EKSPOSKALTIM, Bontang – Gerakan penolakan kenaikan tarif air Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) terus berlanjut. Ratusan mahasiswa yang bernaung di sejumlah organisasi luar kampus yang menolak kenaikan tarif air hanya ditunda untuk sementara waktu, membentuk aliansi Mahasiswa Peduli Rakyat (MPR).
Mereka yang tergabung dalam MPR, diantaranya Forum Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Kota Bontang, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Himpunan Mahasiswa Bontang (HMB) Cabang Bontang, dan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Bontang.
MPR sendiri terbentuk sejak tuntutan penolakan kenaikan tarif air kepada pemerintah dan DPRD Bontang menemui jalan buntu pada 9 Mei lalu. Zuhaji selaku Ketua Himpunan Mahasiswa Bontang (HMB) mengatakan aksi unjuk rasa penolakan kenaikan tarif air jilid II pada Senin (15/5) mendatang akan tetap digelar.
“Aksi demo jilid II tetap kami lanjutkan, aksi ini bukan atas nama Aliansi Masyarakat Bontang Menggugat (AMBM) lagi,” jelas Zuhaji.
Kata Zuhaji, tuntutan akan tetap sama yakni penolakan kenaikan tarif PDAM. “Kami sejak awal tegas menolak kenaikan tarif air. Bukan juga penundaan,“ jelas Zuhaji didampingi sejumlah mahasiswa perwakilan organisasi saat bertandang ke Kantor Ekspos Kaltim, Jalan HM Ardans Bontang Selatan, Jumat (12/5) malam.
Sementara itu, Sadly Jaya Muhammadiah dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Bontang menambahkan, aksi lanjutan yang akan digelar ini murni keinginan mahasiswa tanpa ada intervensi dari pihak manapun.
"Aksi ini murni pergerakan mahasiswa sendiri. Kalaupun ada yang ingin melakukan aksi dari pihak lain, silahkan bentuk barisan sendiri, mahasiswa tidak ingin dikatakan sebagai tumpangan untuk melakukan aksi dari kalangan mana pun," tegasnya.
Aksi yang rencananya dilaksanakan Senin 15 Mei mendatang akan menggalang 1.000 tanda tangan sebagai petisi penolakan. Aksi akan dipusatkan di dua titik. Pertama, di simpang tiga Plaza Taman Ramayana dan di Kantor DPRD Bontang.
Mahasiswa akan meminta Pemkot Bontang untuk mencabut Surat Keputusan (SK) Nomor 176 Tahun 2017. “Kami tetap turun untuk melakukan aksi. Kami berpikir bagaimana cara agar tuntutan awal dapat tersampaikan ke pemerintah dan dikabulkan,” cetusnya.
Saat ini para mahasiswa juga terus menunggu dukungan dan peran dari masyarakat lainnya. Namun, sekalipun masyarakat hanya mendukung melalui tanda tangan, aksi tetap berjalan demi membela kepentingan masyarakat.
“Jangan sampai masyarakat menilai bahwa mahasiswa hanya ikut-ikutan saja, ini murni kita lakukan atas kemauan sendiri,” ujar Zuhaji.
Zuhaji mengaku, keikutsertaan mahasiswa dalam aksi beberapa waktu lalu memegang kesepakatan awal bahwa penolakan kenaikan tarif adalah harga mati. Namun, di tengah perjalanan ada perubahan kesepakatan.
“Kami tetap mengacu pada tuntutan yang disepakati bersama di AMBM. Sesuatu hal terjadi di luar dugaan, bahwa ada namanya lobi-lobi atau negosiasi. Kami sebagai mahasiswa jika sudah keluar dari tuntutan awal kami tetap menarik diri,” tuturnya.
Kebijakan pemerintah menaikkan tarif air menurutnya sama sekali tidak rasional. Meski kondisi keuangan Kota Bontang saat ini cukup memperihatinkan. “Ketika pemerintah kesulitan dalam keuangan, lalu apakah yang diutamakan pemerintahnya, sementara rakyatnya lebih tercekik,” ucapnya.

