Karhutla yang membakar ratusan hektare lahan di Kutai Barat meninggalkan ancaman lain yang tak kalah berbahaya.
EKSPOSKALTIM, Balikpapan – Hampir tiga bulan menangani kebakaran hutan dan lahan di Kutai Barat, personel Badan Penanggulangan Bencana Daerah tak hanya berhadapan dengan api yang merambat cepat dan medan sulit.
Paparan asap dalam waktu lama kini menjadi ancaman nyata yang mengintai kesehatan mereka, bahkan salah satu petugas hampir kehilangan kesadaran saat menangani kebakaran di Kecamatan Damai.
Erwin Sutanto (40), salah satu personel BPBD Kutai Barat yang telah bertugas sejak lembaga tersebut dibentuk pada 2012, mengungkapkan bahwa kondisi karhutla tahun ini terasa jauh lebih berat dibandingkan periode kebakaran besar pada 2015 dan 2019.
Menurutnya, dulu masih ada hari-hari tanpa titik api, namun kini setiap hari selalu ada laporan yang masuk dan personel harus langsung bergerak.
"Kalau dibandingkan tahun 2015 atau 2019, kondisi sekarang terasa lebih parah. Dulu masih ada jeda hari tanpa titik api. Sekarang setiap hari selalu ada laporan masuk dan personel harus langsung bergerak," ujar Erwin kepada media ini.
Erwin menuturkan bahwa personel di lapangan berpegang pada prinsip tidak meninggalkan lokasi sebelum api benar-benar padam. Akibatnya, operasi pemadaman yang dimulai pada siang hari terkadang baru selesai menjelang subuh. Dalam penanganan kebakaran tertentu, personel bahkan harus bertahan selama beberapa hari di lokasi.
Salah satu pengalaman paling berat dialami tim ketika menangani kebakaran berskala luas di Kecamatan Damai. Saat membuka jalur pemadaman di tengah vegetasi paku-pakuan yang tebal, arah angin berubah dan membawa asap pekat langsung menuju posisi petugas. Erwin sempat mengalami pusing berat hingga hampir kehilangan kesadaran setelah menghirup asap secara langsung dan harus dievakuasi untuk mendapatkan bantuan oksigen medis.
Tantangan pemadaman tidak hanya berasal dari banyaknya titik api. Karakteristik lahan gambut menjadi persoalan tersendiri karena api dapat bertahan di bawah permukaan tanah.
"Untuk lahan gambut, penyiraman harus dilakukan sangat lama dan mendalam. Satu unit mobil tangki kapasitas 5.000 liter terkadang hanya cukup untuk menuntaskan area gambut seluas 8 meter persegi agar api di bawah permukaan benar-benar mati dan tidak menyala kembali saat tertiup angin," jelas Erwin.
Risiko Kesehatan
Risiko kesehatan yang membayangi para petugas turut disoroti oleh dokter spesialis paru Rumah Sakit Kanujoso Djatiwibowo Balikpapan, Mufidatun Hasanah. Ia mengingatkan bahwa personel yang berada langsung di lokasi kebakaran merupakan kelompok yang paling rentan mengalami gangguan kesehatan akibat paparan asap karhutla.
"Risiko pasti, karena dia terpapar asap karhutla. Pasti yang paling berisiko adalah saluran pernapasan," kata Mufidatun.
Menurutnya, paparan asap dapat memicu gangguan pernapasan hingga hipoksia, yaitu kondisi ketika tubuh kekurangan oksigen. Partikel PM2.5 yang berukuran sangat kecil dapat masuk hingga ke alveolus atau kantong udara di paru-paru.
Selain itu, asap karhutla juga mengandung gas berbahaya seperti karbon monoksida dan karbon dioksida yang mengganggu ketersediaan oksigen dalam darah dan memicu keluhan berupa sesak napas, pusing, nyeri dada, jantung berdebar, hingga pingsan.
Lihat postingan ini di Instagram
Mufidatun juga mengingatkan risiko paparan jangka panjang yang dapat meningkatkan kemungkinan terkena penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) dan kanker paru karena asap karhutla mengandung zat karsinogenik. "Partikel karhutla ini banyak asap, radikal bebas, gas beracun, karsinogen. Risikonya meningkat, tapi ini bukan satu-satunya faktor," ujarnya.
Ia menekankan pentingnya penggunaan alat pelindung diri yang memadai, karena masih ditemukan personel yang hanya menggunakan kain yang dililitkan untuk menutupi wajah. Personel pemadam semestinya menggunakan perlindungan pernapasan yang mampu menyaring partikel asap serta perlengkapan lain seperti helm dan kacamata. Untuk kondisi paparan tertentu, penggunaan self-contained breathing apparatus (SCBA) juga diperlukan.
"Makanya APD ini menjadi krusial bagi personel," tegasnya.
Mufidatun juga menyoroti pentingnya sistem rotasi agar personel tidak terlalu lama berada di lokasi dengan paparan asap tinggi, serta keberadaan petugas medis dan prosedur evakuasi sebagai bagian dari dukungan medis di lapangan. "Kalau ada penyakit napas jangan diberikan tugas memadamkan karena risikonya semakin tinggi, apalagi misalnya punya asma, alergi, partikel-partikel itu akan memengaruhi dan membuat asma semakin berat," katanya.
108 Titik Terbakar di Kubar
Risiko tersebut membayangi operasi pemadaman karhutla yang telah berlangsung sejak Juli 2026. Berdasarkan rekapitulasi BPBD Kutai Barat hingga 4 September 2026, kebakaran telah terjadi di 108 lokasi dengan total luas lahan terbakar mencapai 668,22 hektare.
Sejumlah wilayah mengalami kebakaran dengan luasan cukup besar, seperti Jengan Danum di Kecamatan Damai dengan luas 101,19 hektare, Muara Ohong di Kecamatan Jempang dengan estimasi 100 hektare, Pepas Eheng di Kecamatan Barong Tongkok seluas 88,48 hektare, dan Muara Nyahing di Kecamatan Damai seluas 74,51 hektare.
Kepala Pelaksana BPBD Kutai Barat, Yudianto Rihartono, mengatakan bahwa 50 personel internal dikerahkan di tengah luasnya wilayah dan jarak antarlokasi kebakaran yang berjauhan. "Berdasarkan rekapitulasi BPBD Kabupaten Kutai Barat sampai dengan 4 September 2026, tercatat kejadian karhutla di 108 lokasi atau tempat, dengan total luas lahan terbakar mencapai 668,22 hektare," kata Yudianto.
Yudianto menjelaskan bahwa BPBD membagi personel berdasarkan prioritas, terutama ketika sejumlah titik kebakaran muncul secara bersamaan. Operasi penanganan dilakukan secara terpadu dengan melibatkan TNI, Polri, pemerintah kecamatan dan kampung, Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP), Manggala Agni, perusahaan, relawan, serta masyarakat.
"Kalau melihat 108 lokasi kejadian dengan luas keseluruhan 668,22 hektare, ditambah luas wilayah Kutai Barat dan lokasi kebakaran yang berjauhan, tentu menjadi tantangan bagi kami," ujarnya.
BPBD juga melakukan pengaturan dan rotasi personel, memberikan waktu istirahat, serta memperhatikan kebutuhan makan dan minum selama operasi. "Kami tidak ingin anggota dipaksakan turun apabila kondisi fisiknya sudah tidak memungkinkan, karena keselamatan petugas tetap menjadi hal utama," katanya.
Yudianto memastikan kondisi fisik anggota terus dipantau dan personel yang mengalami keluhan kesehatan tidak dipaksakan kembali ke lapangan. Sejauh ini, BPBD belum menerima laporan adanya personel yang mengalami cedera serius, namun risiko kelelahan dan paparan asap tetap menjadi perhatian utama.
"Sejauh ini belum ada laporan personel BPBD yang mengalami cedera serius dalam pelaksanaan pemadaman karhutla. Namun, ada risiko kelelahan dan paparan asap yang tetap menjadi perhatian kami," katanya.
Terkait kemungkinan pemberian insentif khusus bagi personel, Yudianto mengatakan hal tersebut harus mengacu pada ketentuan dan ketersediaan anggaran daerah. Saat ini, BPBD memprioritaskan pemenuhan kebutuhan operasional personel selama penanganan karhutla.
"Kami tentu sangat menghargai kerja keras teman-teman yang hampir tiga bulan berada di lapangan. Mengenai kemungkinan pemberian insentif khusus, hal tersebut harus disesuaikan dengan regulasi dan mekanisme penganggaran yang berlaku," ujarnya.



