Kebijakan kenaikan harga BBM nonsubsidi tidak hanya memukul dompet konsumen, tetapi juga mengubah pola pembelian di SPBU di Balikpapan.
EKSPOSKALTIM, Balikpapan - Kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM non-subsidi jenis Pertamax membuat sebagian warga Balikpapan memilih beralih ke BBM subsidi jenis Pertalite. Harga yang lebih murah, jadi alasan utama warga beralih ke Pertalite. Sebagai informasi, kini harga per liter Pertamax di Kaltim mencapai Rp16.650.
Manajer SPBU Gunung Guntur, Balikpapan Tengah, Randy Faisal Hud, mengatakan, tren peralihan konsumen Pertamax sudah nampak sejak Rabu (10/6/2026) kemarin.
“Sejak kemarin memang sudah kelihatan ada tren peralihan dari Pertamax ke Pertalite,” kata Randy, Kamis (11/6/2026).
Randy bilang, pada hari biasa antrean Pertalite memang selalu ramai. Namun, setelah pemerintah mengumumkan kenaikan harga, antrean kian ramai dan panjang, baik roda dua atau empat.
“Jika biasanya dalam sehari penjualan Pertalite 23-24 kiloliter, sekarang mencapai 28-29 kiloliter,” kata Randy.
Jika penjualan Pertalite meningkat, Randy menyebut penjualan Pertamax mulai mengalami penurunan. Jika biasanya penjualan dalam sehari mencapai 9 kiloliter, sejak Rabu kemarin, penjualan Pertamax hanya mencapai 7 kiloliter.
“Karena selisih harganya kan cukup tinggi, jadi masyarakat rela antre untuk mendapatkan Pertalite,” kata dia.
Penjualan Dexlite Menurun
Tak hanya produk Pertamax, Randy juga menyebut penjualan Dexlite juga mengalami penurunan cukup tajam. Jika biasanya dalam sehari dia bisa menjual 1 kiloliter, kini penjualan solar nonsubsidi tersebut hanya mencapai 500 liter.
“Khususnya solar nonsubsidi kenaikan harganya memang cukup tajam, jadi penjualan juga turun drastis,” katanya.
Harga Dexlite di Kaltim kini menyentuh Rp23.500 per liter. “Ya mereka (konsumen Dexlite) kini belinya juga tidak seperti biasa. Dikurangi,” ucap dia.
Kenaikan BBM Beratkan Warga
Supriyono, warga Kelurahan Karang Rejo, mengaku rela antre panjang untuk mendapatkan Pertalite setelah pemerintah menaikkan harga Pertamax. “Saya biasanya pakai Pertamax karena kan antreannya tidak panjang. Tapi setelah harga naik, saya tidak sanggup membeli Pertamax,” kata dia.
Sebagai masyarakat, Supri mengaku kenaikan harga BBM ini sangat memberatkan. “Semoga bisa segera kembali turun harganya. Sebab ini sangat memberatkan kami masyarakat bawah,” ungkap dia.
Senada, Nahar, seorang sopir taksi daring mengaku terpaksa beralih menggunakan Pertalite setelah harga Pertamax naik. Dia mengaku khawatir pendapatannya tak cukup untuk membeli bbm dan kebutuhan sehari-hari jika memaksa menggunakan Pertamax.
“Biasanya saya ngisi Pertamax Rp200 ribu. Sekarang saya alihkan ke Pertalite saja, takut nanti enggak nutup sama pendapatan,” ujar dia.



