EKSPOSKALTIM , Jakarta - Eksosistem data center di Indonesia semakin berkembang dan membutuhkan konsumsi energi yang besar.
Hingga saat ini, PT PLN (Persero) menyebut konsumsi energi 159 pelanggan pusat data (data center) yang dilayani PLN mencapai 2.378 gigawatt hour (GWh).
Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menyebut, meningkatnya kebutuhan listrik dalam ekosistem data center menunjukkan semakin pentingnya infrastruktur energi bagi pertumbuhan ekonomi digital.
“Pertumbuhan data center memerlukan dukungan kelistrikan dengan karakteristik yang semakin spesifik, terutama dari sisi kapasitas, gangguan, kualitas daya, hingga pemanfaatan energi bersih,” ujarnya, dalam keterangannya mengutip Antara, Minggu (27/9/2026).
Kondisi tersebut mendorong PLN untuk menyiapkan infrastruktur dan layanan yang selaras dengan kebutuhan serta rencana pengembangan pelanggan.
Darmawan menyampaikan PLN akan terus memperkuat ketenagalistrikan infrastruktur untuk mendukung pertumbuhan sektor pusat data di Indonesia, seiring dengan pesatnya perkembangan akal imitasi (AI) dan transformasi digital.
“PLN ingin pengembangan infrastruktur ketenagalistrikan dapat berjalan seiring dengan perkembangan sektor digital, dengan perencanaan yang dilakukan lebih awal agar kebutuhan energi dapat diantisipasi dan investasi dapat berkembang secara berkelanjutan,” ujar Darmawan.
Sementara itu, Executive Vice President Penjualan dan Pelayanan Pelanggan PLN Dini Sulistyawati menyampaikan bahwa PLN saat ini melayani 159 pelanggan data center dengan total kapasitas tersambung 2.038 megavolt ampere (MVA).
Sekitar 99 persen kapasitas tersebut masih ditampilkan di sistem kelistrikan Jawa-Madura-Bali, dengan Jawa Barat menjadi salah satu pusat data klaster terbesar.
Namun, pusat pengembangan data mulai merambah ke luar wilayah tersebut, termasuk Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi.
Seiring berkembangnya hal tersebut, kebutuhan pasokan listrik dari sektor teknologi diperkirakan terus meningkat, sehingga diperlukan perencanaan infrastruktur ketenagalistrikan yang selaras dengan karakteristik kebutuhan di masing-masing wilayah.
Saat ini, pusat data pelanggan mencatat konsumsi energi sebesar 2.378 gigawatt hour (GWh).
“Kami percaya ini permulaan baru. Kecerdasan buatan, cloud computing, layanan digital, serta pertumbuhan ekonomi digital Indonesia akan terus menciptakan kebutuhan listrik baru dalam skala yang sangat signifikan,” ujar Dini.
Dini menjelaskan tantangan terbesar PLN adalah menjaga keseimbangan antara peningkatan kapasitas pasokan dengan konsistensi, keterjangkauan harga, serta stabilitas sistem dalam jangka panjang.
Pengembangan pembangkit dan jaringan perlu direncanakan secara terintegrasi dan dilakukan sejak awal agar dapat mengantisipasi pertumbuhan kebutuhan data center.
Untuk itu, PLN mendorong pendekatan penyelarasan awal atau koordinasi sejak tahap awal pengembangannya.
“Komitmen lebih awal dan koordinasi lebih erat dari kedua belah pihak, didukung oleh proyeksi permintaan yang lebih jelas, jadwal energisasi yang realistis, kecepatan pengembangan kapasitas yang tepat, serta kerja sama yang lebih kuat antara PLN, pelanggan, dan pemerintah,” kata Dini. (Antara)

