PORTAL BERITA ONLINE NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE BERANI BEDA..!! MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

Terulang Sejak 2010, Ratusan Petak Keramba Pesisir Bontang Dihantam Kematian Ikan Massal

Home Berita Terulang Sejak 2010, Ratu ...

Hanya sisa 20 persen ikan yang bertahan, pembudidaya keramba di pesisir Bontang merugi hingga ratusan juta rupiah. Kematian ikan massal meluas dari Gusung, Selambai, hingga Tanjung Limau.


Terulang Sejak 2010, Ratusan Petak Keramba Pesisir Bontang Dihantam Kematian Ikan Massal
Ikan di keramba di sejumlah pesisir Bontang mengalami mati massal. Foto: Istimewa

EKSPOSKALTIM, Bontang - Musibah kematian ikan secara massal menghantam sejumlah pembudidaya keramba di pesisir Bontang.

Sejak Selasa (27/10/2026), ikan di kawasan Gusung, Selambai hingga Tanjung Limau mulai ditemukan mati. Kondisinya semakin memburuk hingga Kamis (5/11/2026).

Dampak kejadian tersebut dirasakan langsung para pemilik keramba. Ismail, salah seorang pembudidaya, mengungkapkan hampir seluruh ikan yang dipeliharanya tidak mampu bertahan.

"Bukan di dalam keramba aja, kematian ikan juga ada di luar area keramba saya," katanya, Jumat (6/11/2026).

Ia memperkirakan hanya sebagian kecil ikan yang masih bisa diselamatkan. Dari total ikan yang dirinua budidayakan, tidak lebih dari 20 persen yang bisa bertahan.

“Kalau dihitung, kerugian yang saya alami bisa mencapai ratusan juta rupiah. Sebagian besar ikan sudah mati, sehingga modal dan hasil budidaya ikut hilang,” keluhnya.

Baca juga: Limbah Cemari Laut Bontang, Perusahaan Enggan Ganti Rugi Nelayan

Menurut pengamatannya, fenomena tersebut sejauh ini terkonsentrasi di perairan Gusung Selambai dan Tanjung Limau.

Namun, berbeda dengan kawasan Keramba Jaring Apung (KJA) Bontang Kuala, keramba replikasi koperasi di wilayah tersebut dilaporkan masih aman dari kematian ikan.

Adapun keramba yang terdampak meliputi sekitar 80 petak milik koperasi dan 12 petak keramba aspirasi.

Sedangkan, jumlah keseluruhan keramba aktif di kawasan Gusung, Tanjung Limau hingga Selambai diperkirakan mencapai 200 petak.

Ismail menyebut kejadian serupa pernah dialami pembudidaya sekitar 2010 silam. Namun, kondisi yang terjadi kali ini dinilai jauh lebih mengkhawatirkan karena jumlah ikan yang mati cukup besar dan berlangsung selama beberapa hari.

“Sepanjang yang saya ingat, ini sudah kedua kalinya terjadi setelah 2010. Tetapi yang sekarang dampaknya lebih berat karena ikan yang mati sangat banyak,” tuturnya.

Hingga Jumat (6/11/2026), penyebab pasti kematian ikan belum dapat dipastikan. Para pembudidaya telah menyampaikan laporan kepada Dinas Ketahanan Pangan, Perikanan, dan Pertanian (DKP3) Bontang agar dilakukan pemeriksaan terhadap kondisi perairan.

Pengambilan sampel air pun telah dilakukan untuk mengetahui kemungkinan faktor yang memicu kematian ikan secara serentak tersebut.

Kepala DKP3 Kota Bontang, Ahmad Aznem, membenarkan pihaknya telah mengambil sampel air dari lokasi terdampak. Namun, hasil pemeriksaan belum diterima.

“Sampel air sudah kami ambil. Jika hasil pemeriksaannya sudah keluar, nanti akan kami informasikan,” jelasnya.


Editor : Maulana

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%0%0%0%
Sebelumnya :
Berikutnya :