PORTAL BERITA ONLINE NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE BERANI BEDA..!! MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

Harga Emas Tembus Rp2,7 Juta, Sinyal Positif atau Alarm Inflasi?

Home Berita Harga Emas Tembus Rp2,7 J ...

Lonjakan tajam harga emas yang menembus Rp2,7 juta per gram terjadi di saat rupiah hanya bergerak tipis. Di balik euforia aset lindung nilai, ekonom mengingatkan sinyal pasar yang “memanas”, potensi inflasi, spekulasi, tekanan impor, hingga ujian berat bagi kredibilitas kebijakan fiskal dan moneter pemerintah. 


Harga Emas Tembus Rp2,7 Juta, Sinyal Positif atau Alarm Inflasi?
Harga emas belakangan ini menembus Rp2,7 juta per gram. Foto ilustrasi: Jurnal Post

EKSPOSKALTIM, Jakarta - Harga emas batangan PT Aneka Tambang (Antam) kembali melonjak tajam. Dalam satu hari, harga emas naik Rp35.000 dan menembus level Rp2.772.000 per gram, berdasarkan laman resmi Logam Mulia, Rabu (21/1). Harga jual kembali (buyback) turut menguat ke Rp2.612.000 per gram, menandai reli emas yang semakin agresif di tengah ketidakpastian global.

Di saat yang sama, nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan di Jakarta tercatat menguat tipis 20 poin atau 0,12 persen ke level Rp16.936 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.956 per dolar AS. Kurs referensi Bank Indonesia (JISDOR) juga menguat ke Rp16.963 per dolar AS. Namun penguatan tersebut dinilai masih rapuh dan belum mencerminkan perbaikan fundamental yang solid.

Ekonom Universitas Mulawarman Purwadi Purwoharsojo menilai lonjakan harga emas bukan sekadar kabar baik bagi investor, melainkan sinyal meningkatnya kecemasan pasar terhadap stabilitas ekonomi. Peralihan aset ke emas, menurutnya, sering kali terjadi ketika pelaku pasar membaca adanya tekanan yang belum sepenuhnya terkelola.

“Kalau semua orang lari ke emas, itu tanda ekonomi sedang panas. Dolar bisa makin kuat dan rupiah berisiko makin babak belur,” ujar Purwadi kepada media ini, Kamis (22/1). 

Menurut Purwadi, kondisi ini menuntut sinkronisasi yang kuat antara kebijakan fiskal pemerintah dan kebijakan moneter bank sentral. Tanpa koordinasi yang solid, lonjakan harga emas berpotensi memperbesar tekanan inflasi dan mempersempit ruang kebijakan.

“Yang tidak kalah penting, harus ada sinkron antara kebijakan fiskal dan moneter supaya inflasi tetap terjaga,” tegasnya.

https://eksposkaltim.com/berita-16100-meledak-harga-emas-hari-ini-tembus-rp277-juta-per-gram.html

Ia juga mengingatkan bahwa kenaikan harga emas dapat memicu perilaku spekulatif. Jika dibiarkan, spekulasi berlebihan justru bisa memperpanjang tekanan inflasi dan menekan daya beli masyarakat.

“Harga emas naik bisa memicu spekulasi. Ini harus dijaga pemerintah agar perilaku spekulasi bisa dikendalikan, karena kalau inflasi berkepanjangan, efeknya bisa menurunkan daya beli,” jelas Purwadi.

Risiko lain yang perlu diwaspadai adalah ketergantungan pada impor komponen berbasis emas di tengah penguatan dolar AS. Dalam situasi rupiah yang masih rentan, impor berpotensi menjadi beban tambahan bagi perekonomian nasional.

“Kalau masih ada komponen bahan emas yang impor, itu bisa jadi beban negara. Impor yang banyak berarti butuh dolar yang banyak, sementara di saat yang sama rupiah melemah dan dolar kuat,” katanya.

Meski demikian, Purwadi mencatat lonjakan harga emas juga menyimpan potensi sisi positif, terutama bagi penerimaan negara dari sektor pertambangan. Namun, manfaat itu hanya akan terasa jika tata kelola pajak berjalan efektif dan transparan.

“Penerimaan pajak negara bisa saja naik, misalnya dari perusahaan seperti PT Freeport, asal pajaknya jujur dan benar-benar masuk ke negara,” ujarnya.

Ia mengingatkan tantangan besar masih membayangi sistem administrasi perpajakan, khususnya dalam implementasi Coretax yang saat ini menjadi andalan Kementerian Keuangan.

https://eksposkaltim.com/berita-16025-investasi-kaltim-tembus-peringkat-6-nasional.html

“Coretax masih banyak masalah. Sekelas BUMN saja masih ribet, apalagi masyarakat awam. Ini benar-benar harus jadi perhatian serius Menteri Keuangan,” tegas Purwadi.

Lebih jauh, ia menyoroti risiko lanjutan jika tekanan nilai tukar semakin dalam. Menurutnya, pelemahan rupiah hingga melewati batas psikologis tertentu akan menjadi ujian berat bagi pengelolaan fiskal nasional.

“Kalau dolar tembus Rp17.000 dan berlanjut sampai Rp19.000, PR Menteri Keuangan akan makin berat. Itu akan jadi ujian serius untuk membuktikan pengelolaan fiskal kita mampu menjaga stabilitas di tengah tekanan global,” pungkasnya.


Editor : Maulana

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%0%0%0%
Sebelumnya :
Berikutnya :