SELEPAS siang hari tadi, udara lembab menyelimuti lingkungan Pondok Pesantren Hidayatullah yang memang masih teduh karena rindangnya pepohonan di sana. Matahari masih belum juga muncul.
Di rumah sederhana bercat hijau, Rifa’i Al Mujahidin Al Haq, mahasiswa Universitas Al-Azhar Universitas Kairo, Mesir itu dibesarkan. Rumahnya tepat berada di ujung lorong.
Untuk menelusuri tempat tinggalnya, media ini mengunjungi ponpes yang terletak di Jalan Imam Bonjol RT 4 Kelurahan Api-Api Kecamatan Bontang Utara sekitar pukul 2 siang. Ustaz Udin salah seorang pengurus ponpes yang sedang berada tak jauh dari Masjid Ar Riyadh yang menemani.
“Oh ya benar kami sudah dengar kabar (pemulangan Rifai). Kebetulan ibunya tinggal di sini,” ujar lelaki yang berpakaian koko muslim itu seraya menunjuk sebuah lorong yang tepat berada di samping gedung sekolah.
Rahmad, Ketua RT 4 mengatakan dirinya mengenal keseharian Rifa'i sebagai sosok muda intelek dan mempunyai keahlian dalam menyiarkan agama Islam. “Dia ini terkenal memiliki suara yang merdu dan pintar mengaji. Saya kenal dia sebagai mubaligh, karena kesehariannya pintar berdakwah,” jelas dia.
Rifa'i, kata Racmad, dalam kesehariannya cukup supel dalam bergaul. “Anaknya itu humoris, periang dan tidak tertutup dalam pergaulan, kelahiran tahun 1993 kalau tidak salah, ya pembawaannya seperti anak muda pada umumnya,” jelas dia.
Sebelumnya, Rifai bersama tiga mahasiswa asal Indonesia lainnya, yakni Adi Kurniawan, Achmad Affandy Abdul Muis dan Mufqi Al Banna ditahan oleh pihak keamanan Mesir. Musababnya, ia dituduh berguru pada suatu kelompok yang berhaluan garis keras. Dari keterangan resmi Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Kairo, Rifai tercatat sebagai mahasiswa asal Balikpapan.
Namun fakta agaknya lain. Seperti yang diungkapkan oleh Ketua RT 4, Rifa'i lahir dan besar di Bontang, tepatnya di lingkungan ponpes. “Sudah dari lahir di sini. Bapak dan ibunya menikah di Balikpapan lalu pindah ke Samarinda sebelum ke Bontang,” kata Rahmad ditemui di kediamannya.
Di Bontang, medio 2 Oktober 2016 silam, Rifai juga sempat melangsungkan pesta pernikahan. Rahmad membenarkan. "Ia benar kemarin sempat acara di sini,” jelas dia.
Masih dalam rilis milik KBRI Kairo, dikatakan para mahasiswa itu ditahan pada pertengahan Juni di Kepolisian Sektor Aga Provinsi El Dakahlia. Kota ini terletak sekitar 15 kilometer dari Kota Mansourah. Hal itu sesuai dengan informasi yang diperoleh ketua RT.
"Soal penahanannya kami memang dengar pada akhir Ramadan lalu. Karena pada saat itu Rifai ini mau isi talk show di (masjid) Baiturrahman, gak jadi karena ada penangkapan itu," jelas Rahmad.
Jumardi, Panitia Penyelenggara Dauroh Alquran Ramadan 1438 Masjid Baiturrahman Bontang membenarkan jika hajatan yang telah digelar rutin sejak dua tahun belakangan ditunda untuk sementara waktu.
“H-2 atau pada 15 Juni lalu kami masih berkomunikasi dengan Rifa'i, alhamdulilah dia sehat, beliau mengatakan jika berhalangan hadir untuk waktu itu. Namun beliau berjanji akan mengajarkan dauroh Alquran yang bersandar pada kitab Matam Al Jazariyah setiba di Indonesia," jelas dia.
Baca Juga: Rifa'i Mujahidin Al-Haq, Mahasiswa Kaltim yang Ditahan di Mesir Merupakan Sosok Cerdas
Untuk diketahui, Dauroh Alquran sendiri adalah program yang ditargetkan menghasilkan penghafal Alquran. Persiapan untuk menggelar acara itu, kata Jumardi, telah dilakukan sejak sebulan lalu, dengan sistem infak, dan estimasi peserta 30 orang yang datang.
"Saya sendiri belum bertatap muka dengan Rifa'i. Namun karena sejak jauh hari kami sampaikan pembatalan acara, alhamdulillah para peserta yang sebelumnya bersedia hadir mengerti, acara itu target kami 150 peserta," jelasnya.
Tak ada yang menonjol di kediaman bernomor 32 itu. Sebelum menikah, kata Ustaz Udin, Rifai tinggal bersama Suwarni, ibundanya. ”Setahu saya sudah setahun belakangan ini,” jelas dia.
Rifa'i sendiri sejak 3 tahun belakangan merantau untuk menimba ilmu di Mesir. Di negeri yang pernah ditaklukan oleh Salahuddin Ayubbi alias Saladin, seorang pejuang muslim itu, kata Ibundanya, Rifai mengejar liseni (LC) setara S1 di bidang tafsir Alquran.
“Saya terakhir bertemu dengan dia tiga bulan lalu, setiap tahun dia memang punya cuti 3 bulan. Biasa setiap Ramadan pasti dia pulang,” jelas Suwarni.
Duta Besar RI untuk Republik Arab Mesir Helmy Fauzi sebelumnya memastikan empat mahasiswa Indonesia pulang ke Indonesia kemarin, Sabtu (8/7) dan dijadwalkan tiba pagi ini.
Raut wajah cemas tergambar jelas di wajah Suwarni. Bagaimana tidak, sampai sekarang, ibunda Rifai itu belum mengetahui keberadaan putranya tersebut. Pun demikian dengan dugaan keterlibatan anaknya dalam aktivitas kelompok radikal.
Meski demikian, ditemani dua orang cucunya yang masih balita, ia ramah melayani wawancara singkat dengan awak media ini. “Mohon dimengerti keadaan kita. Sampai sekarang saya belum tahu di mana keberadaannya. Terakhir dia sempat pulang sekitar 3 bulan lalu. Saat itu dia mengatakan sudah semester 7,” cemas perempuan yang mengenakan kerudung merah itu.
“Maaf dik, saya belum bisa beri keterangan apa-apa. Di rumah memang tidak ada televisi, ataupun radio. Saya juga baru dengar soal pemulangannya dari tetangga lewat pemberitaan dari berita online,” jelas dia.

