Bertahun-tahun Sungai Karang Mumus dituduh sebagai biang banjir Samarinda. Padahal sungai itu tidak pernah berubah. Yang berubah adalah hutan di hulunya, rawa yang ditimbun, sempadan yang dipersempit, dan kebiasaan manusia yang menjadikan sungai sebagai tempat pembuangan masalah.
Selasa, 28 Juli 2026 13:49 WITA
EKSPOSKALTIM, Samarinda — Nama Sungai Karang Mumus (SKM) hampir selalu muncul setiap kali banjir merendam Samarinda. Aliran air sepanjang 34,7 kilometer itu kerap menjadi sasaran tudingan saat genangan datang. Padahal, menurut para pegiat lingkungan, sungai hanyalah cermin dari kondisi daerah aliran sungai (DAS) dan cara manusia memperlakukannya selama bertahun-tahun.
Dahulu, Karang Mumus dikenal sebagai urat nadi kehidupan Kota Samarinda. Airnya jernih, menjadi jalur transportasi warga, sumber penghidupan nelayan, sekaligus ruang hidup berbagai satwa dan tumbuhan yang bergantung pada ekosistem sungai.
Seiring pertumbuhan kota, wajah sungai perlahan berubah. Sampah rumah tangga menumpuk, sempadan sungai menyempit akibat pembangunan, sementara sejumlah bagian alurnya diturap dan dibeton. Sungai yang dulu menjadi ruang kehidupan perlahan diperlakukan layaknya saluran pembuangan.
Ketua Gerakan Memungut Sehelai Sampah Sungai Karang Mumus (GMSS-SKM), Misman, menjadi salah satu saksi perubahan tersebut. Mantan wartawan kelahiran Samarinda itu mengaku tak sanggup hanya menyaksikan kerusakan sungai yang terus terjadi.
Puluhan tahun menulis tentang pentingnya menjaga sungai ternyata belum cukup mengubah keadaan. Pada Juli 2015, ia memilih turun langsung memungut sampah di bantaran Karang Mumus, seorang diri.
“Helai demi helai sampah yang kupungut adalah embrio yang kelak akan tumbuh besar untuk kelayakan sungai,” kata Misman.
Apa yang dimulai dari satu orang kemudian berkembang menjadi gerakan besar. Mahasiswa, komunitas lingkungan, TNI, Polri, hingga warga dari berbagai daerah bergabung dalam aksi bersih sungai tersebut. Dalam satu dekade terakhir, lebih dari 50 ribu orang tercatat pernah terlibat dalam kegiatan GMSS-SKM.
Gerakan itu juga melahirkan Sekolah Sungai Karang Mumus (Sesukamu), sebuah ruang edukasi yang mengajarkan masyarakat tentang pengelolaan sampah, pentingnya menjaga kualitas air, dan peran sungai bagi keberlanjutan kota.
Namun bagi Misman, membersihkan sampah hanyalah bagian kecil dari persoalan yang lebih besar.
Menurutnya, banjir yang berulang di Samarinda tidak semata-mata disebabkan oleh kapasitas sungai. Masalah utama justru berada di kawasan DAS yang kehilangan kemampuan menyerap dan menahan air akibat perubahan fungsi lahan.
“Sungai tidak punya air sendiri. Air berasal dari daerah aliran sungai. Kalau DAS rusak, sungai pasti menerima dampaknya,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa sungai merupakan sistem alami yang terhubung dengan hutan, rawa, semak belukar, dan kawasan resapan dari hulu hingga hilir. Ketika ruang-ruang itu hilang karena alih fungsi lahan, volume limpasan air meningkat dan akhirnya bermuara ke sungai dalam waktu yang lebih cepat.
Karena itu, Misman menilai pendekatan yang hanya berfokus pada normalisasi sungai melalui pelurusan alur, pengerukan, atau pemasangan beton di tepi sungai tidak akan menyelesaikan akar persoalan.
Saat ini, sebagian kawasan hilir dan tengah Karang Mumus telah berubah menjadi kanal. Padahal, kata dia, terdapat perbedaan mendasar antara sungai dan kanal.
Sungai adalah ekosistem alami yang menopang kehidupan berbagai makhluk hidup dan menjaga siklus air. Sementara kanal dibuat untuk mempercepat aliran air menuju hilir.
“Meluruskan alur serta menutup tepian sungai dengan beton justru akan mengganggu kehidupan biota air dan memutus rantai ekosistem yang sudah terbentuk secara alami,” kata Misman.
Di sisi lain, Pemerintah Kota Samarinda bersama Dinas Lingkungan Hidup terus melakukan kegiatan pembersihan sungai secara rutin dengan dukungan armada pengangkut sampah dan berbagai program pengendalian banjir.
Meski demikian, peringatan Hari Sungai Nasional yang diperingati setiap 27 Juli menjadi pengingat bahwa masa depan Karang Mumus tidak hanya bergantung pada seberapa banyak sampah yang berhasil diangkat dari sungai.
Lebih dari itu, masa depan sungai ditentukan oleh kemampuan menjaga ruang hidupnya, melindungi kawasan DAS, mempertahankan vegetasi penyangga, serta menghentikan kebiasaan menjadikan sungai sebagai tempat membuang persoalan.
Sebab, seperti yang ditunjukkan Karang Mumus selama bertahun-tahun, sungai tidak pernah menjadi musuh kota. Yang menentukan nasib sungai justru manusia yang hidup di sekitarnya.



