Di tengah produktivitas tambak tradisional yang menurun drastis, Universitas Mulawarman meluncurkan program Sekolah Lapang untuk mendampingi petambak Delta Mahakam mengadopsi metode budidaya ramah iklim dan berkelanjutan.
EKSPOSKALTIM, Samarinda -Tambak tradisional di kawasan Delta Mahakam, Kalimantan Timur, menghadapi tantangan berat. Riset akademis menunjukkan masa produktif optimal lahan tambak hanya bertahan sekitar 13 tahun sebelum kualitas air dan substratnya menurun. Fluktuasi suhu ekstrem, rendahnya kadar oksigen, polusi air, serta dampak perubahan iklim menjadi penyebab utama kemerosotan ini.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Universitas Mulawarman (Unmul) menggagas Sekolah Lapang, program yang mendampingi petambak dalam mengadopsi teknik budidaya yang adaptif terhadap penyakit dan perubahan iklim.
“Unmul siap mendampingi para petambak agar praktik budidayanya lebih adaptif dan berkelanjutan,” kata Prof Esti Handayani Hardim, pakar lingkungan Unmul, di Samarinda, Jumat (3/4).
Salah satu inovasi utama yang diperkenalkan adalah metode silvofishery, yaitu integrasi pohon mangrove di dalam maupun sekitar area tambak. Akar mangrove bertindak sebagai filter alami yang menyerap polutan, menetralisir keasaman substrat, dan menyediakan mikroorganisme pengurai mikroplastik.
Sistem ini tidak hanya menjaga kualitas lingkungan, tetapi juga meningkatkan kandungan asam amino dan asam lemak pada udang dan kepiting, menghasilkan produk berstandar premium yang diminati pasar ekspor.
Selain itu, petambak didorong untuk mempraktikkan sistem polikultur, menggabungkan bandeng, rumput laut, udang, dan kepiting dalam satu kolam. Konsep ekonomi sirkular pada sistem ini memanfaatkan kotoran udang sebagai nutrisi bagi rumput laut, sehingga kebutuhan pakan tambahan dan pupuk kimia dapat ditekan secara signifikan.
“Budi daya perikanan yang sehat tanpa memicu deforestasi mangrove menjadi syarat utama agar produk ekspor Kaltim bebas dari isu pencemaran dan diterima di pasar internasional,” tegas Esti.
Program Sekolah Lapang diharapkan menjadi jembatan antara penelitian akademis dan praktik petambak, menjaga produktivitas tambak, meningkatkan kualitas produk, dan melestarikan ekosistem pesisir di Kalimantan Timur.

