PORTAL BERITA ONLINE NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE BERANI BEDA..!! MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

Kasus ISPA Bontang Naik Lagi, Dinkes: Bukan Semata karena Karhutla

Home Berita Kasus Ispa Bontang Naik L ...

Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Bontang kembali menunjukkan tren kenaikan dalam dua bulan terakhir. Belum bisa serta-merta dikaitkan dengan fenomena karhutla.


Kasus ISPA Bontang Naik Lagi, Dinkes: Bukan Semata karena Karhutla
Kondisi pemadaman Karhutla di Jalan Pipa Kusnodo, Kota Bontang. (Dok. BPBD Bontang)

EKSPOSKALTIM, Bontang - Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kota Bontang kembali mengalami peningkatan. Menariknya, tidak serta merta bisa langsung dikaitkan dengan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Kepala Dinkes Bontang, Toetoek Pribadi Ekowati, mengatakan kewaspadaan masyarakat tetap perlu ditingkatkan, lantaran kondisi kemarau dan meningkatnya kejadian karhutla di sejumlah wilayah Kalimantan sepanjang Agustus 2026.

Meski demikian, masyarakat diminta tidak panik. Berdasarkan pemantauan Dinkes, kualitas udara di Bontang sejauh ini belum menunjukkan dampak buruk yang signifikan akibat kiriman asap karhutla lintas wilayah.

Di sisi lain, data Dinkes menunjukkan kasus ISPA sempat mengalami tren penurunan sejak awal tahun, sebelum kembali meningkat dalam dua bulan terakhir.

Berdasarkan data yang dihimpun, Januari 2026 tercatat 2.493 kasus ISPA. Jumlah tersebut kemudian turun menjadi 2.105 kasus pada Februari, 1.872 kasus pada Maret, 1.845 kasus pada April, dan mencapai titik terendah pada Mei dengan 1.587 kasus.

Memasuki Juni, kasus kembali meningkat menjadi 1.857 kasus atau naik sekitar 17 persen dibandingkan Mei. Tren kenaikan masih berlanjut pada Juli dengan 1.880 kasus.

Toetoek menegaskan peningkatan tersebut belum cukup menjadi dasar untuk menyimpulkan bahwa ISPA di Bontang dipicu oleh asap karhutla.

“Belum tepat kalau langsung menyimpulkan bahwa kasus ISPA di Bontang pasti meningkat akibat karhutla. Hubungan tersebut harus dibuktikan dengan melihat beberapa indikator secara bersamaan,” jelasnya, Rabu (2/9). 

Menurutnya, sejumlah indikator perlu diperhatikan untuk melihat kemungkinan keterkaitan antara karhutla dan peningkatan ISPA.

“ISPA memiliki banyak faktor penyebab, bukan hanya asap karhutla,” tegasnya.

Indikasi dampak karhutla terhadap peningkatan ISPA akan lebih kuat apabila dalam kurun waktu sekitar 3–7 hari terjadi kebakaran, kualitas udara memburuk secara signifikan, dan secara bersamaan terjadi peningkatan kunjungan pasien ISPA, terutama di wilayah yang berada dalam arah sebaran asap.

Dinkes mengimbau masyarakat, agar mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kondisi udara mulai berasap atau jarak pandang menurun.

“Masyarakat yang beraktivitas di luar rumah juga disarankan menggunakan masker, memperbanyak minum air, dan tutup ventilasi rumah apabila asap mulai masuk,” tegasnya.

Dinkes juga meminta masyarakat segera mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan, apabila mengalami sesak atau kesulitan bernapas berat, napas sangat cepat, nyeri dada, atau kondisi tubuh dan kesadaran memburuk.

“Terkhusus balita dan lansia yang lebih rentan. Jangan tunggu kondisi memburuk baru mencari pertolongan medis,” tandasnya.


Editor : Maulana

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%0%0%0%
Sebelumnya :
Berikutnya :