Di pesisir Kota Bontang, deretan vila di atas laut Bontang Kuala menjadi tujuan pelarian warga Kalimantan Timur saat Lebaran. Bukan sekadar tempat menginap.
EKSPOSKALTIM, Bontang - Pagi di Bontang Kuala tidak dimulai dengan suara kendaraan, melainkan bunyi air laut yang memukul pelan tiang-tiang kayu ulin.
Dari jendela vila, laut terbentang tanpa batas. Angin asin masuk perlahan, membawa suasana yang berbeda dari hiruk pikuk daratan, terutama pada masa libur Lebaran ketika mobilitas orang mencapai puncaknya.
Momentum itu terasa nyata. Dalam sehari, kunjungan ke kawasan ini bisa mencapai sekitar 1.500 orang. Vila-vila di atas laut bahkan telah penuh dipesan jauh sebelum hari raya tiba.
“Kalau Lebaran, reservasi bisa sampai satu bulan sebelumnya,” kata Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Bontang Kuala, Halimah.
Di atas perairan dangkal, puluhan vila berdiri berjajar, menyatu dengan permukiman warga. Bangunan-bangunan ini tidak berdiri terpisah dari kehidupan lokal. Justru tumbuh dari kampung yang telah ada jauh sebelum Bontang menjadi kota industri.
Bontang Kuala bukan sekadar destinasi baru. Kawasan ini sudah hidup sejak abad ke-18, bermula dari komunitas Suku Bajau, kelompok pengembara laut yang membangun kehidupan mengikuti pasang surut air.
“Ini cikal bakal Kota Bontang,” ujar Ketua Adat Bontang Kuala, Jafar.
Seiring waktu, kampung terapung itu berkembang. Kini, lebih dari 6.700 jiwa tinggal di atas struktur kayu yang sama. Sebagian tetap melaut, sebagian lain menyambut wisatawan.
Transformasi itu terlihat jelas saat Lebaran. Wisatawan datang bukan hanya untuk melihat laut, tetapi untuk tinggal di atasnya. Merasakan malam yang sunyi tanpa kebisingan kota, atau berjalan di pelataran kayu ulin saat senja.

Pelataran baru yang dibangun menjadi titik berkumpul favorit, tempat orang berhenti sejenak, memandang laut yang berubah warna.
Di sela itu, ada pengalaman lain yang sulit dipisahkan adalah makanan. Salah satu yang paling dicari adalah Gammi Bawis, hidangan ikan lokal yang dimasak langsung di atas cobek tanah liat.
Namun di balik geliat wisata, ada upaya menjaga keseimbangan. Jafar menegaskan bahwa seluruh aktivitas vila tetap mengikuti aturan, termasuk pajak dan retribusi.
Warga juga mulai membangun alternatif penghidupan melalui keramba. Sekitar 30 petak budidaya ikan kini mengapung di sekitar kampung.
Langkah ini menjadi cara untuk menjaga laut tetap memberi, tanpa harus terus mengambil. Ke depan, keramba itu direncanakan terhubung dengan konsep restoran apung, di mana pengunjung dapat langsung memilih ikan dari tempat budidaya.
Di Bontang Kuala, wisata tidak berdiri sendiri. Ia tumbuh dari kampung yang sudah lebih dulu ada. Dari tradisi, dari laut, dan dari cara hidup yang perlahan menyesuaikan diri dengan zaman.
Di atas tiang-tiang kayu yang menahan ombak, tempat ini menawarkan sesuatu yang sederhana, yakni ruang untuk berhenti, meski hanya sejenak, sebelum kembali ke rutinitas. (antara)



