EKSPOSKALTIM, Bontang- Atlet sepak takraw Kota Taman mempertanyakan kerja pengurus Persatuan Sepak Takraw Indonesi (PTSI) Kota Bontang. Sejak 2015 lalu pengurus dipandang tidak menjalankan amanah yang diberikan.
Salah satu atlet, Herman, mengatakan sejauh ini tidak pernah mengetahui ada kegiatan yang digelar PSTI. “Tidak tahu lah harus bilang apa, yang jelas kegiatan yang dilaksanakan PSTI tidak ada lagi. Padahal setahu saya anggaran cabor selalu dikucurkan KONI,” ujarnya, Rabu (24/5).
Senada, kekecewaan pun dirasakan Mawan sebagai atlet yang sudah mempersembahkan sejumlah prestasi. Mawan menilai atlet seperti ditelantarkan dan tidak diperhatikan oleh pengurus.
“Baik itu perlengkapan latihan, seperti bola, net, dan kostum juga sudah tidak lagi. Apalagi menggelar kompetisi seperti tahun-tahun sebelumnya,” kata Mawan.
Kompetisi menurutnya sangat penting sebagai ajang motivasi dan mengukur kemampuan atlet. Lanjut Mawan, kalau seperti ini, tempat mengadu para atlet untuk meminta perhatian buntu. “Kalau tanya KONI, disuruh tanya PSTI,” keluhnya.
Menanggapi itu, Ketua PSTI Bontang Basaruddin buka suara. Menurutnya, kegelisahan para atlet bermula santer kabar bahwa anggaran PSTI tahun 2016 lalu sudah dicairkan KONI Bontang.
Akan tetapi, kabar baik ini tidak diikuti dengan pemenuhan perlengkapan latihan. Terlebih, agenda kompetisi se-Kota Bontang yang sudah diberitakan di media tak kunjung terlaksana.
“Miskomunikasi ini terjadi sejak saya pindah tugas ke Polsek Muara Badak. Kepengurusan yang saat itu sedang menunggu pencairan dana dari KONI, saya percayakan kepada bendahara,” terang, Kasi Humas Polsek Muara Badak itu.
Keganjilan semakin terasa saat beredar kabar bahwa laporan pertanggungjawaban kegiatan PSTI di tahun 2016 sudah diterima KONI. Sementara menurut Basaruddin, tahun lalu PSTI sama sekali tidak menggelar kegiatan.
“Informasinya juga ada tanda terima pencairan dana anggaran 2016 sebesar Rp 50 juta. Padahal saya sama sekali tidak pernah menandatangani kegiatan atau apapun di tahun 2016 lalu. Laporan kegiatan pun tidak ada karena memang tidak ada kegiatan,” terangnya.
Tak hanya itu, kegiatan Gala Desa garapan Kemenpora RI yang juga mempertandingkan sepak takraw sebagai salah satu cabor pada 15 Mei hingga September nanti, juga tanpa sepengetahuan Basaruddin sebagai ketua PSTI.
Padahal, kata dia, perhelatan yang bekerja sama dengan pengurus pusat akan melibatkan langsung seluruh pengurus PSTI Bontang.
“Gala Desa pun saya tidak diinformasikan, tahu-tahu struktur kepanitiannya sudah terbentuk. Saya juga sudah mencoba berkoordinasi dengan KONI untuk mempertanyakan anggaran 2016 dan Gala Desa ini. Namun masih menemui jalan buntu. Telepon saya tidak diangkat,” ujarnya.
Edi Sam, sekretaris PSTI Bontang saat ditemui beberapa waktu lalu juga tidak tahu-menahu perihal anggaran. Bahkan, ia mengatakan tak pernah mengetahui adanya laporan yang sudah diserahkan ke pihak KONI Bontang sebagai bukti hasil kegiatan yang sudah berlangsung.
“Saya tidak pernah mengetahui kalau sudah ada LPJ 2016 diserahkan ke KONI dengan anggaran 50 juta itu. Karena setahu saya selama ini tidak ada kegiatan dan saya pun tidak pernah menandatangani berkas apapun baik itu kegiatan dan laporan kegiatan,” pungkasnya.

