PORTAL BERITA ONLINE NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE BERANI BEDA..!! MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

Sumur Gali Mengering, Petani di Balikpapan Timur Terpaksa Beli Air Tandon Demi Bertahan

Home Berita Sumur Gali Mengering, Pet ...

Sumur Gali Mengering, Petani di Balikpapan Timur Terpaksa Beli Air Tandon Demi Bertahan
lustrasi penjual sayur di pasar. Kemarau membuat hasil panen petani sayur di Balikpapan mengalami penurunan. (Foto: Eksposkaltim/Erik)

EKSPOSKALTIM, Balikpapan – Kemarau panjang yang melanda Kota Balikpapan selama hampir tiga bulan terakhir berdampak pada telak sektor pertanian lokal.

Produksi sayuran dan buah-buahan di kota ini anjlok hingga 60 persen dari kondisi normal.

Bahkan, sekitar 60 persen petani di wilayah Balikpapan Timur dilaporkan mengalami gagal panen akibat minimnya fasilitas pengairan.

Krisis ini menimpa sentra pertanian sayur di kawasan Manggar, Lamaru, hingga Teritip. Total luas areal lahan pertanian yang terdampak kekeringan diperkirakan mencapai 30 hektare.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) Kota Balikpapan, Sri Wahjuningsih, membenarkan adanya penurunan drastis tersebut.

Menurutnya, sektor pertanian di Balikpapan selama ini memang sangat bergantung pada curah hujan sebagai sumber air utama.

“Penurunan produksi mencapai sekitar 60 persen dari kondisi normal akibat dampak kemarau panjang,” ujar Sri Wahjuningsih.

Merosotnya hasil panen ini mulai memicu munculnya harga di sejumlah pasar tradisional. Stok pangan lokal yang sangat terbatas tidak lagi mampu memenuhi tingginya permintaan masyarakat.

Petani Kesulitan Air dan Andalkan Tandon

Ketua Kelompok Tani Gema Tani Etam, Sugeng Wahyudi, menjelaskan bahwa komoditas sayur mayur berumur pendek seperti bayam, kangkung, sawi, gambas, dan timun membutuhkan intensitas penyiraman yang rutin, idealnya setiap 3 hingga 5 hari sekali.

“Petani di Balikpapan Timur kesulitan air karena tidak memiliki sumur bor. Sumber air kami biasanya dari sumur gali biasa, tapi sekarang sudah kering total akibat kemarau selama hampir tiga bulan ini,” ungkap Wahyu, Senin (28/9/2026).

Wahyu menambahkan, seluruh petani yang tergabung dalam kelompoknya—total 25 orang—terdampak kekeringan ini hingga menyebabkan penurunan tajam. Beberapa petani bahkan memilih berhenti menanam sementara waktu.

Bagi petani yang nekat bertahan, mereka terpaksa merogoh kocek lebih dalam untuk membeli tandon air berkapasitas 1.000 liter seharga Rp200.000.

Namun, langkah ini dinilai tidak efektif karena membengkaknya biaya operasional tidak sebanding dengan harga jual sayuran di pasaran. Sebagai gambaran, harga jual timun saat ini hanya berkisar Rp10.000 per kilogram.

"Kalau dipaksakan membeli air tandon, hasilnya tidak sebanding. Modal kami habis hanya untuk biaya pengairan saja," jelasnya.

Untuk mencegah ketergantungan pasokan sayur hijau dari luar daerah, Wahyu berharap Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan maupun Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur segera menyalurkan bantuan infrastruktur pengairan, khususnya pembuatan sumur bor.

“Kami sangat berharap ada perhatian dan bantuan pengairan dari pemerintah kota atau provinsi. Kami juga sempat mengajukan bantuan CSR ke BUMN, tapi sampai saat ini belum ada respon,” tutur Wahyu.

Rencana Sumur Bor Darurat

Menangapi krisis tersebut, Sri Wahjuningsih menilai pengerahan pasokan air bersih dari PDAM untuk sektor pertanian tidak memungkinkan. Sebab, penyediaan kebutuhan air bersih bagi warga kota tetap menjadi prioritas utama.

Sebagai langkah solutif dan mendesak, DKP3 telah mengajukan usulan kepada Wali Kota Balikpapan untuk segera membangun sumur bor di beberapa titik potensial.

“Kami juga mengusulkan pendistribusian udara kepada kelompok tani yang memiliki embung dan tempat penampungan udara,” ujar wanita yang akrab disapa Yuyun tersebut.

Ia menegaskan, rencana penanganan krisis udara ini akan direalisasikan dalam waktu dekat tanpa harus menunggu pengalokasian anggaran tahun depan.

Untuk menjaga kestabilan pasokan dalam jangka pendek, DKP3 mengandalkan pasokan pangan dari daerah lain yang memiliki potensi udara yang memadai, khususnya untuk komoditas bahan pokok penting.

“Komoditas buah, sayuran, dan beras saat ini datangkan dari luar daerah karena produksi lokal tidak mampu memenuhi kebutuhan warga,” tambah Yuyun.

Meski demikian, ia memastikan kerja sama antardaerah penghasil tetap berjalan dengan baik berkat peran aktif distributor pangan. Dengan begitu, ketersediaan buah dan sayur di pasar tradisional hingga swalayan tetap terjaga.

Selain itu, DKP3 juga rutin menggelar Gerakan Pangan Murah (GPM) sebanyak tiga kali sepekan guna menjaga keterjangkauan harga di tingkat konsumen.


Editor : Maulana

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%0%0%0%
Sebelumnya :