Denting lesung kembali bergema di Kampung Bena Baru, Berau. Tradisi turun-temurun masyarakat Dayak Kenyah itu tak hanya menjaga jejak leluhur, tetapi juga menjadi wajah wisata budaya yang terus dijaga di Berau.
EKSPOSKALTIM, Samarinda - Denting lesung kembali bergema di Kampung Bena Baru, Berau. Tradisi turun-temurun masyarakat Dayak Kenyah itu tak hanya menjaga jejak leluhur, tetapi juga menjadi wajah wisata budaya yang terus dijaga di Berau.
Pemerintah Kabupaten Berau bersama masyarakat terus mendorong pelestarian adat dan budaya lokal sebagai bagian dari menjaga warisan leluhur sekaligus memperkuat daya tarik pariwisata daerah.
Di tengah dikenal luas lewat wisata bahari dan bentang alamnya, Berau kini juga menempatkan wisata budaya sebagai bagian penting dalam memperkenalkan daerah kepada wisatawan.
“Untuk itu kami mengapresiasi masyarakat mulai kampung hingga perkotaan yang terus melestarikan adat dan budaya lokal masing-masing, karena selain sebagai upaya mempertahankan warisan leluhur juga untuk menarik wisatawan,” kata Asisten I Sekretariat Pemkab Berau Hendratno, Senin (25/5).
Salah satu yang kembali menghidupkan suasana budaya tahun ini adalah Festival Lesung Osap yang digelar masyarakat Kampung Bena Baru, Kecamatan Sambaliung, pada 21 hingga 23 Mei 2026.
Bagi masyarakat setempat, Lesung Osap bukan sekadar agenda tahunan. Tradisi itu telah diwariskan turun-temurun sebagai bentuk syukur atas hasil pertanian yang diperoleh setiap musim panen.
Karena itu, festival selalu punya makna lebih dari sekadar pertunjukan.
“Saya terima kasih kepada masyarakat dan para tokoh adat yang terus menjaga budaya agar tetap lestari hingga saat ini. Kegiatan budaya seperti Lesung Osap tidak hanya menjaga tradisi leluhur, tetapi juga menjadi daya tarik wisata budaya di Kabupaten Berau,” ujar Hendratno.
Menurut dia, budaya seperti Lesung Osap juga menjadi identitas yang penting dipertahankan, terutama karena Kampung Bena Baru dikenal sebagai salah satu pusat komunitas Dayak terbesar di Berau yang hingga kini masih kuat menjaga adat dan tradisinya.
Rangkaian Festival Lesung Osap berlangsung selama tiga hari.
Hari pertama diisi dengan pembukaan festival, olahraga tradisional, serta pertunjukan seni budaya. Hari kedua dilanjutkan dengan perlombaan tradisional dan pentas seni masyarakat. Sementara hari terakhir dipusatkan pada syukuran pascapanen dan penutupan festival.
Salah satu yang paling menyita perhatian adalah tarian kolosal yang menceritakan perjalanan masyarakat Dayak Kenyah dalam bercocok tanam padi.
Gerak tarian dibuka lewat Kancet Ajai yang menggambarkan semangat membuka lahan dan bekerja. Setelah itu berlanjut ke Ledek yang menggambarkan proses membersihkan lahan, lalu Nogan yang menceritakan warga menanam padi secara gotong royong.
Suasana panen kemudian digambarkan lewat Tari Majau. Setelah itu Tari Datun dibawakan sebagai simbol rasa syukur atas hasil panen yang diperoleh.
Rangkaian pertunjukan ditutup dengan Mejung Lesung yang menggambarkan aktivitas mengangkat lesung sebagai alat pengolahan padi, lalu Mecaq Ontad yang menampilkan tradisi menumbuk padi di lesung.
Di Kampung Bena Baru, tradisi itu tetap dijaga seperti dulu. Suara lesung yang dipukul bergantian masih terdengar, tarian masih dibawakan, dan cerita tentang panen tetap diwariskan—membuat budaya lama terus hidup di tengah Berau yang terus bergerak maju. (ant)



