EKSPOSKALTIM, Bontang- Imbas kenaikan tarif air yang tidak diikuti perbaikan kualitas sangat dirasakan dampaknya bagi kalangan pengusaha kecil.
Anita Hajrah, pemilik salah satu usaha laundry di Kelurahan Satimpo, Bontang Selatan misalnya. Usaha cuci baju miliknya kerap merugi lantaran pelanggan kecewa karena pakaian rusak dan menguning akibat warna kuning dari air PDAM yang melekat di pakaian.
“Biasa kalau baju warna putih yang paling rentan menguning. Kalau sudah begitu kami harus bertanggungjawab, kadang kami gratiskan atau menurunkan setengah harga. Jadi berpengaruh dengan pendapatan usaha kami,” paparnya saat ditemui di Jalan HM Ardans, Jumat (5/5) sore.
Ia memahami jika harus ada penyesuaian tarif untuk memenuhi kebutuhan operasional PDAM yang juga tinggi. Akan tetapi, alasan itu harus sesuai dengan pelayanan kepada masyarakat dan kualitas air yang disuplai.
“Tidak masalah jika tarif air naik, tetapi dibarengi dengan kualitas air yang juga bagus. Tapi air yang selama ini kita pakai, kuning, berbau kaporit, dan terkadang ada kotorannya,” kata dia.
Meskipun tarif air PDAM saat ini naik, dirinya tidak berencana menaikkan harga jasa usahanya. Setelah kenaikan tarif air, katanya, ia harus membayar tagihan hampir mencapai dua kali lipat dibanding tagihan sebelumnya sekitar Rp 375 ribu.
“Sekarang tagihan PDAM saya sekitar Rp 600 ribu,” terang Anita.
Keluhan sama juga diutarakan M Zaini, salah satu pemilik usaha pencucian motor di Kelurahan Bontang Baru, Bontang Utara. Ia mengatakan dengan naiknya tarif PDAM dirasakan tidak sesuai dengan pelayanan yang diberikan.
Ia mengaku untuk mendapatkan air PDAM, harus menggunakan mesin pompa agar mengalir sampai di penampungan.
“Kalau tidak pakai bantuan pompa, tidak dapat air. Meskipun jadwalnya air ngalir tetap ndak ngangkat airnya kalau tidak pakai pompa. Padahal di sini termasuk daerah yang rendah. Ini kan jadi permasalahan lagi. PDAM harus tahu itu,” ujarnya.
Kondisi tersebut ia rasakan sejak menjalankan usaha tiga tahun lalu dan sampai saat ini belum ada perubahan. Ia mengeluhkan kebijakan menaikkan harga dasar air bersih ini.
“Di sini saja kondisi air PDAM tidak jelas. Kalau tidak disiasati (menggunakan pompa, Red) mungkin tidak jalan usaha kami. Kondisi seperti ini malah mau dinaikkan tarifnya, begini kan aneh?,” tegas Zaini.
Saat ditanya pembayaran, ia merasakan perbedaan sampai dua kali lipat pasca kenaikan tarif April lalu. Tagihan air bulan ini sebesar Rp 460 ribu. Sedangkan sebelum kebijakan berubah, tambahnya, ia hanya membayar rata-rata Rp 240 ribu per bulannya.
“Kalau yang bulan sekarang belum saya bayar karena tinggi sekali (tagihannya,Red). Belum ada uangnya, karena harus nunggu uang mutar dari usaha cuci motor,” jelasnya.
Menurut Zaini, putaran rupiah dari usaha cuci motor dirasa tidak sesuai dengan biaya yang harus dikeluarkan untuk membayar tagihan air. Pasalnya, dalam sehari ia hanya mencuci sekitar 5-6 motor. Sedangkan per motor ia patok tarif sebesar Rp 15 ribu sesuai harga standar di pencucian lain.
“Tiap hari hanya 5 kalau nggak 6 motor, kalau dalam sebulan hanya mendapatkan sekitar Rp 300 ribu. Sedangkan tagihan air sampai Rp 400 ribu bahkan lebih, belum lagi kebutuhan pribadi dan keluarga, kalau tidak cari tambahan tidak bakal nutup,” tutupnya.

