Langit Sangatta akhirnya menurunkan hujan setelah kemarau panjang, meski belum seluruh kota mendapat guyuran. Sejumlah kawasan basah oleh hujan lebat, sementara titik lain masih kering.
EKSPOSKALTIM, Sangatta — Hujan mengguyur sejumlah kawasan di Sangatta, Kutai Timur, Rabu (9/9), setelah pemerintah daerah bersama masyarakat menggelar Shalat Istisqa di halaman Kantor Bupati Kutai Timur.
Hujan dengan intensitas cukup deras dilaporkan antara turun di kawasan Jalan Yos Sudarso, Jalan Dayung, hingga Kelurahan Teluk Lingga. Namun, guyuran tersebut belum terjadi merata.
Di kawasan Bandara APT Pranoto, hujan hanya turun dalam intensitas ringan. Sementara kawasan Bukit Pelangi dilaporkan belum mendapat hujan.
Turunnya hujan ini disambut lega warga setelah Sangatta dan sejumlah wilayah Kutai Timur mengalami kemarau panjang yang turut meningkatkan kekhawatiran terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Jalan yang sebelumnya dipenuhi debu mulai basah. Tanah-tanah kering yang selama beberapa waktu kehilangan kelembapan kembali mendapat guyuran air.
Wakil Bupati Kutai Timur Mahyunadi mengatakan hujan yang turun setelah pelaksanaan Shalat Istisqa menjadi pengingat agar masyarakat tetap menjaga ikhtiar dan tidak terburu-buru menilai pelaksanaan doa bersama.
“Kami imbau masyarakat tidak mudah terpengaruh pandangan yang meragukan efektivitas doa bersama. Jangan sampai baru dua kali sudah dibilang doa tidak terkabul. Insya Allah doa kita terkabul,” kata Mahyunadi.
Hujan Tak Merata
Shalat Istisqa digelar atas inisiasi Kantor Kementerian Agama Kutai Timur. Ratusan peserta hadir, mulai dari unsur forum koordinasi pimpinan daerah, pemerintah daerah, pelajar, tokoh agama, hingga masyarakat.
Mahyunadi menyebut pelaksanaan Shalat Istisqa bukan sesuatu yang baru. Dalam kondisi kemarau panjang, doa meminta hujan dapat dilakukan berulang kali.
Karena itu, jika hujan belum turun secara merata di seluruh wilayah, pelaksanaan Shalat Istisqa masih dapat kembali dilakukan.
Namun, hujan yang mulai turun belum membuat ancaman karhutla di Kutai Timur berakhir.
Mahyunadi mengingatkan masyarakat agar tidak menurunkan kewaspadaan hanya karena sebagian wilayah telah diguyur hujan. Kondisi cuaca masih berbeda antarkawasan sehingga pencegahan kebakaran tetap diperlukan.
“Pengalaman kemarau panjang tahun 1997 dan 2015 menjadi pengingat bahwa musim kering dapat berlangsung hingga Desember. Oleh karena itu, pencegahan dan pengendalian risiko kebakaran tetap diperlukan secara berkelanjutan,” ujarnya.
Menurut dia, hujan yang turun di sejumlah kawasan memang menjadi kabar baik, tetapi belum cukup untuk menyatakan situasi telah sepenuhnya aman.
Kewaspadaan terhadap titik-titik rawan kebakaran, terutama di kawasan dengan vegetasi dan lahan yang masih kering, tetap perlu dipertahankan. Pemerintah juga mengimbau masyarakat tidak melakukan pembakaran lahan selama kondisi kemarau masih berlangsung.
Hujan kali ini setidaknya memberi jeda bagi sebagian wilayah Sangatta. Tetapi bagi Kutai Timur, musim kering belum tentu selesai hanya karena langit mulai kembali basah.



