PORTAL BERITA ONLINE NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE BERANI BEDA..!! MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

Belum Tersentuh Bantuan, Korban Banjir di Kubar Dihantui Teror Kobra

Home Berita Belum Tersentuh Bantuan, ...

Luapan Sungai Mahakam yang merendam Kutai Barat hingga hari keempat belum diikuti distribusi bantuan ke sejumlah titik, termasuk Long Iram, sementara warga bertahan di tengah genangan hingga 2,5 meter dan ancaman satwa liar yang mulai masuk permukiman. 


Belum Tersentuh Bantuan, Korban Banjir di Kubar Dihantui Teror Kobra
Potret banjir di Kecamatan Long Iram, Kabupaten Kutai Barat, Kamis (21/5/2026). (Foto : Istimewa)

EKSPOSKALTIM, Kutai Barat - Bencana banjir akibat luapan Sungai Mahakam yang merendam enam kecamatan di Kabupaten Kutai Barat (Kubar), Kalimantan Timur, belum menunjukkan tanda-tanda akan surut.

Memasuki hari keempat, Kamis (21/5/2026), pasokan bantuan logistik bahan makanan dilaporkan belum menyentuh sejumlah kawasan terdampak, salah satunya di Kecamatan Long Iram.

Akibat keterbatasan armada perahu pasca-lumpuhnya akses transportasi darat, warga yang terdesak kebutuhan logistik harian seperti beras, telur, dan mi instan, terpaksa berjalan kaki menerobos kepungan banjir sedalam dada orang dewasa.

Arbian Saputra, salah seorang warga RT 05 Kecamatan Long Iram, membeberkan bahwa hingga hari keempat, uluran bantuan pangan dari pemerintah daerah belum menjangkau lingkungannya.

"Setahu saya, di lingkungan RT 05 belum ada bantuan sama sekali yang masuk. Kami sangat berharap ada distribusi logistik darurat secepatnya, terutama untuk bahan makanan pokok seperti beras," ungkap pria yang akrab disapa Arbi ini, Kamis (21/5/2026).

Kampung Anah Terendam 2,5 Meter, Ternak Diungsikan

Arbi menerangkan walau ketinggian air di pusat kawasan Long Iram Kota berada pada level 1 hingga 1,5 meter, kondisi jauh lebih ekstrem menerjang wilayah pinggiran. Di Kampung Anah, misalnya, permukaan air dilaporkan merangkak naik hingga menyentuh 2,5 meter dan menenggelamkan mayoritas rumah warga.

Skenario darurat pun mulai dijalankan secara mandiri oleh masyarakat. Kendaraan bermotor serta binatang ternak sudah dievakuasi secara massal ke kawasan dataran tinggi, salah satunya di daerah Sukomulyo.

Untuk bertahan hidup, sebagian besar warga memilih menetap di dalam rumah dengan cara membangun panggung kayu tambahan (bale-bale) atau mengungsi ke lantai dua. Namun, bagi warga yang rumahnya terendam total, mereka mulai bergeser ke rumah kerabat atau bersiap menuju posko pengungsian.

"Saya sendiri sudah mulai mengemasi barang-barang berharga sebagai langkah antisipasi. Jika debit air kembali naik, saya akan langsung mengungsi ke posko darurat yang sudah disiapkan di Puskesmas," imbuh Arbi.

Dihantui Ancaman Ular Kobra

Selain harus bertahan di tengah keterbatasan pangan dan ruang gerak, warga Long Iram kini dihantui oleh ancaman keselamatan baru. Banjir besar ini memaksa satwa liar keluar dari sarangnya di dalam hutan yang berbatasan langsung dengan pemukiman warga.

"Ketakutan terbesar kami saat ini, selain masalah makanan, adalah kemunculan ular kobra. Karena pemukiman kami berdekatan dengan hutan, ular-ular tersebut sering muncul ke permukaan sejak banjir meninggi," keluhnya.

Menurut catatan warga setempat, banjir akibat siklus luapan Sungai Mahakam memang merupakan fenomena musiman yang kerap melanda Kutai Barat, termasuk yang sempat merendam kawasan tersebut pada April lalu. Kendati demikian, hantaman banjir hidrometeorologi kali ini diakui sebagai yang tertinggi sepanjang 2026.


Editor : Maulana

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%0%0%0%
Sebelumnya :
Berikutnya :