas'ud Rifai mengatakan penurunan tersebut didorong oleh sejumlah faktor, di antaranya pertumbuhan ekonomi yang tetap positif serta menurunnya tingkat pengangguran.
"Ekonomi Kaltim pada triwulan pertama 2026 tumbuh 2,99 persen. Pertumbuhan ini didukung sektor perdagangan serta reparasi mobil dan sepeda motor. Di sisi lain, tingkat pengangguran pada Februari 2026 juga turun dibanding periode yang sama tahun lalu," ujar Mas'ud di Samarinda, Senin (10/8).
Secara jumlah, penduduk miskin di Kaltim pada Maret 2026 tercatat sebanyak 200,64 ribu orang. Angka tersebut berkurang sekitar 1,40 ribu orang dibanding September 2025 yang mencapai 202,04 ribu orang.
Meski demikian, data BPS menunjukkan penurunan kemiskinan tidak terjadi secara merata antara wilayah perkotaan dan perdesaan.
Di perkotaan, persentase penduduk miskin turun dari 4,31 persen pada September 2025 menjadi 4,15 persen pada Maret 2026. Jumlah penduduk miskin perkotaan juga berkurang 3,54 ribu orang, dari 116,95 ribu menjadi 113,41 ribu orang.

Sebaliknya, kondisi berbeda terjadi di wilayah perdesaan. Persentase penduduk miskin desa meningkat dari 7,24 persen menjadi 7,42 persen. Jumlah penduduk miskin perdesaan pun bertambah sekitar 2,14 ribu orang, dari 85,09 ribu menjadi 87,23 ribu orang.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa dampak pertumbuhan ekonomi belum sepenuhnya dirasakan masyarakat di wilayah pedesaan.
Garis Kemiskinan Naik
BPS juga mencatat Garis Kemiskinan (GK) di Kalimantan Timur pada Maret 2026 mencapai Rp935.662 per kapita per bulan.
Sebagian besar komponen garis kemiskinan masih didominasi kebutuhan makanan yang mencapai Rp657.426 per kapita per bulan atau sekitar 70,26 persen. Sementara kebutuhan nonmakanan menyumbang Rp278.236 per kapita per bulan atau 29,74 persen.
Mas'ud menjelaskan rata-rata rumah tangga miskin di Kaltim memiliki 5,12 anggota keluarga. Dengan kondisi tersebut, garis kemiskinan per rumah tangga mencapai sekitar Rp4,79 juta per bulan.
"Pada Maret 2026, rata-rata rumah tangga miskin di Kalimantan Timur memiliki 5,12 anggota rumah tangga. Artinya garis kemiskinan per rumah tangga mencapai Rp4.790.589 per bulan," katanya.
Meski penurunan kemiskinan masih relatif tipis, BPS menilai tren tersebut menunjukkan kondisi sosial ekonomi masyarakat Kaltim tetap terjaga di tengah berbagai tantangan ekonomi sepanjang semester pertama 2026. (ant)



